Opini

Shinya Aoki’s ONE 101: Membedah Divisi Berat Badan

Selamat Tahun Baru!

Mulai sekarang, bulan Januari 2020, saya akan menulis tentang keunikan dan daya tarik ONE Championship melalui mata seorang atlet. Saya mungkin belum dapat merangkum tiap topik pembahasan, namun sebelumnya, saya ingin mengatakan bahwa saya menghargai dukungan anda.

Kali ini, saya akan menulis tentang sistem divisi dan pengurangan berat badan.

Banyak olahraga tarung yang menerapkan sistem divisi berat badan. Walau terdapat beberapa pengecualian seperti gulat sumo, yang tidak menggunakan sistem divisi, mayoritas olahraga tarung menerapkan hal ini. 

Di dalam ONE, terdapat 10 divisi – mulai dari yang paling ringan (atomweight) sampai yang terberat (heavyweight). Di sisi lain, olahraga tinju profesional memiliki 17 divisi. 

Saya kira terdapat beberapa opini dan argumen mengapa tinju memiliki lebih banyak divisi berat badan. Itu mungkin terkait dengan keselamatan, karakteristik olahraga tersebut, atau latar belakang sejarahnya.

Sementara itu, terkait divisi yang lebih ringan di dalam tinju, perbedaannya mungkin hanya terpaut beberapa kilogram, dan karena itu para atlet dapat dengan mudah naik atau turun divisi serta menjadi juara multi-divisi.

Namun di ONE, perbedaan antara divisi yang lebih ringan berkisar antara 4,5 kilogram – dan perbedaan yang lebih luas untuk divisi yang lebih berat.

Melihat angka-angka ini, anda akhirnya dapat mengerti kehebatan dari Aung La “The Burmese Python” N Sang dan Martin “The Situ-Asian” Nguyen, yang telah memenangkan gelar Juara Dunia ONE dalam dua divisi berbeda.

Alasan mengapa sistem divisi digunakan dalam olahraga tarung didasari oleh fakta bahwa atlet yang lebih berat cenderung memiliki keunggulan tersendiri. Secara sederhana, atlet yang lebih berat ini adalah atlet yang lebih kuat.

Bahkan, terdapat wacana di dalam sumo yang mengatakan, “Meraih 10 kilogram lebih penting dari mempelajari satu trik [teknik] baru.” Dalam tinju, saya rasa salah satu alasan mengapa mereka memiliki divisi lebih banyak adalah karena kekuatan pukulan, dan yang terutama, alasan keselamatan.

Secara ideal, bertanding melawan satu orang lainnya dalam divisi yang sama memberikan keselamatan lebih bagi kedua atlet, yang memastikan bahwa olahraga tarung yang berdasarkan serangan atas menerapkan sistem divisi.

Tentunya, sangat alami bagi para atlet untuk berkeinginan memiliki keunggulan, maka mereka akan mengurangi berat badan. Namun, terdapat beberapa kasus dimana para atlet ini melakukan itu dengan cara ekstrim karena ingin meningkatkan kemungkinan untuk menang.

Sebagai contoh, beberapa atlet mengurangi berat badan melalui dehidrasi dan melakukannya dengan menghilangkan asupan cairan mereka untuk mengurangi berat badan untuk sementara waktu. Saya mendengar bahwa beberapa atlet kehilangan lebih dari 10 kilogram dan mengembalikannya setelah penimbangan berat badan resmi.

Tidak mengejutkan bahwa ini sangat tidak menguntungkan bagi kesehatan seorang atlet, dan beberapa atlet mengalami kesulitan untuk berada di dalam batasan berat badan dan bahkan terkena resiko kesehatan tertentu.

Sistem divisi ini awalnya diterapkan untuk membuat olahraga tarung menjadi adil dan aman, namun ironisnya, itu juga menciptakan situasi berbahaya bagi para atlet.

Former ONE Lightweight World Champion Shinya Aoki stands in the Circle

Oleh karena itu, ONE tidak hanya memeriksa berat badan seorang atlet, namun juga berat jenis air seni atlet tersebut.

Jika para atlet berusaha mengurangi berat badan melalui dehidrasi, air seni yang dihasilkan akan lebih kental dan mereka tidak dapat lolos dari pemeriksaan berat jenis yang dilakukan. Secara logis, tidak mungkin bagi mereka untuk mengurangi berat badan melalui dehidrasi.

Saat ONE pertama kali menerapkan sistem berat harian, atau “walking-weight,” saya sedikit kebingungan. Namun, saat saya mulai terbiasa, saya merasa lebih nyaman dengan tubuh saya.

Ditambah lagi, hal ini memastikan keamanan dari para atlet, dimana mereka dapat berkompetisi dengan perasaan tenang. Utamanya, mereka dapat mengurangi kerusakan yang mungkin akan mereka alami setelah pensiun dari ajang kompetisi.

Untuk dapat resmi berlaga di ONE, para atlet wajib lolos dari pemeriksaan resmi untuk berat badan dan berat jenis air seni. 

Sebagai atlet yang rutin berlaga, saya menjadi sedikit gugup. Saya dapat mengetahui berat badan saya sebelum pemeriksaan berat badan, namun untuk berat jenis, saya tidak dapat mengetahui hasil sebelum itu.

Namun, itu tidak akan menjadi masalah jika para atlet tersebut terhidrasi dengan baik dan berada dalam kondisi sehat.

Ini adalah sistem yang unik, dimana ONE menempatkan prioritas kesehatan atlet dalam tingkatan tertinggi.

Former ONE Lightweight World Champion Shinya Aoki sits on the ramp following his win over Honorio Banario

Ini mungkin akan sedikit membingungkan bagi beberapa penonton, karena divisi berat badan ONE memang berbeda dari olahraga tarung lainnya, namun itu semua karena ONE menciptakan divisinya berdasarkan “walking-weight.”

Sebagai contoh, saya berlaga dalam divisi lightweight ONE. Dalam ajang promosi lainnya, batasan divisi ini sekitar 70 kilogram, namun di ONE, batasannya adalah 77,1 kilogram. Mengetahui informasi ini akan sangat membantu saat anda menonton gelaran ONE yang akan datang.

Saya harap anda dapat menikmati berbagai ajang ONE setelah anda mengerti tentang sistem yang unik dan aman ini.

Shinya “Tobikan Judan” Aoki adalah seorang Juara Dunia ONE Lightweight beberapa kali. Ia juga adalah pengarang dan kolumnis yang seringkali menulis untuk berbagai media di Jepang.

Superstar ini akan rutin menulis dalam kolom berjudul “ONE 101 – Shinya Aoki,” dimana ia membedah berbagai alasan mengapa anda harus menyaksikan ONE Championship melalui perspektif seorang atlet. Seluruh opini dalam artikel ini sepenuhnya menjadi milik dan dihasilkan oleh Shinya.