Fitur

Walter Goncalves Meninggalkan Segalanya Demi Muay Thai

9 Okt 2019

Walter Goncalves masih berusia remaja saat ia meninggalkan segalanya di tanah kelahirannya, Brasil, dan terbang menuju Thailand demi mempertajam kemampuan bela dirinya

Hal itu merupakan salah satu keputusan tersulit yang ia pernah alami, dimana kehidupan di negara kelahiran olahraga yang ia cintai itu tidaklah mudah. Namun, seluruh kerja keras dan pengorbanannya akan setimpal jika ia berhasil merebut gelar Juara Dunia ONE Flyweight Muay Thai pada hari Minggu, 13 Oktober mendatang.

Atlet berusia 21 tahun ini telah mengarungi perjalanan emosional luar biasa, tetapi ia menganggap apa dilaluinya telah mempersiapkan dirinya untuk merebut gelar Juara Dunia dari Rodtang “The Iron Man” Jitmuangnon dalam ajang ONE: CENTURY PART II di Tokyo, Jepang.

Walter bahkan belum berusia dewasa saat ia terbang lebih dari 17.000 kilometer dari tempat tinggalnya yang sederhana di lingkungan kumuh bernama Fortaleza demi mendalami budaya dan gaya hidup Muay Thai di tanah kelahiran olahraga tersebut.

“Saya meninggalkan Brazil saat berusia 17 tahun untuk pergi ke Thailand,” jelasnya.

“Saya ingin mewujudkan mimpi saya dan keluarga saya, terutama pelatih saya, Anderson Dentao, yang selalu mengatakan bahwa ia ingin menjadi pelatih dari seorang Juara Dunia.”

Walter mewujudkan mimpi tersebut dengan memenangkan tiga gelar Juara Dunia, namun seluruh sabuk tersebut nampak seperti mimpi yang terlalu jauh untuk dicapai saat ia mengawali hari-harinya di Thailand.

Masa itu adalah salah satu yang paling berat, dan bukan hanya karena latihan keras.

“Saya bilang ke semua orang, ketika saya tiba [di Thailand], saya melewati satu bulan penuh dengan tangisan,” kata perwakilan Blackthai CT ini.

“Saya mengalami masa yang sulit – [karena harus] meninggalkan tempat tinggal saya, teman-teman saya. Ketika saya memandang sekitar, tidak ada [yang saya kenal] – hanya saya.”

“Setelah itu saya berpikir, saya akan meraih apapun yang saya inginkan, sekarang dan disini. Saya melihatnya sebagai salah satu rintangan yang saya harus lalui. Saya tidak mau mengecewakan pelatih atau keluarga saya, karena mereka percaya pada saya – dan saya telah meraihnya.”



Determinasi untuk sukses membuat Walter memaksa dirinya untuk beradaptasi ke lingkungan yang baru.

“Pengalaman saya di Thailand adalah salah satu [ujian] meninggalkan zona nyaman saya,” jelasnya.

“Saya melihat perbedaannya – latihan, makanan, budaya. Saya belum pernah melihat yang sama sebelumnya, tapi saya sadar jika saya tinggal di Thailand, saya akan meraih sesuatu, dan saya berhasil.”

“Saya mengatasi kesulitan, menjadi lebih dewasa dan mendapat penghormatan dari setiap orang.”

Saat itu Walter sangat haus akan kesuksesan – selain benar-benar haus dan kelaparan – saat dia berusaha membangun reputasi di Thailand. Ia harus bertanding sesering mungkin untuk naik peringkat dan mendapat kesempatan lebih besar, serta untuk bertahan hidup.

“Jika saya tidak bertanding, saya tidak bisa makan,” katanya.

“Pada waktu itu, saya tidak memiliki cukup uang untuk pulang [ke Brasil], jadi saya mendalami dan mendedikasikan diri secara penuh pada olahraga ini untuk mendapat uang yang cukup untuk makan.”

“Rintangan? Saya memanjatnya bagai sebuah tangga.”

