Fitur

Kedua Putri Eduard Folayang Beri Motivasi Untuk Jadi Yang Terbaik

Eduard “Landslide” Folayang menikmati akhir yang baik untuk tahun 2018.

Ia merebut gelar Kejuaraan Dunia ONE Lightweight yang saat itu lowong di hadapan rekan senegaranya di Mall Of Asia Arena, Manila, Filipina, bulan November lalu.

Lalu, satu bulan kemudian, pahlawan Filipina ini mengalami sebuah pengalaman luar biasa lainnya. Istrinya melahirkan anak kedua mereka — seorang bayi perempuan bernama Yahamaziach.

Itu adalah kulminasi terbaik bagi Folayang.

Pria berusia 35 tahun ini harus melewati pemusatan latihan selama delapan minggu yang intens untuk laga perebutan gelar Juara Dunia, sementara ia merawat istrinya yang berada di trimester terakhir kehamilannya.

“Itu adalah pengorbanan besar bagi kami berdua,” kata warga Baguio itu.

“Saya berterima kasih pada istri saya, yang sangat mengerti, dan bagi teman-teman saya yang sangat membantu.”

“Situasi kami melengkapi [satu sama lain] dalam konteks bahwa ia melewati banyak hal, yang memberi saya motivasi untuk melakukan yang terbaik demi mempersiapkan laga ini.”

Dengan empat anggota keluarga saat ini, yang termasuk anak perempuan sulung Yeshuareigns, Folayang lebih terinspirasi lagi untuk menjadi Juara Dunia dan panutan terbaik.

Ia menyambut tanggung jawab untuk menuntun anak-anaknya mengarungi perjalanan hidup mereka masing-masing, serta memberi nafkah bagi keluarganya.

Bagi “Landslide,” hal itu berarti ia harus tetap menang di dalam arena ONE Championship, serta menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka yang dikasihinya itu.

“Ini memberi saya motivasi untuk memenuhi kebutuhan mereka, karena saya menyadari bahwa saya harus memenuhi tanggung jawab saya sebagai ayah dan pencari nafkah saat anak kedua saya tiba,” jelas pria Filipina ini.

“Itu membantu saya berpikir lebih cerdas dan bekerja lebih keras dalam bidang saya, dan saya harus menjadi lebih baik dalam menyeimbangkan waktu dan prioritas saya.”

Saat keluarganya bertumbuh lebih besar, Folayang juga mulai menyadari bahwa ia akan harus mengalihkan pendekatannya terkait latihan dan kompetisi.

Warga Baguio ini telah berjaya dalam dunia olahraga tarung. Selama kariernya, ia telah merebut 11 medali terbesar dalam wushu, dan kini tiga kali menjadi Juara Dunia ONE Lightweight.

Namun, untuk mendapatkan seluruh penghargaan itu, “Landslide” harus menghabiskan banyak waktu di bawah asuhan pelatih kepala Mark Sangiao di Team Lakay.

Ada saat dimana cedera terjadi dalam pemusatan latihan, serta dalam pertarungan, dan karena itu juga menjadi kekhawatiran bagi ayah dua anak ini, ia tak melihat itu sebagai penghalang.

“Anda tak dapat menyingkirkan keinginan untuk menjaga diri sendiri dari seseorang, terutama saat memikirkan masa depan anak-anaknya,” tegasnya.

“Secara pribadi, saya kira saya harus lebih hati-hati dalam pendekatan saya dan mempersiapkan diri saya lebih baik laga untuk berlaga demi menghindari risiko yang tak diinginkan sebaik mungkin.”

Folayang juga berharap bahwa kedua putrinya dapat menghargai kerja kerasnya dalam karier bela diri campuran ini.

Warga Baguio ini jelas menjadi salah satu seniman bela diri terpopuler di seluruh dunia, dimana ia pun menjadi panutan dan simbol bagi para kompatriotnya di Filipina.

Ia tak berencana menggantung sarung tangan 4-ons miliknya dengan segera, karena “Landslide” masih memiliki banyak tujuan yang ingin dicapainya. Tetapi, ia pun berharap bahwa anak-anaknya dapat bertumbuh dewasa dengan menghargai warisan yang telah ia bangun dalam olahraga ini dan dampak yang diciptakannya pada lingkungan sekitarnya.

“Saya [ingin mereka melihat] bahwa saya telah berbagi kehebatan saya melalui seni bela diri pada dunia,” tegasnya.

“Saya berharap mereka melihat bahwa lewat pencapaian saya, saya telah menginspirasi orang lain untuk menjadi lebih baik dalam perjalanan hidup mereka sendiri.”

ONE LightweightWorld Champion Eduard Folayang from November 2016

Pencapaian terbaik Folayang mungkin dapat terjadi di ajang perdana ONE di Jepang, pada Minggu, 31 Maret nanti.

Ia akan mempertahankan sabuknya melawan ikon bela diri Jepang Shinya “Tobikan Judan” Aoki dalam laga utama ONE: A NEW ERA, yang berlangsung di arena bersejarah Ryogoku Kokugikan, Tokyo.

Jika sang pahlawan Filipina ini dapat sekali lagi mengalahkan Aoki, ia dapat memastikan statusnya sebagai atlet lightweight terbaik Asia dalam sejarah bela diri campuran.

Muat Lebih Banyak

Ikuti perkembangannya

Bawa ONE Championship kemana pun anda pergi! Daftarkan diri untuk mendapatkan akses ke berita terbaru, berbagai tawaran spesial dan kursi terbaik dalam gelaran langsung kami.
Dengan mengirimkan formulir ini, anda menyetujui pengumpulan, penggunaan dan pembukaan informasi anda berdasarkan Privacy Policy kami. Anda dapat membatalkan (unsubscribe) dari jenis komunikasi ini kapan saja.