Fitur

Perjalanan Luar Biasa Sitthichai Menuju Puncak Dunia Bela Diri

Setelah beberapa bulan yang penuh spekulasi, “The Killer Kid” Sitthichai Sitsongpeenong akhirnya akan mencetak debut promosionalnya pada hari Jumat, 31 Juli.

Malam itu, atlet sensasional Thailand ini akan bertemu dengan rival lama dan kompatriotnya, Superbon, dalam sebuah laga super featherweight kickboxing pada ajang ONE: NO SURRENDER di Bangkok.

Ini akan menjadi pertemuan ketiga dari kedua striker kelas dunia ini, dimana sang pemenang akan mampu meraih tempat teratas dalam Peringkat Resmi Atlet ONE Championship.

Namun, sebelum Sitthichai berjalan keluar menuju Circle untuk pertama kalinya, mari kita ambil kesempatan ini untuk mempelajari sedikit lebih banyak tentang Juara Dunia kickboxing dan Muay Thai 11 kali ini.

Masa Kecil Dalam Dunia Muay Thai

View this post on Instagram

Good morning เช้านี้10โลพอเบาๆ@venum

A post shared by Sitt (@sitthichai_sitsongpeenong) on

Sitthichai dibesarkan di provinsi Buriram, oleh sepasang orang tua yang bekerja sebagai buruh dan petani. Keluarganya sangat miskin, tetapi ayah dan ibunya selalu menemukan cara untuk membawa makanan saat mereka pulang ke rumahnya.

Saat “The Killer Kid” berusia 9 tahun, ia mulai mempelajari Muay Thai dari ayahnya, seorang petinju Thailand bernama Samarn Muangrong.

Namun sang kepala keluarga ini tidak mengajarkan anaknya teknik miliknya untuk berkompetisi. Ia melakukannya untuk mempertahankan diri.

“Saat saya kecil, saya adalah anak bertubuh kecil dan lemah yang tak dapat melawan siapapun,” kenang Sitthichai. “Maka, ayah mengajarkan Muay Thai agar saya dapat mempertahankan diri dari perundung.”

Nampak bahwa anak ini juga menikmati latihan dalam disiplin ini, dan setelah dua tahun berlatih, ia merasa siap untuk menguji kemampuannya.

“Ayah saya bertanya apakah saya ingin berkompetisi dengan yang lainnya,” kata Sitthichai.

“Ada uji coba di desa saya saat itu, dan ia bertanya pada saya apakah saya ingin mencoba. Saya mengatakan, ‘Ya,’ maka ia pun membawa saya.

“Saat saya berada di uji coba tersebut, saya [melawan] seorang anak yang memiliki pengalaman dalam 10 laga, sementara itu adalah kali pertama saya.”

View this post on Instagram

เตรียมพร้อมไว้????????

A post shared by Sitt (@sitthichai_sitsongpeenong) on

Melawan seorang lawan yang lebih berpengalaman seperti itu, Sitthichai terhenti setelah serangan lutut dalam posisi clinch ke arah perut.

Tetapi, bahkan saat ia terkalahkan, ia menerima 150 baht (sekitar 70.000 rupiah) dan terkesan dengan cara mencari uang melalui “seni delapan tungkai.”

“Itu adalah cara tercepat mendapatkan uang,” katanya.

“Saya hanya berusia 11 tahun dan tidak pernah mendapatkan uang sebesar itu. Saya seperti, ‘Oh, saya mendapatkan sebanyak ini dengan melakukan ini?’ Maka, saya kira jika saya tetap melakukannya sebagai karier, saya akan dapat menerima lebih banyak uang dan merawat orang tua saya – dan saya dapat mendapatkan uang untuk mendukung diri saya sendiri.”

Termotivasi, Sitthichai kembali pulang dan terus mempertajam kemampuannya.

Hanya satu bulan kemudian, ia kembali berkompetisi dalam sebuah uji coba lainnya dan meraih kemenangan. Segera setelah itu, ayahnya membawanya ke sasana Sit Kru Yiam, dimana ia memgasah tekniknya.