Walaupun ia harus sering berusaha keras untuk berlatih dan menjalani laga yang lebih sulit di dalam ring, waktu yang dilaluinya di Thailand terasa mudah, karena Walter menyadari bahwa ia dapat bergantung pada dukungan dua orang terpenting dalam hidupnya.

Yang pertama adalah ayahnya, Assis, yang mengenalkannya ke bela diri untuk pertama kalinya dan tidak pernah lupa untuk mengingatkan anaknya bahwa ia telah menjadi kebanggaan keluarga.

“Ia terus mendukung saya sampai hari ini. Ia adalah penggemar terbesar saya, fokus saya dan inspirasi saya,” katanya.

“Jika bukan karena ayah saya, saya tidak akan ada di sini saat ini.”

Sosok kedua adalah pelatih Anderson, yang melihat bakat Walter sejak dini dan mendorongnya pergi ke belahan lain dunia demi mengembangkan kemampuannya.

“Saya memiliki sebuah mimpi besar untuk mengunjunggi berbagai negara lain dan berkat bantuan dari pelatih Anderson, saya mampu meraihnya,” katanya.

“Bertemu dengan orang baru dan melihat dunia baru, itu adalah pencapaian saya. Dan semangat pelatih saya menemani saya dalam setiap langkah, mendukung saya, memberi saran lewat telepon. Itulah saat saya menjadi sukses.”

Seluruh hal ini membawanya meraih Juara Dunia di “Negeri Senyuman,” yang pada akhirnya membuka jalan menuju kejayaan di atas panggung dunia, dalam ajang ONE: CENTURY di Tokyo, Jepang.

Sebelum perebutan gelar Juara Dunia melawan Rodtang, bintang divisi flyweight ini merasa percaya diri. Di matanya, ia telah berusaha sangat keras, dimana bahkan lima ronde dengan “The Iron Man” tidak akan membuatnya ciut.

“Pengorbanan terbesar yang saya berikan demi Muay Thai adalah meninggalkan keluarga, tapi semua itu setimpal. Saya akan mengulanginya lagi jika harus,” katanya.

“Setelah semua yang saya lalui, tidak ada lagi yang bisa membuat saya gentar.”

Baca Juga: 7 Alasan Mengapa ONE: CENTURY Akan Menjadi Ajang Bela Diri Terbesar

Tokyo | CENTURY | Pergelaran Ke-100 ONE Championship | Tiket: Dapatkan disini

  • Tonton BAGIAN PERTAMA di Indonesia, tanggal 13 Oktober pukul 7:00 WIB – serta BAGIAN II, tanggal 13 Oktober pukul 15:00 WIB
  • Tonton BAGIAN PERTAMA di Amerika Serikat, tanggal 12 Oktober pukul 20:00 EST – serta BAGIAN II, tanggal 13 Oktober pukul 4:00 EST
  • Tonton BAGIAN PERTAMA di India, tanggal 13 Oktober pukul 5:30 IST – serta BAGIAN II pukul 13:30 IST
  • Tonton BAGIAN PERTAMA di Singapura on 13 October pukul 8:00 SGT – serta BAGIAN II pukul 16:00 SGT
  • Tonton BAGIAN PERTAMA di Filipina on 13 October pukul 8:00 PHT – serta BAGIAN II pukul at 16:00 PHT
  • Tonton BAGIAN PERTAMA di Jepang on 13 October pukul 9:00 JST – serta BAGIAN II pukul 17:00 JST

ONE: CENTURY adalah ajang Kejuaraan Dunia bela diri terbesar dalam sejarah dengan 28 Juara Dunia yang tampil dalam berbagai disiplin bela diri. Belum ada organisasi dalam sejarah yang pernah mempromosikan dua ajang Kejuaraan Dunia di hari yang sama.

“The Home Of Martial Arts” kembali membuka babak baru dengan menyajikan beberapa laga perebutan gelar Juara Dunia, tiga babak final Kejuaraan World Grand Prix, serta serangkaian Juara Dunia yang akan melawan Juara Dunia lainnya di lokasi ikonis Ryugoku Kokugikan, Tokyo, Jepang, tanggal 13 Oktober.