Gaya Hidup

Terpukau Oleh Sorong, Daerah Dimana Adrian Mattheis Berasal

21 Mar 2021

Papua, atau Bumi Cendrawasih, kerap disebut sebagai bagian dari surga yang jatuh ke bumi. Daerah ini juga meliputi Sorong, di bagian barat Papua, yang disebut “Papua Badboy” sebagai rumah.

Tentunya, di balik prestasi setinggi apa pun, rumah itu akan selalu menjadi dasar utama yang mendidik seorang seniman bela diri demi mencapai kualitas terbaiknya. Hal itu juga berlaku bagi sang Juara Turnamen ONE Strawweight Indonesia, Adrian “Papua Badboy” Mattheis.

Walau Ternate, Maluku Utara adalah tanah kelahiran pria berusia 27 tahun ini, Sorong menjadi rumah bagi keluarganya yang giat bertani, dimana Adrian bertumbuh dalam kesederhanaan semasa remaja – dan juga menjadikan daerah ini sangat lekat di hatinya.

Di tengah pandemi COVID-19 ini, Adrian kembali ke Sorong dan tinggal selama beberapa waktu. Di tengah meditasi bersama keluarga dan kerabat terkasihnya, tak jarang Adrian membagikan sedikit pesona dari Bumi Cendrawasih – yang keindahan alamnya terkenal di seluruh dunia.

“Betul, saya lagi gemar mengambil banyak foto. Maksud saya, memang dia [Sorong] sudah tidak seperti dulu, tapi kenangannya akan selalu ada,” ujar Adrian bernostalgia.

Kembali ke rumahnya di Sorong memberi arti tersendiri bagi Adrian. Tak hanya sebagai rumah, salah satu daerah terpenting di Papua ini juga menyimpan berbagai kenangan dan menjadi saksi perjalanan hidup “Papua Badboy” ini.

“Ada satu tempat yang selalu Adrian datangi, dimana saya mengenali bahwa dulu, di sini, saya bukan siapa-siapa. Ada sebuah kampung yang bernama Malafon. Dulu kampung ini belum ada, masih tanah bekas perusahaan Intimpura, [dahulu] kampungnya hanya satu, yaitu Maibo,” Adrian mulai berkisah.

Kenangan Masa Remaja

Mengenang masa remajanya, ada sebuah tempat lain yang menjadi sangat spesial bagi Adrian. Di sana, Adrian kerap menumpang kendaraan milik perusahaan ayahnya untuk pergi ke Kabupaten Sorong.

“Tempat yang paling berkesan untuk saya itu Tugu Paw Bili. Itu perbatasan kota dengan kabupaten,” kenang Adrian.

“Jadi, saat dulu Adrian bersekolah, saya selalu melewati tugu itu. Ini dulu, semasa masih ada perusahaan. Kalau saya mau pulang ke rumah, harus menunggu di tugu itu, yang menjadi tempat jemputan kita. Banyak kenangan [di sana].”



Setiap kali Adrian berkunjung ke tugu itu, tak jarang dirinya menjalani napak tilas ke masa-masa indahnya saat remaja, bersama teman sepermainan.

“Kalau saya rasa, [sekarang] lingkungannya sudah berbeda,” ujar Adrian dengan logat Timurnya yang kental.

“Teman-teman sudah bersama gandengan [kekasih mereka], saya sekarang berjalan sendiri. Memang teman-teman, [sudah ada di] kampung yang berbeda. Lingkungannya, tempatnya berbeda, tetapi kenangan itu tetap ada.”

Keindahan Lain Dari Sorong

Di luar tempat yang sangat berkesan bagi dirinya itu, Adrian juga menyebutkan bahwa Sorong memang sarat dengan objek wisata.

Namun, faktanya banyak wisatawan yang cenderung hanya menjadikan daerah ini sebagai tempat persinggahan, dimana mereka hanya beristirahat sejenak sebelum langsung bertolak ke Raja Ampat – wilayah Papua yang mendunia karena keindahan bawah lautnya.

Padahal, sedianya Sorong juga memiliki berbagai destinasi alam indah yang mungkin belum begitu populer di kalangan wisatawan, atau bahkan di luar masyarakat setempat. Adrian pun berbagi beberapa rekomendasi lokasi yang menjadi sorotannya.

“Kalau rekomendasi wisata di Kota Sorong, ada air terjun Sasnek, Kali Kaca, air terjun Kali Ampat, lalu Pulau Um – yang memiliki banyak kelelawar di atas. Memang keren, pasir putihnya mantap,” ujar Adrian bangga.

“[Ada lagi} Taman Tanah Merah, seperti di Yogyakarta, lalu Gunung 400, dan ada lagi wisata buah naga, dimana kita bisa memetik buah naga sampai puas.”

Dari sejumlah tempat yang ia sebutkan, “Papua Badboy” sangat gemar berkunjung ke Taman Tanah Merah, yang juga berisi berbagai spot foto kekinian.

Namun, terlepas dari semua lokasi wisata itu, ada sebuah tempat yang menjadi favoritnya, yaitu tanda salib yang dibangun Adrian di kebun belakang rumahnya. Di sana, ia kerap melakukan kontemplasi pribadi.

“Papua itu terlalu indah, bahkan sa pu [nya] belakang rumah ada salib, tra [tidak] lihat? Di kebun,” sebutnya dengan logat yang masih sangat kental itu.

Sebagian dari keindahan Sorong ini diabadikan oleh Adrian di laman Instagram pribadinya. Sembari menunggu penampilan berikutnya di dalam Circle ONE, “Papua Badboy” tetap memanfaatkan waktunya berlatih serta mencoba hobi baru seperti fotografi dan konten video di beberapa platform media sosial terkini.

Baca juga: Adrian Mattheis Sebut Satu Nama Yang Ingin Dihadapi Tahun Ini

Muat Lebih Banyak

Ikuti perkembangannya

Bawa ONE Championship kemana pun anda pergi! Daftarkan diri untuk mendapatkan akses ke berita terbaru, berbagai tawaran spesial dan kursi terbaik dalam gelaran langsung kami.
Dengan mengirimkan formulir ini, anda menyetujui pengumpulan, penggunaan dan pembukaan informasi anda berdasarkan Privacy Policy kami. Anda dapat membatalkan (unsubscribe) dari jenis komunikasi ini kapan saja.