Berita

Keyakinan Yusup Saadulaev Untuk Meraih Satu Kemenangan Demi Perebutan Gelar

23 Agu 2019

Anda mungkin salah mengira bahwa Yusup “Maestro” Saadulaev akan menjalani malam yang mudah saat lawannya dalam ajang ONE: DREAMS OF GOLD digantikan.

Hanya beberapa hari sebelum gelaran yang dihelat pada hari Jumat, 16 Agustus di Bangkok, Thailand ini, atlet yang seharusnya menghadapi dirinya – Shuya “Stealth” Kamikubo – digantikan oleh “Ottogi” Dae Hwan Kim.

Atlet Korea Utara tersebut adalah mantan penantang gelar Juara Dunia ONE Bantamweight, dan lebih menyukai striking daripada pendekatan grappling yang dimiliki Shuya. Oleh karena itu, Yusup harus bersiap menghadapi tantangan baru dalam waktu singkat.

Namun grappler veteran ini menunjukkan kelasnya dengan beradaptasi pada keadaan ini dan berhasil menang melalui keputusan mutlak juri, dan mencetak kemenangan keempat berturut-turut dalam divisi bantamweight di “The Home Of Martial Arts.”

Saat ini, setelah ia memulihkan diri dari 15 menit pertandingan di Impact Arena, atlet berusia 34 tahun ini menjelaskan apa yang terjadi dalam minggu pertandingan yang cukup menegangkan ini dan keluar sebagai pemenang.

ONE Championship: Kapan anda mengetahui perubahan lawan ini, dan bagaimana hal tersebut berdampak pada anda?

Yusup Saadulaev: Hal ini mempengaruhi berat badan saya. Saya mengetahui hal ini hanya satu malam sebelum penghitungan berat resmi bahwa lawan saya mengalami infeksi mata dan tidak akan berlaga.

Saya tidak mempercayai bahwa ONE akan dapat menemukan seseorang dalam kondisi terbaik dan masuk ke ketentuan berat badan ini secepat itu, maka saya memberi diri sendiri waktu bersantai dan makan sedikit lebih banyak hari itu – lalu saya mengalami sedikit masalah untuk menyesuaikan berat badan.

ONE: Apakah anda mengharapkan laga yang lebih mudah melawan atlet yang tidak memiliki waktu banyak untuk bersiap?

YS: Tentunya tidak, saya tidak mengharapkan itu! Setiap ahli [dan pengamat] bela diri campuran yang bergabung dengan ONE tidak mengharapkan saya untuk menang dengan cepat – Dae Hwan memang salah satu atlet terbaik.

Saya rasa gaya [bertarung Shuya] Kamikubo cocok dengan saya, tetapi saya senang hal ini terjadi dan memberikan saya kesempatan untuk mendemonstrasikan kemampuan striking saya. 

ONE: Apakah anda membuat perubahan pada game plan ada untuk melayani kemampuan stand-up milik Dae Hwan?

YS: Ya, saya memikirkan beberapa perubahan dan membuat penyesuaian secara mental, tetapi ironisnya saat kami berlaga, saya menggunakan skenario untuk [Shuya] Kamikubo.

Rencana awal saya untuk melawan [Shuya] Kamikubo adalah untuk tetap berdiri dan menjaga jarak dengan pukulan. Ia memiliki permainan bawah yang luar biasa, dan membutuhkan energi yang sangat besar untuk bergulat dengan seorang pegulat.

Saya kira saya akan melakukan sebaliknya dengan [Dae Hwan] Kim – saya tak dapat membiarkan dirinya masuk dan melontarkan pukulan, maka rencana saya adalah menyeretnya ke bawah dan bertarung di atas kanvas, tetapi kenyataannya saya masih mengikuti rencana A. 

ONE: Apakah anda memiliki cukup waktu merancang strategi baru ini bersama tim anda?

YS: Saya tidak membutuhkan waktu untuk mempelajari dirinya, karena ia sempat dua atau tiga kali berlaga di kartu [pertandingan] yang sama dengan saya.

Saya telah memperhatikan dirinya untuk beberapa waktu, dan saya tidak mengharapkan kemenangan mudah. Saya mengetahui bahwa ia adalah praktisi bela diri tingkat tinggi dalam disiplin taekwondo dan Muay Thai, dengan sabuk coklat Brazilian Jiu-Jitsu. 

Banyak sekali grappler teratas, termasuk Juara Dunia beberapa kali Leandro Issa, mencoba mencetak submission saat melawannya, tetapi mereka gagal. Ia memiliki pertahanan luar biasa, mengetahui kapan harus menjadi eksplosif dan dapat bangkit dengan cepat.

ONE: Apakah anda terluka oleh pukulannya?

YS: Saya mengharapkan pukulan yang kuat dari dirinya. Saya mengetahui ia adalah seorang striker yang hebat. Pukulannya cukup berat, begitu pula dengan tendangannya.

Ia mengenai saya di bagian atas tubuh saya sekali, dan saya sempat tak mampu bernafas. Saya juga menerima serangan siku di bagian atas kepala saya, dan melihat dua benjolan besar. Ia menyebabkan mata saya lebam juga, tetapi sejujurnya, tidak ada yang fatal. Saya tidak tergoncang berat dengan seluruh pukulannya.

Russian martial artist Yusup Saadulaev hugs South Korean athlete Dae Hwan Kim

ONE: Anda terlihat lelah pada ronde kedua, tetapi sepertinya anda mendapatkan angin segar – apa yang terjadi?

YS: Pertarungan ini cukup keras, dan pada ronde kedua, saya merasa seperti akan kalah karena tangan saya terasa sangat berat setelah bergulat di ronde pertama. 

Saya memutuskan untuk berhenti menekannya dengan submission karena ia tetap mampu lolos dari serangan dan set-up [persiapan kuncian] saya. Saya menjadi cukup lelah, maka saya memutuskan untuk membawa laga ini ke stand-up, dan pada ronde ketiga, saya merasa lebih kuat.

ONE: Apa arti kemenangan ini bagi anda dalam mengejar perebutan gelar Juara Dunia?

YS: Saya tidak merasa bahwa ini membawa saya lebih dekat ke perebutan gelar Juara Dunia. [Dae Hwan] Kim sebelumnya dikalahkan oleh [Shuya] Kamikubo, tetapi ini adalah pertandingan yang baik. [Dae Hwan] Kim telah berlaga untuk gelar Juara Dunia – ia kalah dengan [Bibiano] Fernandes, tetapi mengalahkan Kevin Belingon.

Tetapi, saya percaya bahwa mengalahkan [Shuya] Kamikubo kedepannya akan membawa saya ke perebutan gelar Juara Dunia, dan saya harap hal ini dapat terjadi sebelum tahun ini berakhir.

Saya telah mengambil satu minggu untuk beristirahat di Phuket, untuk tidur, makan dan berjemur. Lalu, saya akan terbang ke Moskow dan Makhachkala – untuk kembali melatih.

Saya akan mendorong pertandingan saya dengan [Shuya] Kamikubo – saya ingin itu terjadi sebelum akhir tahun ini, maka saya harap saya dapat mulai berlatih untuk itu pada musim gugur.