“The Killer Kid” membawa seluruh teknik tersebut bersamanya ke dalam ring, tetap menang dan tetap mendapatkan lebih banyak uang.

“Itu adalah uang cepat dan juga berjumlah besar. Saya senang mampu mendapatkannya dengan cepat, dimana jumlah uangnya tetap bertambah,” katanya.

Ia juga menggunakan penghasilan barunya dengan bijak.

“Dengan uang yang saya dapatkan dari Muay Thai, saya mampu mengirim diri saya ke sekolah,” sebut Sitthichai. “Ditambah lagi, saya juga mampu mengurangi beban orang tua saya. Saya sangat bangga dapat melakukan itu. Sementara anak-anak lain masih bermain, saya mampu menghasilkan uang dan membantu keluarga saya.”

Ke Bangkok Dan Ke Luar Negeri

Saat Sitthichai berusia 15 tahun, ia berkompetisi di stadion terkenal bernama Lumpinee Stadium di Bangkok dan dalam laga di provinsi Buriram, dimana ia melanjutkan latihannya.

Namun, dua tahun kemudian, ia siap melakukan sebuah perubahan besar.

“Saat saya berusia 17 tahun, saya memikirkan cara untuk mengembangkan diri saya sendiri karena saya belatih di provinsi tersebut dan itu tidak terlalu efektif,” katanya.

“Saya merasa tidak cukup kuat untuk berkompetisi dengan lawan lainnya di Bangkok, maka saya berpikir untuk pindah ke Bangkok dan menemukan sebuah sasana untuk berlatih dan meningkatkan kemampuan.”

Seperti sebuah takdir, Tim Dharmajiva, pemilik dari Sitsongpeenong Gym, mencari seorang petarung berbakat kelahiran Thailand dengan tubuh yang cukup besar.

Ia bertemu dengan “The Killer Kid” dan merekrutnya ke dalam sasana miliknya itu.

“Untungnya, Boss Tim dari Sitsongpeenong Gym menginginkan sebuah petinju bertubuh besar yang dapat dipromosikannya untuk berbagai laga di luar negeri,” kenang Sitthichai.

“Saya berada di provinsi tersebut dan tidak memiliki lawan, namun saya berkenalan dengan Boss Tim dan ia membawa saya berlatih di sini, di Sitsongpeenong.”

Sitthichai akhirnya menerima pelatihan elit yang diinginkannya. Lalu, saat ia berusia 18 tahun, Dharmajiva membawanya ke Paris, Perancis, untuk berkompetisi di Turnamen Empat Orang “Nuit des Titans.”

Dalam laga semi final, ia bertemu Fabio Pinca, yang dianggap sebagai petarung Muay Thai terbaik di Perancis. Sitthichai mengalahkan striker Eropa ini melalui keputusan mutlak dan maju ke babak final, dimana ia berhadapan dengan veteran dan Juara Dunia Muay Thai beberapa kali Anuwat Kaewsamrit.

Nampaknya keadaan tak berpihak pada “The Killer Kid,” namun ia mengatasi hal itu demi kemenangan melalui keputusan mutlak dan merebut gelar dalam turnamen tersebut.

“Semua laga itu membuat saya ingin terus berlaga di luar negeri,” kata Sitthichai. “[Saya menerima] bayaran lebih baik dan menjadi lebih dikenal di sana.”

Dalam beberapa tahun berikutnya, atlet Thailand ini terus berkompetisi di skena internasional, tetapi ia juga memenangkan rangkaian sabuk emas di Thailand – termasuk Juara Dunia Lumpinee Stadium di 2014.



Beralih ke Kickboxing

Setelah memenangkan delapan gelar dalam Muay Thai sementara berkompetisi bersama beberapa organisasi terbesar di Thailand dan luar negeri, Sitthichai menginginkan perubahan. Warga asli Buriram ini merasa dirinya telah mencapai puncak, maka ia menantang dirinya sendiri dalam sebuah disiplin baru.

“Saya telah berlatih Muay Thai selama hidup saya, oleh karena itu saya ingin melakukan sesuatu yang ekstrim sejak meraih titik tertinggi dalam Muay Thai,” jelasnya.

