Fitur

Martin Nguyen Ungkap Alasan Dirinya Berlatih Di Florida, Amerika Serikat

Menghadapi ajang bersejarah ONE: CENTURY di Tokyo, Jepang, bulan Oktober lalu, seluruh atlet terbaik dunia yang terlibat menghabiskan waktu demi mempersiapkan diri.

Hal ini termasuk atlet yang mendapatkan predikat pahlawan nasional Myanmar, Aung La “The Burmesse Phyton” N Sang, yang mempertahankan gelar Juara Dunia ONE Light Heavyweight miliknya melawan Juara Dunia ONE Heavyweight Brandon “The Truth” Vera.

Saat keduanya berhadapan, laga ini akhirnya dimenangkan oleh Aung La N Sang dengan sebuah KO spektakuler, dimana ia pun sukses mempertahankan gelarnya.

No matter how bleak things look… no matter how hard times are… NEVER. GIVE. UP!

No matter how bleak things look… no matter how hard times are… NEVER. GIVE. UP! Download the ONE Super App now ???? http://bit.ly/ONESuperApp

Posted by ONE Championship on Friday, August 23, 2019

Namun, yang unik saat itu adalah keberadaan seorang Juara Dunia lainnya, Martin “The Situ-Asian” Nguyen, yang sibuk membantu Aung La – yang adalah rekan berlatihnya di Hardknocks 365 – dan menjadi bagian dari timnya di pojok ring.

Sebelum laga di Tokyo, tim editorial onefc.com/id menemui Juara Dunia ONE Featherweight ini, dan ia berbagi cerita terkait kepindahannya ke Hardknocks 365 untuk berlatih, kesulitannya saat berada jauh dari keluarga, serta perubahan mental dan fisik yang ia rasakan sejauh ini.

ONE Championship: Dalam dua laga terakhir anda, anda berlatih bersama Hardknocks 365 di Florida, Amerika Serikat. Apa yang mendasari keputusan tersebut?

Martin Nguyen: Yang mendasari keputusan saya adalah keinginan untuk terus berkembang sebagai atlet. Saya harus keluar dari zona nyaman.

Setelah menonton ulang tiga laga terakhir saya, termasuk dua kekalahan dalam divisi Bantamweight, saya berpikir untuk melakukan perubahan. Ditambah [kenyataan bahwa] istri saya, Aung La N Sang, serta pelatih Henry Hooft memberi dukungan bagi saya untuk keluar dari zona nyaman tersebut.

ONE: Seberapa berat bagi anda untuk berada jauh dari keluarga saat berlatih di AS?

MN: Tentu saja berat, [bagi saya] keluarga adalah segalanya, dan keluarga merupakan prioritas nomor satu bagi saya.

Saya rindu ingin pulang ke rumah, dan saya tidak merasa di rumah saat tidak bersama mereka [istri dan anak-anak saya]. Namun istri saya baru saja datang untuk menemui saya di Florida, dan saya sangat berterima kasih atas semua yang ia lakukan, serta semua yang telah dilakukannya sebelumnya.

ONE: Apakah anda berlatih saat sudah mendapat jadwal bertanding saja, ataukah memang anda menetap untuk berlatih?

MN: Setelah saya mendapat konfirmasi laga yang akan datang, saya akan terbang ke Florida [menuju Hardknocks 365] untuk berlatih selama delapan minggu penuh, dan pulang ke rumah [Australia] selama satu minggu – sebelum kembali terbang menuju tempat pertandingan diselenggarakan.

ONE: Pertandingan pertama anda bersama Hardknocks 365 adalah saat anda menghadapi Narantungalag Jadambaa – dimana anda banyak melemparkan tendangan. Apakah tendangan menjadi senjata yang dipersiapkan oleh sasana baru ini?

MN: Benar, saya melemparkan banyak tendangan. [Bagi saya,] selalu ada senjata yang belum saya manfaatkan dengan maksimal [dalam tiap laga sebelumnya]. 

Saya kira saya memiliki kemampuan lebih untuk ditampilkan saat sedang bertanding, namun segala sesuatu dapat terjadi dalam sebuah laga. [Oleh karena itu,] dengan berlatih di Hardknocks, saya mendapatkan kepercayaan diri yang lebih, serta lebih menajamkan kemampuan striking saya.

ONE: Di Hardknocks 365 terdapat banyak atlet papan atas, seperti Aung La dan atlet hebat lainnya. Bagaimana perasaan anda berlatih setiap hari dengan atlet terbaik dunia itu?

MN: Semua atlet di Hardknocks sama buasnya seperti singa. Dalam berlatih, saya kalah setiap harinya, ‘dihajar’ di sasana (sambil tertawa).

Namun mereka membuat saya tetap rendah hati, dan terpenting adalah bahwa mereka selalu memastikan saya berada di kondisi puncak ketika sedang bersiap menuju sebuah pertandingan apapun.