Bela Diri Campuran

Kisah Inspiratif Team Lakay Di Mata Para Atlet Indonesia

13 Nov 2020

Selain menjadi rumah bagi para Juara Dunia seni bela diri campuran Filipina, Team Lakay juga menginspirasi para superstar Indonesia.

Berawal dari sebuah gedung olahraga universitas jauh di Pegunungan Baguio, Filipina, nama Team Lakay telah menggaung ke seantero dunia sebagai pencetak banyak Juara Dunia seni bela diri campuran.

Lewat tangan dingin sang pelatih sekaligus pendiri Mark “The Machine” Sangiao, Team Lakay berhasil mencapai puncak kejayaannya di akhir tahun 2018 silam lewat jumlah raihan empat sabuk Juara Dunia ONE – sekaligus menempatkan sasana ini di peringkat teratas skena seni bela diri campuran dunia.

Adapun, pencapaian luar biasa itu tercipta berkat mantan Juara Dunia ONE Featherweight Honorio “The Rock” Banario, mantan Juara Dunia ONE Lightweight Eduard “Landslide” Folayang, mantan Juara Dunia Flyweight ONE Geje “Gravity” Eustaquio dan Juara Dunia ONE Strawweight Joshua “The Passion” Pacio yang  semuanya merupakan atlet terbaik Team Lakay.

Satu hal yang menjadi daya tarik Team Lakay, tentu adalah rasa kekeluargaan dan disiplin serta kerja keras para atletnya. Pencapaian dan nilai-nilai dasar atlet Team Lakay itulah yang menjadi inspirasi bagi para atlet ONE asal Indonesia.

Jelang aksi tiga perwakilan Team Lakay malam nanti di ONE: INSIDE THE MATRIX III, simak pendapat para atlet Indonesia tentang sasana legendaris ini.

“The Terminator” Sunoto

Bagi Juara WKF Indonesia “The Terminator” Sunoto, Team Lakay merupakan satu paket komplit yang merintis jalannya dari bawah hingga ke panggung global.

Untuk Sunoto yang kini tengah merintis jalan untuk mencetak atlet muda berbakat dari kampung halamannya di Blora, pencapaian Team Lakay disebutnya tak lepas dari kehebatan sang pelatih utama.

“Saya rasa dari pelatihnya. Mark Sangiao itu benar-benar pengorbanannya  luar biasa kalau menurut saya. Dia berkorban pensiun dini sebagai atlet, mengembangkan wushu dan MMA di sana, dan akhirnya mengembangkan itu. Tahu sendiri dari daerah Baguio itu selain di pegunungan juga kurang [fasilitasnya],” tutur perintis Terminator Top Team itu.

Lokasi sasana yang berada jauh dari kota besar terbukti tak jadi penghalang untuk mencetak prestasi – semangat yang juga ingin dibagikan oleh Sunoto di kampung halamannya.

“Semangatnya anak-anak sana memang luar biasa, ditambah sudah ada senior-seniornya yang sudah lebih dulu berhasil.”

“Kalau orangnya itu sama kayak orang Indonesia. Dari segi fisik saja mereka mukanya familiar, Indonesia banget. Terus lagi mereka juga humanis kayak orang Indonesia. Saling sapa, murah senyum, dan gitu-gitu [ramah]. Diajak ngobrol juga biasa,” puji Sunoto.



Abro “The Black Komodo” Fernandes

Senada dengan Sunoto, peraih beberapa gelar Juara Bantamweight Indonesia Abro “The Black Komodo” Fernandes juga menyebut terinspirasi oleh mesin di balik Team Lakay.

“Saya rasa itu dimulai dari pelatih kepalanya sih, dia bisa mengajarkan para muridnya dengan baik dan dia pernah bermain di olah raga ini juga,” ujar perwakilan sasana Han Academy tersebut.

“Saya lihat atlet-atlet Lakay dulunya tidak sebagus sekarang, tapi mereka mau belajar dari kegagalan dan menjadi solid karena bimbingan sang pelatih.”

Atlet kelahiran Timor Leste itu juga setuju dengan ungkapan Team Lakay, perihal atlet hebat yang diciptakan dari bawah berkat kerja keras, terlepas dari bakat atau status sosial.

“Kalau dilihat dari tim elite lain, mereka mengumpulkan banyak atlet dari berbagai macam disiplin. Sedangkan di Team Lakay, mereka dilatih dari nol untuk menjadi atlet MMA.”

Adrian “Papua Badboy” Mattheis

Lain lagi dengan Juara Turnamen ONE Strawweight Indonesia Adrian “Papua Badboy” Mattheis, atlet Tigershark Fighting Academy ini mengaku salut akan kekompakan yang dimiliki oleh Team Lakay.

“Menurut saya mereka itu sebuah tim yang solid sekali. Saat salah satu anggota mereka menekuni satu olah raga, mereka semua langsung membantu dan mendukung orang itu,” ujar atlet kelahiran Ternate, Maluku Utara itu.

Adrian yang juga tergabung dalam kelompok Papua Top Team itu juga menyadari betul akan pentingnya kekeluargaan sebagai modal pendewasaan seorang atlet.

“Itu sih yang Adrian lihat saat kickboxing di sana. Benar-benar berasa seperti keluarga tim itu.”

Aziz “The Krauser” Calim

Tidak jauh beda dengan Adrian, Juara Karate Indonesia Aziz “The Krauser” Calim juga mengidolai Team Lakay serta para atletnya yang punya striking kuat.

“Team Lakay mempunyai anggota yang tangguh semua, mereka sangat sulit untuk dijatuhkan [lewat striking],” ujar atlet muda perwakilan Han Academy itu.

Namun, permainan keras para atlet Team Lakay itu disebut Aziz tak lepas dari semangat kekeluargaan yang jadi motor utamanya.

“Team Lakay solid sekali sebagai suatu tim. Seperti sebuah keluarga,” pungkas atlet berdarah Indonesia dan Filipina tersebut.

Baca juga: Jelang ONE: INSIDE THE MATRIX III, Abro Fernandes Ungkap Sisi Berbahaya Lito Adiwang

Muat Lebih Banyak

Ikuti perkembangannya

Bawa ONE Championship kemana pun anda pergi! Daftarkan diri untuk mendapatkan akses ke berita terbaru, berbagai tawaran spesial dan kursi terbaik dalam gelaran langsung kami.
Dengan mengirimkan formulir ini, anda menyetujui pengumpulan, penggunaan dan pembukaan informasi anda berdasarkan Privacy Policy kami. Anda dapat membatalkan (unsubscribe) dari jenis komunikasi ini kapan saja.