Bela Diri Campuran

Keberanian Yang Kuatkan Agilan Thani Dalam Karir Bela Dirinya

Agilan “Alligator” Thani harus berjuang melawan kesulitan besar, namun semangat juangnya tidak pernah mengizinkannya untuk mundur dari sebuah tantangan.

Atlet Malaysia ini menunjukkan keberanian untuk menghadapi ujian dalam kehidupan dan karirnya secara langsung, agar ia dapat menjadi salah satu atlet bela diri tersukses dari negaranya.

Mentalitas itu mendorong dirinya ke tempat dimana ia berada hari ini, serta menguatkannya sebelum ajang bela diri terbesar dalam sejarah, dimana ia akan menghadapi Yushin “Thunder” Okami di gelaran ONE: CENTURY PART I pada hari Minggu, 13 Oktober.

“[Kata] keberanian memiliki arti besar bagi saya karena saya seringkali membutuhkan keberanian untuk bergerak maju,” kata mantan penantang gelar Juara Dunia ONE Welterweight itu.

“Saya harus berkutat dengan berbagai isu, bahkan saat saya masih kecil, dan tanpa pemikiran yang benar, saya tidak akan berada di titik ini, hari ini.”

Perwakilan Monarchy MMA ini harus menunjukkan keberanian untuk menghadapi perundung yang menyiksanya saat ia berada di sekolah menengah atas. Sebagai remaja berbobot 139 kilogram, Agilan adalah korban perundungan dan penganiayaan kejam, maka ia berkomitmen di dalam dunia bela diri untuk merubah kehidupannya.

Setelah mulai berlatih, ia ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin di dalam sasana untuk mengembangkan semangat barunya ini, namun ia mengalami penolakan ayahnya.

“Saya bekerja di Monarchy sebagai tukang bebersih, dan ayah saya tidak menyukai pilihan saya,” kata atlet berusia 24 tahun itu.

“Ia bertanya mengapa saya bekerja untuk bayaran yang sedikit dan menunjukkan beberapa pekerjaan yang memiliki bayaran lebih besar, dan tidak membutuhkan saya untuk bekerja pada jam-jam yang tidak wajar.”



Namun, uang bukanlah menjadi faktor yang memotivasi Agilan muda. Kebahagiaannya lebih penting, dan ia pun berbicara dengan penuh kebanggaan tentang bagaimana ia bertahan dalam prinsipnya.

Dengan melakukan itu, ia tetap berada dalam jalur yang tepat demi sebuah karier di dalam ONE Circle.

“Saya harus memiliki keberanian untuk menjelaskan kepada ayah saya dan menghidupi itu. Saat anda senang dengan apa yang anda inginkan, anda akan mengetahui betapa pentingnya menemukan determinasi dan ‘grit’ untuk bergerak maju,” tegas Agilan.

“Tidak ada kesenangan dalam melakukan hal yang tidak akan membuat anda merasa lebih baik tentang diri sendiri, dan sementara saya masih bekerja di Monarchy, saya merasa baik tentang diri saya sendiri.”

“Saya bekerja keras setiap hari, dan Samir [Noury Mrabet, pendiri sasana] selalu menekan saya. Ia ingin saya mengurangi berat badan, meningkatkan permainan saya, dan lebih banyak lagi. Seluruh hal tersebut membentuk saya menjadi diri saya saat ini.”

Seluruh kerja keras “Alligator” membawanya ke ONE, dimana ia segera meraih kesempatan menantang gelar Juara Dunia setelah mencetak rekor 7-0 dengan tingkat penyelesaian 100 persen.

Pencapaian sempurnanya berakhir di situ, dan walau ia sangat sedih atas kekalahannya, ia menemukan kekuatan untuk kembali bangkit, membuang seluruh bebannya, serta mulai bekerja keras untuk kembali ke puncak.

“Dibutuhkan banyak keberanian untuk kembali. Namun, saya menyadari bahwa saya telah melakukannya terus menerus dalam kehidupan saya,” katanya.

