Fitur

10 Laga Bela Diri Campuran Terbaik Tahun 2019

Para pahlawan dalam organisasi bela diri terbesar di dunia ini meninggalkan berbagai pencapaian luar biasa pada tahun 2019, namun untuk dapat masuk ke dalam 10 besar laga terbaik tahun ini, dibutuhkan lawan tanding yang spesial.

Untungnya, seluruh atlet bela diri campuran yang ada dalam daftar ini mampu membuktikan dirinya.

Baik dalam laga lima ronde klasik demi gelar Kejuaraan Dunia, laga tiga ronde menegangkan, atau kontes antara dua legenda, seluruh atlet ini menampilkan seluruh kemampuan mereka di dalam Circle.

Saat ini, setelah melihat seluruh laga unggulan tahun ini, kami mengumpulkan 10 ‘Laga Bela Diri Campuran Terbaik Tahun 2019.’

#1 Angela Lee vs. Xiong Jing Nan I

Juara Dunia ONE Women’s Atomweight “Unstoppable” Angela Lee mencoba mencetak sejarah di ajang ONE: A NEW ERA dari Ryogoku Kokugikan di Tokyo, Jepang, bulan Maret lalu.

Atlet Singapura itu mencoba merebut gelar Juara Dunia ONE Women’s Strawweight dari ratu divisi tersebut, “The Panda” Xiong Jing Nan, untuk menjadi wanita pertama yang memegang dua sabuk emas bela diri campuran dalam organisasi ini. Namun, ia belum berhasil.

Angela memulai dengan cepat dengan teknik striking dan grappling miliknya. Jing Nan mampu mencetak beberapa pukulan kuat, namun wanita asal Singapura tersebut menggunakan kecepatannya demi mencetak dampak luar biasa. Ia kembali mengeksekusi game plan-nya itu di ronde kedua, namun ia nampak kelelahan pada stanza ketiga – yang membuat “The Panda” menyambungkan beberapa kombinasi tinjunya.

Namun, pada ronde keempat, Angela membalikkan keadaan. Ia menjatuhkan ratu divisi strawweight itu ke atas kanvas, menempatkan sebuah kuncian triangle choke, lalu bertransisi ke kuncian armbar. Ia menekan lengan Jing Nan ke sudut yang tidak wajar, namun atlet kuat asal Tiongkok itu bertahan untuk melewati ronde tersebut.

Segala sesuatunya berubah pada stanza terakhir. “The Panda” maju menyerang dan menghujani rivalnya yang kelelahan dengan kombinasi serangan keras.

Sebuah pukulan keras ke arah tubuh lawannya itu menghabiskan energi yang tersisa dari Angela. Jing Nan melanjutkan dengan tendangan ke arah tubuh dan rangkaian pukulan sampai wasit menghentikan aksi dalam “Laga Bela Diri Campuran Terbaik Tahun Ini.”

#2 Aung La N Sang vs. Brandon Vera

Bulan Oktober lalu, Juara Dunia ONE Heavyweight Brandon “The Truth” Vera turun satu divisi untuk mengambil kesempatan meraih mimpinya menjadi Juara Dunia dua divisi ONE.

Namun lawannya, Juara Dunia ONE Middleweight dan Light Heavyweight Aung La “The Burmese Python” N Sang, menggagalkan usaha tersebut dalam laga utama ajang ONE: CENTURY PART II dari ibukota Jepang.

Aung La N Sang adalah penyerang utama dalam laga perebutan gelar Juara Dunia ONE Light Heavyweight, dengan mendaratkan tendangan kuat ke arah kaki. Brandon, yang selalu membalas serangan, menggunakan teknik andalannya demi menyarangkan tendangan keras ke tubuh pahlawan Myanmar tersebut.

Atlet keturunan Filipina-Amerika itu mencoba mencari penyelesaian dramatis dengan kekuatan pukulannya, namun “The Burmese Python” mampu menghindari serangannya dan mempertahankan diri dari serangan yang masuk demi mengakhiri stanza pembuka.

Pada ronde kedua, kedua raksasa ini berdiri di sisi Circle dan bertukar pukulan berbahaya. Namun, Aung La N Sang akhirnya menyarangkan serangan yang menentukan laga, saat ia melunakkan lawan yang berpostur lebih besar ini dengan serangan siku belakang, atau spinning back elbow.

Brandon juga berusaha mendaratkan serangan yang sama, namun “The Burmese Python” menghindar dan membalas dengan hook kanan yang membuat raja divisi heavyweight ini bertumpu pada lututnya. Lalu, atlet olahraga ikonik Myanmar ini menghujani rivalnya dengan sebuah ground and pound sampai wasit menghentikan kontes tersebut.

#3 Ariel Sexton vs. Amir Khan

Atlet Kosta Rika bernama Ariel “Tarzan” Sexton dan pahlawan Singapura Amir Khan tampil dalam laga tiga ronde keras nan epik di ajang ONE: CALL TO GREATNESS dari Singapore Indoor Stadium, Februari lalu.

