Bela Diri Campuran

Koyomi Matsushima Jelaskan Caranya Kalahkan Garry Tonon Dan Thanh Le

Koyomi “Moushigo” Matsushima mengetahui bahwa jalannya kembali ke perebutan gelar Juara Dunia tidaklah mudah, saat ia bersiap menghadapi penantang teratas dalam divisi featherweight sesegera mungkin.

Koyomi Matsushima ???????? SWARMS Kim Jae Woong ????????

Koyomi Matsushima ???????? SWARMS Kim Jae Woong ???????? with a devastating ground-and-pound finish! ????????????: How to watch ???? http://bit.ly/ONEWCWatch????: Watch on the ONE Super App ???? bit.ly/ONESuperApp????: Shop official merchandise ???? bit.ly/ONECShop

Posted by ONE Championship on Friday, February 7, 2020

Seniman bela diri campuran asal Jepang ini memulai perjalanannya kembali menuju sabuk emas dengan sebuah kemenangan mengejutkan atas “The Fighting God” Kim Jae Woong dalam ajang ONE: WARRIOR’S CODE bulan Februari ini.

Setelah laga yang berlangsung di Jakarta ini, ia menyebut dua nama, Garry “The Lion Killer” Tonon dan Thanh Le, sebagai lawan potensial — bukan karena ia merasa unggul, tetapi karena dirinya menyadari mereka adalah lawan yang tak terhindarkan.

“Itu bukan seperti, ‘Saya sangat ingin bertanding dengan kedua atlet itu’. Mereka sangat kuat. Tetapi saya menyebut nama mereka karena saya tidak akan dapat menghindari mereka saat saya mengincar perebutan Juara Dunia itu lagi,” kata atlet berusia 27 tahun warga Yokohama ini.

Pria yang diincarnya itu memiliki gaya yang berbeda, tetapi itu menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi “Moushigo.”



Tonon adalah salah satu grappler terbaik yang pernah ada di muka bumi ini.

Ia memiliki lima kemenangan beruntun bersama “The Home Of Martial Arts,” dan seluruh kemenangan tersebut berasal dari jarak dekat, melalui TKO dan submission. Tetapi, yang luar biasa adalah bahwa dirinya menghentikan tiap lawan di atas kanvas.

“Satu-satunya cara [untuk mengalahkan Tonon] adalah untuk tidak membiarkannya membawa saya ke posisi ground. Saya rasa ia juga mengetahui ini,” sebut Matsushima.

“Ia menyeret lawannya ke bawah, sebagai contoh, dengan sebuah selengkatan dari jarak jauh, maka saya harus menghindari itu dan menyerangnya sedikit demi sedikit untuk tetap berlaga selama tiga ronde. Saya akan ingin memanfaatkan kesempatan saat ia mulai lelah. Saya akan ingin berlaga dengan cara ini.”

Mixed martial arts stars Thanh Le and Garry Tonon

Le mewakili sisi lain dari spektrum itu.

Atlet Vietnam-Amerika itu adalah striker kuat yang telah memenangkan tiap laganya melalui KO atau submission. Faktanya, 91 persen kemenangannya datang dari KO atau TKO, maka game plan dari warga Yokohoma ini akan sangat berbeda.

“Ia jelas menjadi kebalikan dari Tonon. Hal terpenting adalah untuk menghindari laga dalam jarak serangnya. Ia memiliki tendangan dan pukulan kuat. Saya kira lebih baik berlaga dalam jarak dekat,” jelas Matsushima.

“[Sorotan dari laga itu] akan berada pada kemungkinan dirinya mendominasi saya, atau saya yang mendominasinya secara keseluruhan. Jika ia menyeimbangkan ritmenya, ia akan mengalahkan saya. Jika saya meningkatkan ritmenya, saya kira saya dapat menang. Saya berpikir bahwa tiap momen akan menjadi krusial.”

“Saya tidak merasa saya dapat menjatuhkannya demi sebuah KO. Tetapi jika saya kalah, itu akan melalui KO. Untuk menang, saya harus menghilangkan keunggulan dan kekuatannya.”

Koyomi Matsushima defeats Kim Jae Woong ONE WARRIOR'S CODE

Ancaman berbeda yang mungkin dihadapinya ini membawa aspek terpenting dari permainan Matsushima, yang dianggapnya sangat krusial — yaitu kemampuan untuk menjadi efektif di tiap area.

Berlaga melawan kedua spesialis dalam disiplin yang berbeda mengharuskan “Moushigo” mengasah kemampuan striking, gulat dan grappling-nya secara bersamaan, tanpa cela.

Ia berharap bahwa jika dirinya dapat menjadi kompetitor terbaik yang mampu beradaptasi — daripada yang terkuat — ia akan dapat meraih posisi teratas demi Kejuaraan Dunia ONE Featherweight.

“Hal terpenting adalah mengintegrasikan kemampuan saya ke dalam seni bela diri campuran. Saya masih merasa bahwa kemampuan gulat, ground dan striking saya belum cukup terintegrasi, maka saya harus memadukannya,” pahlawan Jepang ini mengakui.

“Banyak atlet kuat yang tak dapat saya kalahkan hanya dengan bergantung pada striking. Sama halnya dalam [teknik] ground. Maka, saya harus mengintegrasikan dan memadukan kemampuan saya.”

Baca juga: Para Superstar Berbagi Tentang Bagaimana Kehidupan Setelah COVID-19