Fitur

Kerjasama Tim Menjadi Kunci Rodtang Jitmuangnon Meraih Mimpi

5 Okt 2019

Bagi Rodtang “The Iron Man” Jitmuangnon, menjadi Juara Dunia ONE Flyweight Muay Thai bukan hanya sekadar mewujudkan mimpinya, namun hal ini menjadi bentuk tanggung jawab demi menjaga nama baik Jitmuangnon Gym.

Atlet berusia 22 tahun ini – yang akan mempertahankan sabuk Juara Dunia miliknya kontra Walter Gonclaves pada hari Minggu, 13 Oktober mendatang di ajang ONE: CENTURY PART II – mengatakan bahwa ia berhutang banyak terhadap seluruh anggota sasana Jitmuangnon yang membantunya mencapai prestasi puncak.

Meskipun talenta dan etos kerja yang luar biasa miliknya berperan besar dalam terciptanya rekor impresif 259-41-10, serta pencapaiannya sebagai Juara Dunia, ia tetap berterima kasih atas jasa para rekan-rekan yang selalu menemaninya.

“Tidak hanya petarung, setiap atlet harus berterima kasih terhadap rekan satu tim-nya. Tidak mungkin ada atlet yang dapat berhasil dengan melakukan segala sesuatunya seorang diri,” ungkap Rodtang.

“Rekan satu tim ini selalu ada disamping anda dan membantu anda untuk membangun segala sesuatunya dari titik nol – dari yang bukan siapa-siapa, sampai anda berhasil mendapatkan kesempatan emas. Dengan begitu, anda tidak boleh mengesampingkan [peran tim anda] begitu saja.”

“Sasana saya [Jitmuangnon] telah melakukan segalanya bagi saya, dan saya harus menggunakan seluruh kekuatan yang saya miliki untuk membalas jasa mereka.”

Penduduk asli provinsi Pattalung di Thailand Selatan ini melalui masa kecil dalam kondisi finansial yang sulit. Rodtang menggunakan Muay Thai sebagai kendaraan untuk membuat hidupnya berarti, serta membantu keluarganya keluar dari kesulitan hidup.

Semenjak dirinya bergabung dan meraih posisi sebagai atlet Muay Thai papan atas dalam ajang ONE Super Series, “Iron Man” berhasil melambungkan namanya sebagai bintang internasional, dimana ia kini memiliki kemampuan untuk memberikan sesuatu bagi keluarganya melampaui apa yang mereka impikan.

Meskipun begitu, saat ia baru saja terjun ke dunia “seni delapan tungkai,” Rodtang tidak langsung memiliki pendapatan yang stabil dan tidak memiliki pengetahuan yang cukup demi mengembangkan karir profesional Muay Thai-nya.



Tentunya, dukungan dari rekan satu sasana Jitmuangnon Gym telah membantu Rodtang mengembangkan kemampuan di dalam maupun di luar ring, serta membantunya bertahan dari berbagai tantangan.

“Sasana saya benar-benar membantu saya menghadapi segalanya,” tuturnya.

“Mereka adalah keluarga yang telah membesarkan saya selayaknya seorang anak. Dari masa kecil hingga sekarang ini, mereka mengajarkan saya cara untuk menjadi dewasa. Dari mulai belajar mengatur keuangan sampai cara menikmati hidup – merekalah yang membesarkan saya.”

“Ketika saya tidak memiliki uang, mereka selalu membantu saya. Saya sampai bingung harus berkata apa.”

Kewajiban untuk membantu sesama merupakan budaya dari olahraga nasional asal Thailand ini. Sepanjang sejarah, para atlet selalu diajarkan untuk tidak lupa darimana mereka berasal, yang membuat mereka selalu rendah hati.

Hal ini juga memastikan bahwa generasi mendatang akan melakukan hal yang sama. Tentunya, Rodtang tidak merasa keberatan untuk membantu sasananya berkembang – ia senang melakukan hal tersebut.

