Berita

Garry Tonon Siap Sambut Tantangan ‘Paling Berbahaya’ Saat Ini

Sejak mencetak debutnya di ONE Championship tahun lalu, Garry “The Lion Killer” Tonon selalu berada di bawah sorotan besar.

Ia bertransisi dari kompetisi grappling tingkat tinggi ke dalam seni bela diri campuran, dimana sejauh ini peralihan tersebut sangatlah sempurna.

Pria asal New York berusia 27 tahun ini mencetak tiga penyelesaian, dimana ia ingin meraih yang keempat pada hari Minggu, 31 Maret nanti.

Tonon akan menghadapi ujian terberatnya sampai saat ini saat melawan pencetak KO keturunan Indonesia-Belanda Anthony “The Archangel” Engelen dalam laga divisi featherweight di ONE: A NEW ERA.

Ketika “The Lion Killer” memasuki arena di Ryogoku Kokugikan, Tokyo, Jepang, ia mengetahui bahwa pria yang berdiri di hadapannya akan memberi ancaman terbesar bagi catatan rekor sempurnanya.

Anthony memiliki kemampuan untuk mengakhiri malam itu dengan sebuah pukulan atau tendangan. Sementara itu menjadi kemungkinan yang cukup mengerikan bagi Juara EBI Grappling lima kali ini, ia juga merasa lebih termotivasi.

“Saya ingin menantang diri saya sendiri,” tegas Tonon.

“Saya ingin berkembang, namun tak hanya untuk segera terjebak di antara para pemburu. Harus ada peningkatan dalam tiap laga yang saya jalani, dan ini jelas menjadi sebuah peningkatan.”

Mencetak debutnya dalam divisi lightweight di ONE: IRON WILL pada Maret 2018 lalu, Tonon mengejutkan banyak orang dengan mengungguli striking atlet Filipina Richard Corminal dan mengalahkannya via TKO pada ronde kedua.

Atlet AS ini pun kembali beraksi empat bulan kemudian dalam laga melawan Rahul Raju di ONE: REIGN OF KINGS. Namun kali ini, pemegang sabuk hitam Brazilian Jiu-Jitsu itu mengandalkan kemampuan grappling kelas dunia dan menyarangkan kuncian rear-naked choke untuk menaklukkan “The Kerala Krusher” pada ronde ketiga.

Pada bulan November, ia turun ke divisi featherweight dan ingin menutup tahun itu dengan penuh gaya. Ia mendapatkan hasil yang ia inginkan, tetapi ia pun tak terlalu gembira dengan itu.

Walau dirinya mencetak penyelesaian dominan atas Sung Jong Lee di ONE: HEART OF THE LION, Tonon masih sangat kritis melihat penampilannya karena beberapa kesalahan krusial. Ia menunjukkan kelemahan tersebut karena itulah satu-satunya cara untuk membuatnya bertanggung jawan dan memastikan bahwa itu takkan terjadi lagi.

“Saya kira saya lebih baik dalam melakukan banyak hal dari dua penampilan saya sebelumnya,” jelas Tonon.

“Saya menggunakan jab lebih banyak dari laga sebelumnya. Saya menggunakan tendangan dengan efektif untuk pertama kalinya dalam laga itu. Takedown saya juga cukup mulus.”

“Ada beberapa hal bagus yang terjadi, tetapi ada beberapa kali dimana saya melontarkan pukulan kanan yang tak mengenai sasaran. Tiap kali saya melontarkannya, saya hanya menaruh tangan saya di atas dan tidak menggerakkan kepala saya.”

“Saya harus menggerakkan kepala saya. [Lawan-lawan saya] akan menyerang balik. Saya kira itulah mengapa saya terluka, karena saya terkena kombinasi serangan dan tidak bergerak dari kombinasi itu. Sangat penting mengembangkan kebiasaan untuk menyerang, tetapi juga untuk segera bertahan setelah itu.”

Seluruh kesalahan itu lebih menonjol bagi pria AS ini setelah ia menerima tantangan berikutnya — sebuah laga melawan “The Archangel” pada akhir bulan ini.

Tonon mengingatnya dengan baik karena ia menyaksikan pria keturunan Indonesia-Belanda itu bertarung terlebih dahulu pada malam yang sama, di ajang ONE: HEART OF THE LION.

Ia menyaksikan kekuatan KO luar biasa milik Anthony, saat warga Jakarta itu menghentikan atlet Kamboja Meas Meul dengan tendangan tinggi ke arah kepala yang mencengangkan dalam waktu 39 detik.

“Saya menyaksikan tayangan ulang dari tendangan tinggi itu. Itu sangat gila. KO yang luar biasa,” kata Tonon. “Itu yang membuat saya takut, setidaknya – mengetahui bahwa itulah yang akan saya hadapi.”

Anthony membawa catatan rekor profesional 8-5 ke dalam laga ini, dengan tiga kemenangan yang diraihnya melalui KO dan empat lainnya via submission. Ia adalah veteran berkemampuan lengkap yang akan menguji permainan menyeluruh milik pria asal New York ini.

“Ia memiliki catatan rekor yang lebih baik, pengalaman yang lebih banyak, waktu berlaga yang lebih panjang, dan kekuatan yang jauh lebih besar jika melihat rangkaian KO yang dicetaknya,” lanjut Tonon. “Sejauh seberapa berbahayanya, ia adalah pria paling berbahaya yang saya hadapi sejauh ini.”

Tonon mungkin melihat ini sebagai sebuah laga yang berbahaya, namun ketika momen ini juga akan menjadi pertarungan menegangkan dan panggung dimana dirinya dapat tampil, hal itu pun menambah semangatnya.

ONE: A NEW ERA akan menampilkan empat laga Kejuaraan Dunia, serta debut dari Eddie Alvarez dan Demetrious Johnson.

Ajang ini menjadi kartu pertandingan terbesar dalam sejarah organisasi ini, dan “The Lion Killer” bermaksud mengambil keuntungan dari kesempatan berlaga dalam gelaran berskala besar nanti.

“Semua mata akan tertuju pada kartu [pertandingan] ini,” tegasnya. “Banyak mata yang akan ada di kartu ini dan jika saya mampu melakukan sesuatu yang impresif, itu akan menjadi pernyataan besar.”

Muat Lebih Banyak

Ikuti perkembangannya

Bawa ONE Championship kemana pun anda pergi! Daftarkan diri untuk mendapatkan akses ke berita terbaru, berbagai tawaran spesial dan kursi terbaik dalam gelaran langsung kami.
Dengan mengirimkan formulir ini, anda menyetujui pengumpulan, penggunaan dan pembukaan informasi anda berdasarkan Privacy Policy kami. Anda dapat membatalkan (unsubscribe) dari jenis komunikasi ini kapan saja.