“Saya mengatakan pada diri saya sendiri bahwa jika saya sekali gagal, saya harus mencari semangat, keberanian dan mentalitas untuk tetap berusaha berkali-kali sampai saya mencapai target dalam karir saya.”

Pria kelahiran Sentul ini kembali ke jalur kemenangan, namun segera mengalami titik rendah dalam karirnya saat kekecewaan dari dua kekalahan harus ditambah dengan isu kesehatan fisik dan mentalnya.

Namun, sekali lagi, Agilan memiliki kekuatan hati untuk mengatasi rasa sakitnya dan pulih ke titik dimana ia dapat mencetak kedatangan kembali di atas panggung dunia.

“Dorongan saya pada titik ini adalah untuk meyakini diri sendiri bahwa saya mampu mengatasi situasi seperti ini. Determinasi dan keberanian yang saya temukan saat itu adalah sesuatu yang saya pegang sampai saat ini,” katanya.

“Tiap hari, saya selalu ingin membuktikan pada diri saya sendiri bahwa saya mampu melakukan segala sesuatu dan apapun, kapanpun.”

Segera setelah ia pulih dari operasinya, “The Home Of Martial Arts” memberi kesempatan bagi dirinya dalam sebuah laga untuk menampilkan keberaniannya, dan kesempatan menunjukkan bahwa ia layak berada diantara atlet elit dalam divisi welterweight.

“Alligator” dijadwalkan berlaga melawan atlet ikonik keturunan Jepang-Korea Yoshihiro “Sexy Yama” Akiyama pada bulan Juni, dan walau mengakui ia sangat gelisah atas laga tersebut – terutama setelah dua kekalahan beruntun – ia maju menyambutnya.

“Saya memiliki berbagai ketakutan untuk berhadapan dengan [Yoshihiro] Akiyama. Ia berada dalam permainan ini cukup lama, dan namanya sangat besar,” akunya.

“Bahkan di hotel di Tiongkok, semua orang terkejut melihat saya sebagai orang yang akan melawan [Yoshihiro] Akiyama. Mereka yang bertemu saya di lobi hotel meragukan saya, namun saya sadar bahwa paling tidak saya tidak dapat meragukan diri saya sendiri.”

Agilan membuktikan diri dengan sebuah penampilan berani dan memenangkan laga keras ini melalui keputusan mutlak, dan ini membawa dirinya berhadapan dengan salah satu raksasa lain dari Jepang – Yushin Okami.

“Thunder” adalah figur menakutkan lainnya untuk dihadapi di dalam Circle, namun “Alligator” yakin keberaniannya dapat memperkuat dirinya untuk sekali lagi meraih kemenangan atas kompetitor berpengalaman.

“Ya, saya yakin akan itu. Saya mengetahui kemampuan saya, dan ini bukannya saya tidak memiliki kemampuan atau [pengalaman] menahun di belakang saya,” kata Agilan.

“Saya telah berada di olahraga ini sejak berusia 16 tahun, dan saya selalu belajar bahwa saya tidak dapat mengecewakan diri saya sendiri. Saya ingin pergi ke Jepang dan kembali dengan hasil yang baik.”

Baca Juga: 10 Kuncian Terbaik Dari Bintang Yang Berlaga Di ONE: CENTURY PART I

Tokyo | CENTURY | Gelaran Ke-100 ONE Championship | Tiket: Dapatkan disini

ONE: CENTURY adalah ajang Kejuaraan Dunia bela diri terbesar dalam sejarah dengan 28 Juara Dunia yang tampil dalam berbagai disiplin bela diri. Belum ada organisasi dalam sejarah yang pernah mempromosikan dua ajang Kejuaraan Dunia di hari yang sama.

“The Home Of Martial Arts” kembali membuka babak baru dengan menyajikan beberapa laga perebutan gelar Juara Dunia, tiga babak final Kejuaraan World Grand Prix, serta serangkaian Juara Dunia yang akan melawan Juara Dunia lainnya di lokasi ikonik Ryugoku Kokugikan, Tokyo, Jepang, tanggal 13 Oktober.