“Ini merupakan peran besar Muay Thai. Sasana saya telah melakukan banyak hal untuk saya, dan sekaranglah saatnya melakukan tugas saya untuk berlatih keras serta mewakili mereka dengan menampilkan kemampuan terbaik dan pulang membawa kemenangan,” tambahnya.

“Kita mempunyai orang-orang yang membantu kita sejauh ini, dan sekarang adalah kewajiban saya untuk membalas jasa mereka. Ini bukan suatu hal yang rumit.”

Bagaimanapun, tugasnya tidak hanya sekedar mewakili Jitmuangnon Gym di panggung dunia. Hal ini mewajibkan Rodtang untuk tetap disiplin, rendah hati dan menghargai segala hal yang datang dalam hidupnya.

“Tidak peduli seberapa hebat kita, jika kita lupa darimana kita berasal, bermalas-malasan di sasana dan tidak mematuhi aturan yang diterapkan, kita tidak akan pernah benar-benar mendapatkan apapun,” tambahnya.

Sekarang, pejuang muda asal Thailand ini akan memantapkan jejaknya dalam sejarah bela diri sebagai salah satu atlet terbaik divisi flyweight ONE, dimana ia melakukan segalanya untuk membawa nama baik dan kejayaan bagi Jitmuangnon Gym.

Tidak ada cara yang lebih baik dalam membuat semuanya bangga dan berbahagia, selain dengan mempertahankan sabuk Juara Dunia miliknya di Tokyo, Jepang, pada ajang ONE: CENTURY.

“Jitmuangnon Gym telah melakukan segalanya bagi saya, dan sekarang adalah kesempatan saya untuk membalas kebaikan mereka,” ungkapnya.

“Pada awalnya saya tidak memiliki apa-apa, saya hanya atlet Muay Thai yang biasa-biasa saja. Saat ini, saya salah satu atlet terbaik dengan bayaran tertinggi di Jitmuangnon, dan berhasil membuat kami dikenal di tingkat dunia. Saya sangat bangga dapat melakukan ini untuk Jitmuangnon Gym.”

Baca Juga: Analisa Giorgio Petrosyan Atas Samy Sana Jelang Laga Satu Juta Dolar AS

Tokyo | CENTURY | Pergelaran Ke-100 ONE Championship | Tiket: Dapatkan disini

  • Tonton BAGIAN PERTAMA di Indonesia, tanggal 13 Oktober pukul 7:00 WIB – serta BAGIAN II, tanggal 13 Oktober pukul 15:00 WIB
  • Tonton BAGIAN PERTAMA di Amerika Serikat, tanggal 12 Oktober pukul 20:00 EST – serta BAGIAN II, tanggal 13 Oktober pukul 4:00 EST
  • Tonton BAGIAN PERTAMA di India, tanggal 13 Oktober pukul 5:30 IST – serta BAGIAN II pukul 13:30 IST
  • Tonton BAGIAN PERTAMA di Singapura on 13 October pukul 8:00 SGT – serta BAGIAN II pukul 16:00 SGT
  • Tonton BAGIAN PERTAMA di Filipina on 13 October pukul 8:00 PHT – serta BAGIAN II pukul at 16:00 PHT
  • Tonton BAGIAN PERTAMA di Jepang on 13 October pukul 9:00 JST – serta BAGIAN II pukul 17:00 JST

ONE: CENTURY adalah ajang Kejuaraan Dunia bela diri terbesar dalam sejarah dengan 28 Juara Dunia yang tampil dalam berbagai disiplin bela diri. Belum ada organisasi dalam sejarah yang pernah mempromosikan dua ajang Kejuaraan Dunia di hari yang sama.

“The Home Of Martial Arts” kembali membuka babak baru dengan menyajikan beberapa laga perebutan gelar Juara Dunia, tiga babak final Kejuaraan World Grand Prix, serta serangkaian Juara Dunia yang akan melawan Juara Dunia lainnya di lokasi ikonik Ryugoku Kokugikan, Tokyo, Jepang, tanggal 13 Oktober.