Faktanya, itu adalah laga terkeras dalam babak perempat final turnamen ONE Lightweight World Grand Prix.

Amir mengendalikan ronde pembuka dengan teknik striking superior dan menghindari permainan bawah milik grappler yang selalu menekan ke depan ini. Awal yang cepat dari atlet Singapura itu adalah sesuatu yang ingin dilihat oleh penonton tuan rumah, dan segala sesuatunya nampak baik.

Sebuah pukulan balasan dari tangan kanan Juara Muay Thai Singapura itu menjatuhkan Ariel ke atas kanvas pada awal ronde kedua. Amir mencoba menutup laga, namun “Tarzan” mampu mengatasi serangannya.

Tetapi, dalam waktu singkat, arah pertandingan berbalik. Atlet favorit tuan rumah itu kelelahan dan Ariel mengambil keuntungan dengan mencetak takedown yang tertunda.

Walau Ariel tak dapat melakukan lebih banyak lagi, ia terus menekan dalam ronde ketiga. Ia menyambungkan pukulan, mencetak sebuah selengkatan demi takedown yang ia inginkan, serta mengincar punggung Amir. Atlet Kosta Rika ini menyarangkan rangkaian hook-nya, memasukkan kuncian rear-naked choke, serta memaksa lawannya itu menyerah.

#4 Ev Ting vs. Daichi Abe

Setelah mencetak kemenangan beruntun, mantan penantang gelar Juara Dunia ONE Lightweight Ev Ting tidak dapat mundur.

Kenyataan itu, serta keinginannya untuk mempertahankan rekor tak terkalahkannya di tanah kelahirannya, Kuala Lumpur, Malaysia, membuatnya semakin termotivasi dalam laga divisi lightweight melawan Juara Dunia Pancrase Welterweight Daichi Abe di ajang ONE: MASTERS OF DESTINY pada bulan Juli.

Ronde pertama berlangsung panas dan keras, saat keduanya menyambungkan pukulan dan saling menjatuhkan lawan ke atas kanvas beberapa kali. Daichi awalnya menyerang dengan sebuah kombinasi, yang dilanjutkan dengan Ev dengan pukulan overhand kanan keras yang mampu membuat lawannya tersungkur.

Pertukaran serangan liar memenuhi awal ronde kedua, namun Ev segera menempatkan pukulan overhand kanan lainnya untuk kembali menjatuhkan lawannya itu ke atas kanvas. 

“E.T.” mengikuti dengan ground and pound, dan saat Daichi berusaha meloloskan diri, atlet Malaysia itu menyasar punggungnya dan menempatkan kuncian rear-naked choke. Cengkeraman dari kuncian itu cukup dalam, dan ia memaksa sebuah tap-out hanya dengan 16 detik tersisa dalam ronde itu.

#5 Eduard Folayang vs. Eddie Alvarez

Filipino martial arts icon Eduard Folayang sends Eddie Alvarez flying with a wushu side kick

Juara Dunia Lightweight beberapa kali, Eddie “The Underground King” Alvarez, mengatakan beberapa minggu sebelum laganya melawan mantan Juara Dunia ONE Lightweight Eduard “Landslide” Folayang di ajang ONE: DAWN OF HEROES bulan Agustus lalu, bahwa kontes mereka dapat menjadi ‘Laga Terbaik Tahun Ini.’

Kenyataannya, ia tidak terlalu jauh memprediksi hal tersebut. Babak semifinal ONE Lightweight World Grand Prix yang menggemparkan para penggemar di Mall Of Asia Arena, Manila, Filipina itu akhirnya masuk ke dalam daftar ini.

Ikon Filipina ini unggul dalam striking atas rivalnya dalam menit pembuka laga tersebut, saat ia menyambungkan pukulan, serangan memutar dan tendangan keras. Faktanya, salah satu tendangannya mampu menjatuhkan Eddie ke atas kanvas.

Eduard mencoba menggunakan momen itu. Ia menerkam lawannya dan mengeluarkan serangan ground and pound keras, namun “The Underground King” dengan tenang menyapu pahlawan tuan rumah ini demi meraih posisi atas.

Saat Eddie masuk ke posisi mount, Eduard secara tak sengaja membuka punggungnya saat berusaha meloloskan diri. Hal ini menjadi kejatuhannya, ketika atlet AS itu menyarangkan rangkaian hooknya, menyelipkan lengannya di bawah rahang rivalnya ini, serta mengamankan sebuah kuncian rear-naked choke untuk memaksa ikon Filipina itu menyerah pada ronde pertama.

Laga Terbaik Lainnya

Baca Juga: 10 Laga ONE Super Series Terbaik Tahun 2019

Bersiaplah untuk gelaran perdana ONE Championship di tahun 2020, ONE: A NEW TOMORROW!

Bangkok | 10 Januari | Tiket: Klik di sini TV: Periksa daftar tayangan lokal untuk siaran global