Fitur

Saat Para Petarung Indonesia Berjuang Menjadi Pahlawan Dari Atas Circle

Ketika menjalani debutnya di pentas global ONE Championship tiga tahun lalu, Priscilla Hertati Lumban Gaol mungkin tidak menyadari bahwa ia bukan hanya sedang berjuang bagi diri sendiri.

Di atas Circle, ia tentu menumpahkan keringat untuk mencapai prestasi terbaik demi membawa kebanggaan bagi Tanah Air. Yang mungkin ia tidak sadari adalah bahwa perjuangannya menggema menembus batas dinding arena.

Atlet kelahiran Dolok Sanggul ini berhasil membawa perubahan, dan mengalahkan stereotip usang bahwa olahraga kombat yang identik dengan agresivitas hanya milik para pria.

Faktanya, perjalanannya pun tidak selalu berjalan mulus – ada berbagai rintangan hingga penolakan tentang mimpinya menjadi seorang seniman bela diri. Namun, berkat kegigihan dan determinasi tinggi, Priscilla menemukan secercah cahaya di tengah gulita.

Priscilla, yang harus berjuang untuk meyakinkan orang terdekat tentang pilihan karier yang ia jalani, harus menunggu hingga 13 tahun sebelum sang ibunda hadir di bangku penonton untuk menyaksikan putri kesayangannya berlaga.

Namun, dampaknya luar biasa. Stigma negatif tentang atlet wanita yang berlaga di atas arena semakin terkikis. Generasi baru yang memilih bela diri sebagai karier mereka semakin bermunculan.

“Saya mendedikasikan kemenangan ini untuk menginspirasi lebih banyak orang, terutama wanita,” tutur Priscilla usai mengalahkan Juara Kun Khmer asal Kamboja Nou Srey Pov pada pertengahan tahun lalu di Jakata.

“Untuk semua wanita Indonesia di luar sana, jangan ragu untuk mengejar karier sebagai atlet ataupun juara. Yang perlu dilakukan apapun pilihannya adalah tetap disiplin dan berlatih keras. Saya percaya mereka akan mencapai target masing-masing,” tambahnya.



Priscilla adalah salah satu contoh tentang bagaimana seorang seniman bela diri bisa menginspirasi dari atas gelanggang. Aksi tak kenal lelahnya saat bertanding menjadi sebuah injeksi positif bagi mereka yang percaya bahwa hidup adalah tentang perjuangan.

Apa yang Priscilla sampaikan tentu bukan tanpa dasar. Pertarungannya tidak terbatas pada tiap-tiap ronde yang ia habiskan di atas arena. Lebih dari itu, perjuangannya dimulai selama masa persiapan dan melibatkan ratusan jam latihan.

Mereka yang berlaga di ONE Championship dipercaya mengemban misi untuk membawa perubahan di dunia nyata. Dalam kadar tertentu, mereka yang berjuang demi nama baik negara dan memberi dampak baik pada sekitar adalah pahlawan juga.

Berjuang Untuk Sesama

Banyak yang mengatakan jika salah satu syarat untuk menjadi pahlawan adalah rela berkorban, dan di ONE Championship, para atlet berjuang lebih dari sekadar ambisi pribadi.

Menjadi terlalu sederhana jika menilai perjuangan para atlet hanya saat mereka berlaga di atas Circle ONE Championship. Sebelum berlaga, mereka telah mengorbankan waktu serta menepikan berbagai resiko cedera. Tak jarang, mereka pun harus mengubur mimpi lama.

“The Terminator” Sunoto contohnya. Jauh sebelum dikenal sebagai atlet veteran Indonesia, Sunoto telah berjuang dalam jalur yang jauh berbeda.

Sejak terpaksa untuk tidak melanjutkan pendidikan usai lulus Sekolah Dasar (SD) karena faktor biaya, Sunoto meninggalkan kampungnya di Blora menuju Surabaya demi mencari penghidupan yang lebih baik.

Usai melakoni berbagai pekerjaan seperti menjadi pengantar laundry dan penggembala kambing, Sunoto menemukan jalan dalam dunia bela diri.

Setelah mendapat kehidupan yang lebih baik, Sunoto termotivasi untuk menciptakan generasi penerus dengan mendirikan sebuah gym sederhana di desa tempat kelahirannya.

“Dari awal, saya menganggap tempat latihan ini sebagai proyek sosial. Syukur-syukur jika bisa jadi jalan rezeki bagi orang lain,” harap Sunoto.

“Karena saya melihat bagaimana diri saya zaman dulu. Mimpi saya untuk merantau adalah mengumpulkan uang yang cukup untuk hari tua, dan bisa membuat sebuah kegiatan sosial yang bisa membantu orang.”

“Ini adalah mimpi lama saya. Syukur-syukur jika bisa banyak orang yang mengikuti langkah saya. Saya percaya membantu orang itu enggak ada ruginya, karena pasti akan kembali ke kita juga.”

Bertarung Demi Keluarga

Meraih prestasi terbaik di pentas global adalah satu hal, namun bisa menjadi tulang punggung keluarga dan memberi kebanggaan pada mereka yang turut berjuang sejak hari pertama adalah tujuan utama.

Pertarungan mereka tak terhenti saat bel terakhir berbunyi. Mereka tahu bahwa ada laga lain yang menunggu mereka.

Stefer “The Lion” Rahardian misalnya. Atlet yang sempat menorehkan sembilan kemenangan beruntun ini telah menjadi salah satu idola dalam dunia bela diri, tetapi tujuan akhirnya adalah bisa membahagiakan sosok yang telah membesarkannya.

Stefer dibesarkan seorang diri oleh sang ibunda. Kedekatan keduanya pun tak terpisahkan jarak meski sang anak kerap menghabiskan waktu berlatih di Bali MMA, sementara sang ibunda tinggal di Jakarta.

Usai meraih berbagai pencapaian di pentas global, Juara Turnamen ONE Flyweight Jakarta ini pun mampu merenovasi rumah ibunya di Jakarta.

Begitupun dengan Adrian “Papua Badboy” Mattheis, yang merantau dari Sorong, Papua Barat, menuju ibu kota Jakarta.

Hal itu, ia tempuh demi bisa membahagiakan mereka yang selalu mengiringi perjuangannya.

Lahir di Maluku Utara saat konflik tengah meruncing 27 tahun silam, Juara Turnamen ONE Jakarta Strawweight ini pun menjadi harapan untuk membawa perubahan bagi keluarga.

Usai mencoba berbagai karier termasuk sepakbola, garis hidup menuntunnya pada seni bela diri. Prestasi pun terus menghampiri, termasuk menjadi salah satu atlet dengan jumlah kemenangan terbanyak di divisi strawweight ONE Championship.

Pahlawan adalah mereka yang berjuang serta rela berkorban demi sebuah tujuan yang lebih besar dari dirinya, dan para atlet ini merupakan contoh tentang mereka yang mencoba menjadi pahlawan dari atas Circle.

Baca juga: Atlet ONE Kebanggaan Indonesia Maknai Arti Kemerdekaan