Adrian Mattheis Berbagi Arti Julukan “Papua Badboy” Bagi Dirinya

Adrian Mattheis YK4_6920

Lahir di Maluku dan besar di Sorong, Adrian Mattheis adalah seorang atlet ONE Championship dari Timur Indonesia.

Identitas ini pun turut dibawanya ke dalam Circle lewat julukan “Papua Badboy,” dimana kehidupannya sarat dengan kata perjuangan, bahkan sejak ia kecil.

Jauh sebelum menjadi Juara Turnamen ONE Strawweight Indonesia, masa kecil Adrian diwarnai oleh latar belakang konflik Ambon, hingga perpindahannya ke Sorong demi mencari kehidupan yang jauh lebih baik.

“Jadi, Adrian kan memang lahir di Halmahera saat kerusuhan Ambon Ternate tahun 1999 dan 2000. Papa bawa saya ke Papua,” kenang Adrian dengan logat Timurnya yang khas.

Di Papua, atlet muda ini pun sempat menjadi pemain bola junior, sebelum menemukan cinta sejatinya di dalam seni bela diri, yang diawalinya melalui disiplin karate.

Hanya, layaknya tiap kisah pencarian cinta sejati, ada sebuah alasan yang mempertemukan pria ini dengan dunia bela diri. Salah satunya adalah sebuah cerita perundungan yang dialaminya dahulu, saat ia masih duduk di bangku pendidikan perguruan tinggi.

“[Sekitar tahun] 2013-an, sewaktu pertama-tama masuk kuliah. Iya, begitu kakak, [saya] suka di-bully senior,” kata Adrian. ” Tetapi, segala sesuatu juga membutuhkan proses. Dengan perundungan itu, Adrian sengaja berlatih untuk menjaga diri, tapi ternyata Tuhan bilang garis tanganmu seperti ini, [maka] lakukanlah.”



Adapun kegemaran Adrian akan seni bela diri kian membuncah, saat dirinya bertemu dengan sosok pelatih Zuli Silawanto – yang sampai saat ini masih menjadi pelatih utamanya di Tigershark Fighting Academy– di perguruan tinggi yang sama. Di bawah bimbingan Zuli, Adrian pun ditempa menjadi pribadi tangguh seperti sekarang.

Namun, layaknya murid yang sangat sulit diberi nasihat, sang pelatih pun memiliki sebutan khusus bagi Adrian.

Tak disangka, sebutan itu malah menjadi cikal bakal julukannya sebagai seorang atlet bela diri campuran elit sampai saat ini, yaitu “Papua Badboy.”

“Sebenarnya, julukannya itu ‘Badboy’ saja dari pelatih, karena Adrian [selalu] melawan apa yang [diinstruksikan] pelatih. Adrian suka bikin game plan sendiri,” sebutnya.

Harapan Besar Bagi Adrian Mattheis Dari Sang Pelatih Di Tigershark

Namun, ada pelatih lainnya yang menganggap julukan ‘Badboy’ itu masih belum cukup. Identitas Adrian sebagai putra daerah Papua ini disebut dapat melengkapi persona Adrian di atas panggung dunia ONE.

“Ada pelatih saya, coach Ranu, mengatakan, ‘Bagusnya ditambahilah dari asal daerah mana dia.’ Kebetulan saya kan dari Papua, maka saya dinamakan ‘Papua Badboy’,” ujar pencinta lagu Kasih Slow Tempo ini.

Julukan ini pun disematkan di tengah nama Adrian, dan ia dengan bangga menyandangnya saat pertama kali menjalani debut profesional dalam ajang ONE: TITLES AND TITANS di Jakarta, 26 Agustus 2016 silam.

Stefer Rahardian defeats Adrian Mattheis at ONE DAWN OF VALOR DC IMGL6880.jpg

“Adrian diberikan julukan itu tepat saat mau bermain di ONE, itu yang pertama kali. Langsung jadi satu kesatuan, tidak setengah-setengah. Langsung dengan julukan itu,” tegasnya.

Bagi dirinya, julukan yang dimilikinya juga sekaligus menjadi cara untuk mengharumkan nama daerah asalnya. Tetapi bukan Adrian namanya kalau ia tidak memiliki sisi humoris, seperti yang seringkali ditampikannya di media sosial.

“[Julukan] itu tersangkut sampai sekarang. [Tetapi] saya mau bilang sama kakak, kalau ‘badboy’ cukup di dalam ring, kalau di luar ring ‘good boy’ (anak baik),” sebutnya sambil bercanda.

Terlepas dari julukannya ini, Adrian juga tak jarang memasuki Circle dalam balutan nuansa etnik Papua. Sebut saja tas noken yang ia gantungkan di leher, serta topi adat Papua yang sarat bulu ayam dan cenderawasih.

Keduanya memang merupakan kekayaan budaya Bumi Cenderawasih Papua.

“Jadi begini, di samping [julukan] Adrian tadi, Adrian juga memperkenalkan kita Indonesia punya banyak budaya. Walau kita beda-beda, tetap satu kita, Indonesia,” pungkasnya.

Baca juga: Adrian Mattheis Ungkap Filosofi Di Balik Lagu ‘Kasih Slow Tempo’

Selengkapnya di Fitur

Superlek and Abdulla Dayakaev at The Inner Circle 14
Enkh Orgil Baatarkhuu (L) faces off with Elbek Alyshov (R) before The Inner Circle 24
Enkh Orgil
Zhang Peimian Jonathan Di Bella ONE162 1920X1280 47
Zhang Peimian gets ready for his fight at ONE Friday Fights 142
Joshua Pacio and Mansur Malachiev share a moment after their ONE Fight Night 15 battle.
Asadula Imangazaliev Nong O Hama ONE Friday Fights 147 7 scaled
uzbek
Allycia Hellen Rodrigues Phetjeeja Lukjaoporongtom faceoff The Inner Circle May 15 8 scaled
Jaosuayai Mor Krungthepthonburi Denis Puric ONE Friday Fights 100 21
Chartpayak Saksatoon Ramadan Ondash ONE Friday Fights 114 30 scaled
Ramadan Ondash Pichitchai PK Saenchai ONE Friday Fights 61 25 scaled