“Saya juga ingin mencoba kickboxing. Saya juga ingin membuktikan diri saya sendiri dalam olahraga ini untuk melihat seberapa tinggi saya dapat terbang. Saya ingin mengalahkan diri saya sendiri. Kickboxing sangat dikenal secara global, dan bayarannya juga jauh lebih tinggi. Itulah yang membuat saya ingin menjadi kickboxer terbaik di dunia.”

Segera setelah beralih ke kickboxing, pria yang pernah dinominasikan sebagai Duta Muay Thai Internasional tahun 2015 oleh organisasi Sports Writers Association Of Thailand mulai jatuh cinta pada gaya yang bertentangan dengan olahraga ini.

“Apa yang saya sukai tentang kickboxing adalah bagaimana untuk melontarkan serangannya,” kata Sitthichai.

“Dalam kickboxing, kita dapat melontarkan berbagai senjata secara beruntun. Gayanya sangat berbeda dari Muay Thai. Kami dapat berlanjut memukul sampai mencetak KO atas lawannya – saya ingin menjadi sebagus itu.”

Dan, Sitthichai meraih kesuksesan. “The Killer Kid” mendapatkan 11 gelar kickboxing dari lima organisasi berbeda, dimana kemenangan terbesarnya termasuk sepasang kemenangan atas legenda kickboxing Andy “Souwer Power” Souwer, superstar Georgia Davit Kiria, serta lawan berikutnya – Superbon.

Namun, jalur menuju kejayaan ini tidaklah selalu gemerlap.

“Saya sangat bangga karena dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk meraih titik ini. Dibutuhkan waktu, pengalaman, kekuatan besar, otak saya, serta segalanya. Itu adalah perjalanan yang sangat melelahkan menuju puncak dunia,” kata Sitthichai.

“Tidak mudah untuk bertahan di puncak, namun saya melakukan yang terbaik. Saya mencoba yang terbaik untuk tetap berada di puncak sampai saya pensiun.”

Perjalanan Menuju ONE

Bulan Mei ini, Sitthichai mencetak salah satu langkah terbesarnya dalam karier kickboxing dan Muay Thai profesionalnya saat ia bergabung bersama ONE Championship.

Pria berusia 28 tahun ini telah berkompetisi di seluruh dunia, namun ia ingin masuk ke dalam Circle dan menguji kemampuannya melawan perkumpulan striker terbaik yang pernah ada.

“Alasan mengapa saya bergabug dengan ONE Championship adalah karena ada banyak petarung luar biasa,” sebutnya.

“Ada banyak petarung luar biasa yang tidak ada di tempat lain. Saya ingin membuktikan diri saya di panggung kelas dunia ini. Saya menginginkan gelar Kejuaraan Dunia di sini.”

Sebagai tambahan dari sebuah gelar Juara Dunia, Sitthichai sangat ingin menantang sepasang atlet yang belum pernah ia lawan sebelumnya – “The Boxing Computer” Yodsanklai IWE Fairtex dan Juara ONE Featherweight Kickboxing World Grand Prix Giorgio “The Doctor” Petrosyan.

Sitthichai menjadikan kedua pria ini sebagai panutan dalam karier kickboxing dan Muay Thai-nya, dimana tidak ada yang dapat memberinya kepuasan lebih besar daripada berbagi ring bersama kedua legenda ini.

Namun, terlebih dari itu, ia ingin dikenal di seluruh dunia sebagai atlet terbaik sepanjang masa.

“Saya ingin melanjutkan ini sampai saya sangat dikenal, baik di Thailand dan secara global,” tegasnya.

“Saya ingin mereka mengingat saya sebagai salah satu kickboxer terbaik di dunia. Saya ingin nama saya, Sitthichai Sitsongpeenong, untuk diingat sebagai juara dari seluruh turnamen yang ada, maka mereka dapat mengatakan bahwa kemanapun saya pergi, saya mendapatkan gelar kejuaraan.”

Baca juga: 5 Alasan Mengapa Anda Wajib Menyaksikan ONE: NO SURRENDER