Chan Rothana Ingin Naik Peringkat Dan Hadapi Yuya Wakamatsu

Chan Rothana DC 9704 768x512

Chan Rothana mungkin sedang tidak berlatih di sasananya di Phnom Penh, Kamboja, namun ia tetap menemukan cara untuk berkembang dan meningkatkan kemampuan bela diri campurannya.

Atlet flyweight berusia 34 tahun ini – yang sementara ini harus menutup klub bela dirinya, Selapak, karena pandemi global COVID-19 – tetap berlatih secara privat bersama teman baiknya, Lorenzo Lanzafame, untuk mempertahankan kebugaran dan mempertajam tekniknya.

Rothana termotivasi untuk berada dalam kondisi terbaiknya dan terus mengasah kemampuannya demi sebuah kesempatan besar saat ONE Championship kembali menggelar ajangnya tahun ini.

Ia mengincar atlet pencetak KO asal Jepang, Yuya “Little Piranha” Wakamatsu, yang sedang bersinar dalam divisinya dengan rangkaian penampilan eksplosif di tahun 2019.

Wakamatsu mampu menekan Demetrious “Mighty Mouse” Johnson dalam turnamen ONE Flyweight World Grand Prix di bulan Maret 2019, lalu ia mencetak KO atas mantan penguasa divisi tersebut, Geje “Gravity” Eustaquio, pada bulan Agustus. Pria berusia 25 tahun ini mengakhiri tahun tersebut dengan menaklukkan “Ottogi” Dae Hwan Kim melalui keputusan mutlak dua bulan kemudian.

Rothana, yang juga memiliki tiga kemenangan beruntun yang sensasional, memberi penghormatan terbesar pada “Little Piranha” dan melihat laga potensial mereka sebagai ujian terbaik bagi kemampuannya. Ia berbicara tentang hal tersebut, dan masih banyak lagi, dalam wawancara eksklusif ini.

ONE Championship: Dengan pandemi COVID-19 yang menyebar di seluruh dunia, bagaimana hal ini berdampak pada sasana dan rutinitas latihan anda?

Chan Rothana: Saya telah berusaha membantu dalam mencegah penyebaran pandemi COVID-19 di Kamboja. Sejak menyebarnya virus corona pada awal Maret, saya menutup klub saya, Selapak. Namun, saya masih tetap mempertahankan kondisi tubuh saya dengan baik.

Saya memiliki banyak pelatih tim, namun saat ini, hanya Lorenzo Lanzafame – pelatih kebugaran – yang membantu saya menjadi lebih baik. Rumahnya berada di dekat saya, maka ia sangat membantu dalam situasi sulit seperti sekarang.

Saya sangat terfokus pada kebugaran dan sedikit latihan striking. Selama saya memiliki tubuh yang bugar, saya akan baik-baik saja, dan saya dapat menjadi sangat fleksibel dalam teknik bela diri saya, baik dalam striking [permainan atas] dan ground [permainan bawah].



ONE: Area apa saja yang anda coba kembangkan?

CR: Situasi ini membuat segala sesuatunya semakin sulit, namun apa yang sangat ingin saya kembangkan adalah permainan ground saya. Saya harus mengembangkannya sampai saya puas.

Saya mengetahui saya sangat kurang di ground, namun saya telah belajar bagaimana menghindari takedown, dan mempelajari teknik-teknik seperti kuncian rear-naked choke, armbar dan Americana. Saya ingin terus berkembang dalam permainan ground saya dan mengalahkan lawan-lawan dengan teknik tersebut.

ONE: Seberapa bersemangatkah anda untuk kembali tampil di atas panggung dunia?

CR: Pertanyaan yang bagus! Saya tidak sabar untuk berlaga bagi para penggemar di sini dan mewakili Kamboja. Para penggemar selalu menyapa saya di laman Facebook dan bertanya, “Kapan kamu akan memasuki ring?” Saya hanya dapat menjawab, “Segera,” atau “Tunggu sebentar.” Berlaga itu sangat menyenangkan bagi saya, begitu pula latihan dan perkembangan diri.

ONE: Siapa yang ingin anda hadapi selanjutnya?

CR: Yuya Wakamatsu. Ia adalah batu loncatan yang besar bagi saya dan mewakili tingkatan yang lebih tinggi dalam kompetisi. Melawan atlet di tingkatan yang lebih tinggi akan menjadikan [tantangannya] jauh lebih berat, namun itu juga akan menjadikan saya lebih baik.

Cambodia's Chan Rothana blasts Gustavo Balart with a knee

ONE: Dalam opini anda, hal apa yang menjadi tantangan terbesar dari Yuya Wakamatsu bagi anda?

CR: Yuya tidak hanya bagus dalam striking, namun ia juga memiliki permainan bawah [yang solid]. Ia telah menjalani laga luar biasa melawan Demetrious Johnson dalam turnamen ONE Flyweight World Grand Prix, dan ia juga mengalahkan Geje Eustaquio.

Saya menonton banyak video yang menampilkan laganya. Ia jauh lebih muda dari saya dan memiliki lebih banyak pengalaman dalam seni bela diri campuran daripada saya. Ia telah menjalani 16 laga, serta 10 kali mencetak KO atas lawannya. Itu sangat ganas!

Saya lebih tua daripada dirinya, namun saya memiliki lebih sedikit laga dari dirinya. Sampai saat ini, saya hanya memiliki 10 laga dalam karier bela diri campuran saya. Maka, menghadapi seorang bakat muda dengan kemenangan besar adalah [langkah berikut dalam karier saya] yang sempurna.

ONE: Akhirnya, apa yang anda harus perhatikan?

CR: Tiap saat, saya harus berhati-hati saat menghadapi Yuya. Serangan dan pukulannya dapat menjatuhkan saya kapanpun, karena ia mampu menjatuhkan Eustaquio. Saya harus fleksibel, maka saya akan menggunakan striking dan membawa kemampuan saya yang lain ke dalam ring. Saya akan menciptakan game plan yang bagus bagi dirinya.

Chan Rothana poses with the Cambodian flag after his defeat of Gustavo Balart at ONE DREAMS OF GOLD

Baca juga: Seni Bela Diri Kun Khmer: Kebanggaan Dan Warisan Sejarah Kamboja

Selengkapnya di Bela Diri Campuran

Kiamran Nabati faces off with Nontachai Jitmuangnon ahead of The Inner Circle 31
Nadaka Yoshinari faces off with Har Ling Om ahead of ONE SAMURAI 3
Yuya Wakamatsu enters the ring at ONE SAMURAI 1
Petmuangsri Torfunfarm faces off with Gregor Thom ahead of The Inner Circle 29
Joshua Pacio faces Japan's Keito Yamakita for strawweight MMA gold on November 18
Brazil Aekmuangnon Petphupa Aekpujean ONE Friday Fights 168
Muay Thai fighters Worapon Lukjaoporongtom and Lenny Blasi face off ahead of The Inner Circle 28
Itsuki Hirata and Jihin Radzuan run it back at ONE SAMURAI 4
Muay Thai fighters Songchainoi Kiatsongrit and Banluelok Sitwatcharachai face off ahead of The Inner Circle 27
Stella Hemetsberger will defend her Muay Thai belt against Natalia Diachkova
Masaaki Noiri faces off with Liu Mengyang with the Tokyo skyline in the background
Chinese kickboxer Liu Mengyang taps gloves with Japanese star Masaaki Noiri in their first fight