Fitur

4 Pelajaran Besar Dari ONE: MASTERS OF DESTINY

18 Juli 2019

Ajang ONE: MASTERS OF DESTINY membawa para penikmat olahraga bela diri melewati malam yang dipenuhi hasil tak terduga pada hari Jumat, 12 Juli.

Para fans yang berkumpul di Axiata Arena nyaris tidak punya waktu untuk mengatur napas ketika menyaksikan 15 pertandingan dalam disiplin Muay Thai, kickboxing dan seni bela diri campuran, atau mixed martial arts (MMA).

Saat itu, para pahlawan ONE Championship mampu memenuhi harapan para penggemar, dimana beberapa bahkan mengejutkan penonton tuan rumah dan mereka yang menonton di seluruh dunia melalui penampilan yang luar biasa.

Berikut adalah empat pelajaran besar yang kita pelajari dari aksi di Kuala Lumpur, Malaysia.

#1 Featherweight Kickboxing World Grand Prix Terbuka Lebar

Pada saat turnamen ONE Featherweight World Grand Prix pertama kali diumumkan, Giorgio “The Doctor” Petrosyan dan “The Boxing Computer” Yodsanklai IWE Fairtex menjadi atlet yang difavoritkan untuk meraih hadiah utama sebesar satu juta dolar Amerika Serikat.

Tetapi, setelah babak pertama usai, segalanya berubah.

Yodsanklai harus mengakui keunggulan Samy “AK47” Sana dan Petrosyan tidak mampu memenuhi harapan banyak orang, bahkan setelah melewati dua pertandingan melawan Petchmorakot Petchyindee Academy.

Tetapi ini tidak berarti atlet asal Italia ini tampil buruk demi mengalahkan pemegang beberapa kali Juara Dunia Muay Thai di ONE: MASTERS OF DESTINY. Dua kali Juara Dunia K-1 MAX ini sangat agresif dan secara teknis tampil sangat baik seperti biasanya, seperti saat ia meraih kemenangan mutlak melawan salah satu striker paling berbahaya di muka bumi ini.

Namun, Petchmorakot mampu memaksanya bertanding selama tiga ronde, dimana hal ini akan membuat kompetitor lainnya – termasuk lawannya di semifinal, “Smokin” Jo Nattawut – berpikir bahwa mungkin saja ia tidak sepenuhnya tak terkalahkan seperti beberapa bulan lalu.

#2 Teknik BJJ Michelle Nicolini Mendominasi Atlet Elit

Sebelum berhadapan melawan “Unstoppable” Angela Lee, atlet kelahiran Brasil Michelle Nicolini terlebih dahulu menjuarai beberapa pertandingan bela diri campuran, tetapi ia belum meraih kemenangan besar seperti lawannya.

Beberapa pihak bahkan meragukan dirinya, menanyakan apakah serangan atasnya cukup baik untuk menyulitkan seorang atlet wanita divisi strawweight terbaik saat ia baru saja bertanding dalam disiplin ini. Tetapi, penampilannya di Kuala Lumpur membuktikan teknik grappling miliknya mampu mengalahkan seorang superstar.

Michelle menghadapi ujian terberatnya di kancah dunia melawan seorang Juara Dunia ONE Women’s Atomweight, dimana ia lulus dengan peringkat atas.

Atlet andalan Singapura ini boleh saja untuk menendang, memukul dan menyerang saat ia berada di atas kanvas, tetapi Angela tidak mampu meyerang secara efektif ketika Michelle mengambil kendali dengan permainan bawahnya yang fenomenal untuk menyapu bersih penilaian juri.

#3 Seniman Bela Diri Malaysia Memberi Penampilan Terbaik

Tiga pahlawan tuan rumah mampu membakar semangat pendukung mereka dengan keahlian mereka, ditambah dengan kebesaran hati dan determinasi tinggi.

Di bagian puncak kartu pertandingan utama, Ev “E.T.” Ting harus menghadapi badai serangan dari Daichi Abe, tetapi ia tidak gentar di bawah tekanan dan membuat para pendukungnya bersorak menggemparkan Axiata Arena saat ia mencetak submission pada ronde kedua.

Keadaan malam itu juga nampak menakutkan bagi Jihin “Shadow Cat” Radzuan. Atlet berusia 20 tahun ini terlihat menyulitkan Jomary Torres, tetapi lawannya dari Filipina itu mampu mengangkat dirinya, dan membantingnya – dimana hal ini terbukti fatal bagi banyak atlet sebelumnya.

Meskipun mengalami hal tersebut, Jihin bertahan dan menyelesaikan permainannya pada ronde pertama dengan sebuah kuncian triangle choke yang membuat Kuala Lumpur meledak.

Terakhir, Mohammed “Jordan Boy” Bin Mahmoud sadar bahwa ia sedang berperang habis-habisan melawan Saiful “The Vampire” Merican dalam pertarungan ONE Super Series Muay Thai divisi bantamweight.

Tetapi, atlet yang sedang naik daun ini tidak mundur sedikitpun. Ia menghadapi sang veteran selama tiga ronde, sebelum mencetak kemenangan.

#4 Atlet ONE Harus Waspada Menghadapi Anggota Baru Evolve

Troy “Pretty Boy” Worthen dan Aleksi “The Giant” Toivonen bergabung dengan Evolve setelah menarik perhatian para pelatih dalam seleksi global dari tim elit Singapura ini dan –  dengan cara yang berbeda –  membuktikan alasannya dalam debut mereka di ONE.

Troy terlihat seperti lawan yang menakutkan bagi semua atlet, kecuali para pegulat terbaik divisi bantamweight, saat ia menjatuhkan atlet yang sebelumnya tak terkalahkan Chen Rui ke atas kanvas dan menyerangnya sampai ia menyerah.

Disisi lain, cara Aleksi memenangkan pertandingannya sangatlah menarik. Walaupun ia tidak memiliki kendali penuh atas Akihiro Fujisawa, ia berhasil memanfaatkan celah terkecil dan memenangkan pertandingannya dengan cepat.

Siapapun yang menghadapi kedua petarung ini akan memiliki beban yang sangat berat.