Berita

Wang Junguang Akan Bermain Cepat Dan Cetak KO Atas Sam-A

Setelah laga debut yang mengejutkan dalam rangkaian ONE Super Series, “Golden Boy” Wang Junguang mendapatkan kesempatan mencetak sejarah di ajang ONE: MARK OF GREATNESS.

Jumat nanti, tanggal 6 Desember, pahlawan asal Tiongkok ini akan berlaga dalam Kejuaraan Dunia ONE Strawweight Kickboxing perdana melawan atlet legendaris Sam-A Gaiyanghadao di Kuala Lumpur, Malaysia.

Ini adalah sebuah tugas yang cukup sulit. Sam-A adalah seorang ikon Muay Thai yang telah meraih sebuah sabuk di “The Home Of Martial Arts” – di atas gelar Juara Dunia lain dalam karir dengan 367 laga.

Namun, walau pengalaman Junguang nampak jauh berbeda, atlet berusia 24 tahun ini telah membuktikan dirinya sebagai atlet terbaik dunia dengan meraih gelar Juara Dunia sebelum ia tiba di ONE, dan ia meyakini bahwa ini adalah waktu yang tepat bagi seorang atlet muda untuk mencapai puncak.

“Saya bagian dari generasi yang baru,” katanya. “Sam-A adalah legenda pada masa jayanya, namun itu adalah masa lalu. Saya akan menghadapinya dengan keyakinan dan tanpa takut.”

Atlet asal Zhoukou di provinsi Henan ini membawa rekor kemenangan 24-3-1 dalam disiplin kickboxing ke dalam kontes ini, serta momentum besar dari kemenangan beruntun selama dua tahun berturut-turut dalam delapan laga terakhirnya. Aksinya ini mendapatkan sorotan saat ia merebut sebuah gelar Juara Dunia pada bulan Agustus.

Ini memberinya kesempatan berlaga di atas panggung dunia, dan “Golden Boy” tidak mengecewakan organisasi barunya ini saat ia mencetak sebuah TKO pada ronde pertama saat melawan Federico “The Little Big Man” Roma dengan sebuah penampilan tinju yang eksplosif.

Junguang mengakui ia masih merasa gugup saat pertama kali tampil dalam organisasi bela diri terbesar di dunia ini, melawan seorang Juara Dunia, namun itu tidak terlihat saat ia mencetak TKO dengan tiga kali knockdown atas lawannya untuk merebut kemenangan spektakuler.



“[Federico] lebih besar dari saya, dan saya merasa yakin ia lebih kuat dari saya, maka saya sangat berhati-hati. Namun saat kami berada di dalam Circle, saya merasa ia tidak sekuat yang saya bayangkan,” sebutnya.

“Saya menetapkan ritme saya, kemudian menjatuhkannya. Saya mengetahii ia akan menerjang maju karena saya mendapatkan keunggulan, maka saya mundur, mencari celah, dan menjatuhkannya lagi.”

“Saya mengetahui jika ada tiga hitungan dalam satu ronde, laga ini akan berakhir, maka saya harus memukul dengan kuat.”

Ia melakukan hal itu untuk memaksa sebuah penyelesaian hanya dalam beberapa detik sebelum ronde berakhir, dan merayakan dengan emosi yang luar biasa.

Kesuksesan spektakulernya ini adalah puncak dari sebuah kehidupan yang dihabiskan dalam dunia bela diri, yang dimulai saat ia masih kanak-kanak, saat ayahnya membawa dirinya ke kuil Shaolin untuk berlatih kung fu.

Sejak itu, ia mengorbankan ‘kehidupan normal’ untuk mengejar mimpinya demi mencapai kejayaan dalam bela diri, dan ia sangat bersemangat mendapatkan kesempatan itu tidak lama kemudian.

“Golden Boy” terkejut menerima kesempatan melawan seorang yang ia kagumi, dalam sebuah ujian terkeras dalam karirnya, namun ia mengatakan bahwa dirinya telah siap.

“Setelah mengalahkan [Federico] Roma, manajer saya bertanya apakah saya ingin tampil dalam laga puncak ONE, dengan perebutan gelar pada tanggal 6 Desember,” kata Junguang.

“Saya segera mengiyakan. Saya sangat ingin memiliki sabuk ini. Saya bahkan tidak tahu siapa lawan saya saat itu. Lalu, beberapa hari kemudian, mereka memberi informasi tentang itu dan saya berpikir, ‘Hei, bukankah ini pria yang selalu saya tonton? Itu adalah Sam-A Gaiyanghadao. Saya sangat terkejut. Saat saya pertama kali berlatih, saya terbiasa menonton videonya.”

“Ia telah berlaga di lebih dari 400 pertandingan. Keuntungannya adalah bahwa ia sangat berpengalaman, namun saya kira stamina saya lebih baik, Saya lebih muda, dan tentunya, keinginan saya lebih kuat.”

Pria asal Henan itu percaya dirinya juga akan lebih unggul di area yang lain.

Sam-A mungkin adalah seorang master Muay Thai, namun ia baru masuk ke disiplin kickboxing, dimana Junguang mengatakan ia akan memiliki penangkal terhadap serangan balik yang dimiliki rivalnya itu di dalam Circle.

“Dengan serangan saya, saya dapat masuk ke dalam kendali pertahanannya. Saya berharap dapat menemukan sebuah kesempatan untuk menyelesaikan laga, karena ia adalah seorang [berkuda-kuda] southpaw,” katanya.

“Karena Sam-A Gaiyanghadao lebih tua dari saya, saya berencana membuatnya kehabisan stamina dalam dua ronde pertama, lalu bergerak lebih cepat lagi, Saya akan menggunakan keunggulan kardio saya untuk menyeretnya turun.

“[Sam-A], anda adalah seorang legenda. Saya menghormati anda, namun waktu anda telah habis, dan waktu saya baru akan dimulai. Saya akan membawa sebuah laga yang baik bagi anda, kemudian saya akan membawa sabuk itu kembali ke Tiongkok.”

Baca Juga: 5 KO Terbaik Dari Bintang Di ONE: MARK OF GREATNESS

Kuala Lumpur | 6 Desember | ONE: MARK OF GREATNESS | TV: Periksa daftar tayangan lokal untuk siaran global | Tiket: http://bit.ly/onemarkgreatness19 | Beli Merchandise Resmi: bit.ly/ONECShop