Fitur

Kisah Perjuangan Eko Roni Saputra Lepas Dari Kesulitan Hidup

9 April 2019

Para penggemar seni bela diri campuran asal Indonesia tidak akan beranjak dari tempat duduk mereka saat salah satu atlet bela diri terbaik dari negara ini tampil perdana bersama ONE Championship di Manilla, Filipina.

Atlet peraih medali perak SEA Games dan sempat merajai beberapa kejuaraan gulat nasional, Eko Roni Saputra terbukti memiliki keterampilan diatas kanvas, tetapi saat ini ia akan membawa kemampuannya ke dalam “The Home Of Martial Arts” demi menggapai kemenangan di panggung dunia.

Atlet berusia 27 tahun ini datang dari awal yang sederhana, sebelum menjadi salah satu harapan bangsa untuk meraih sukses dalam ajang bela diri tingkat dunia.

Kini, ia mendapatkan kesempatan baru untuk melawan Niko Soe dari Singapura dalam ajang ONE: ROOTS OF HONOR, walau sebelumnya ia juga telah meraih berbagai pencapaian dalam karirnya sebagai pegulat nasional.

Martial arts gave Indonesian hero Eko Roni Saputra a way to pull his family out of poverty.

Martial arts gave Indonesian hero Eko Roni Saputra a way to pull his family out of poverty. Manila | 12 April | 6:00PM | Watch on the ONE Super App: http://bit.ly/ONESuperApp | TV: Check local listings for global broadcast | Tickets: http://bit.ly/onehonor19

Posted by ONE Championship on Tuesday, April 2, 2019

Eko memutuskan untuk berpindah ke seni bela diri campuran dengan membawa lebih dari kemampuan gulatnya.

Awalnya, pria yang dahulu tinggal di Samarinda, Kalimantan Timur ini diperkenalkan kepada disiplin ini oleh ayahnya – mantan petinju yang akhirnya menjadi pelatih demi menghidupi keluarganya saat usahanya berjualan ikan harus berakhir.

Bahkan sebelum Eko maju ke pertandingan pertamanya, dia memiliki dorongan untuk menjadi atlet yang sukses dalam berbagai disiplin bela diri.

“Sejak saya kecil saya selalu ikut dengan ayah saya dimanapun dia melatih petinju,” sebutnya.

“Menjadi seorang atlet bela diri adalah salah satu cara untuk keluar dari kemiskinan. Awalnya saya memulai dengan tinju, dan sayapun menjadi seorang yang tak terkalahkan pada saat saya ada di sekolah dasar.”

“Saat saya umur 13 tahun, saya merubah haluan menjadi seorang pegulat, karena ayah saya mengatakan bahwa kesempatan untuk menjadi juara nasional lebih besar. Awalnya saya benci dengan perubahan itu, namun saya menjadi terbiasa dan akhirnya menemukan sukses.”

Eko harus berjuang keras untuk unggul dari lawan-lawannya dan mendedikasikan hidupnya untuk berlatih. Hal ini tidaklah mudah, meski ia mendapatkan dukungan penuh dari keluarga dan teman-temannya. Salah satu hal yang paling menonjol adalah biaya yang ia butuhkan untuk bertahan hidup dan berlatih.

Bagi Eko, menjalani latihan pun memiliki kesulitan tersendiri. Namun, atlet berbakat dalam divisi flyweight ini tetap memiliki semangat dan melakukan apapun yang ia dapat lakukan untuk berhasil.

“Pada saat itu training camp saya agak jauh dari tempat saya tinggal – sekitar enam kilometer dari rumah,” katanya.

“Saya harus berjalan pulang pergi dari rumah dan sasana, karena ayah saya tidak mempunyai kendaraan untuk membawa saya kesana. Terkadang saya dapat ikut bersama beberapa teman yang memiliki kendaraan.”

“Kondisi keuangan kami pada saat itu sangat terbatas, dan atlet di Kalimantan Timur tidak punya dukungan dari organisasi. Jika kami pergi bertanding, kami tinggal di tempat yang tidak memiliki fasilitas latihan, dan kami juga harus mencari makanan sendiri. Walaupun begitu, saya tetap fokus untuk menggapai sukses.”

Eko Roni Saputra is the pride of

Eko Roni Saputra is the pride of Manila | 12 April | 6:00PM | Watch on the ONE Super App: http://bit.ly/ONESuperApp | TV: Check local listings for global broadcast | Tickets: http://bit.ly/onehonor19

Posted by ONE Championship on Saturday, April 6, 2019

Ketekunan Eko membuahkan hasil saat dia mewakili Indonesia dalam berbagai pertandingan internasional, termasuk di ajang SEA Games – dimana dia meraih dua kali kemenangan – dan Asian Games.

Keberhasilannya menarik perhatian para petinggi dalam sasana bela diri ternama – Evolve MMA di Singapura – yang selalu mencari atlet kelas dunia untuk bergabung dengan fight team mereka.

Setelah Asian Games di Jakarta tahun lalu selesai, Eko memberanikan diri membawa istri dan putranya untuk pindah ke Singapura demi mempersiapkan diri sebelum penampilan perdananya bersama ONE.

Sejauh ini, ia mengatakan bahwa segalanya berjalan dengan semestinya.

“Saya sudah mempunyai dasar yang baik dalam tinju, dan sekarang saya merasakan berbagai macam bela diri saat saya berlatih di Singapura. Transisi saya kedalam disiplin bela diri campuran tergolong lancar berkat lingkungan saya,” jelasnya.

“Sudah tujuh bulan saya bergabung dalam Evolve – sasana yang memiliki Juara Dunia dalam berbagai disiplin. Saya merasa tertantang. Saya masuk ke dalam semua sesi latihan – Brazilian Jiu-Jitsu, kickboxing, Muay Thai dan grappling – dimana tiap kelas diajar oleh instruktur yang kemudian menjadi idola saya.”

Eko telah menempuh jalan yang cukup jauh dan penuh halangan, dari mulai berlatih bela diri, menjadi atlet nasional, hingga menjadi atlet kelas dunia yang menerima kesempatan menjadi bagian dari ONE Championship, dengan dukungan dari salah satu sasana yang memiliki fasilitas latihan terbaik di dunia.

Tetapi, dirinya harus dapat membuktikan diri di bawah sorotan – yang dimulai dari ONE: ROOTS OF HONOR. Para pelatih, dan tentunya masyarakat Indonesia, memiliki harapan tinggi terlepas dari pengalamannya yang masih baru di dalam dunia MMA. Karena itu Eko merasa sedikit gugup menghadapi Niko.

“Walau saya telah bertanding dan mewakili Indonesia di beberapa ajang kompetisi gulat [internasional], saya masih merasa gugup karena saya masih baru dalam disiplin ini,” katanya.

“Secara mental saya siap, tetapi rasa takut menghadapi atlet yang sudah lebih berpengalaman masih ada. Ini adalah dunia baru bagi saya.”

Namun, berkat latihan gulatnya, ia dapat mengubah ketegangan dan ketakutan tersebut menjadi sebuah kekuatan, dimana ia yakin dapat membanggakan semua pendukungnya pada hari Jumat ini.

“Saya mengerti apa yang saya harus lakukan adalah mengendalikan rasa takut saya,” katanya. “Saya 100 persen siap untuk menang dan [akan] terus mendorong kemampuan saya.”

“Saya masih mewakili Indonesia, dan berharap dapat membawa gelar juara dunia untuk negara.”