Gaya Hidup

Perkembangan Sasana Bela Diri Campuran Di Indonesia

Kepopuleran seni bela diri campuran, atau mixed martial arts (MMA), semakin mendorong beberapa komunitas dan atlet profesional untuk membuka sasana yang khusus mempelajari teknik yang dipadukan dari beberapa aliran bela diri konvensional tersebut.

Hampir seluruh pusat pelatihan ini terbuka bagi khalayak ramai, mulai dari mereka yang menjalani latihan sebagai hobi, sampai atlet profesional yang ingin mempersiapkan diri untuk pertandingan yang akan datang.

Rodtang Jitmuangnon lands a left kick in his Muay Thai bout at ONE: DAWN OF HEROES.

Saat keinginan untuk hidup sehat semakin populer, banyak orang menemukan ketertarikan tersendiri terhadap seni bela diri. Dalam hal ini, mempelajari salah satu disiplin bela diri akan memiliki manfaat lebih, seperti mempertahankan diri, menyehatkan tubuh, dan mendapatkan teman baru.

Inilah mengapa seni bela diri menjadi alasan terbaik untuk membuka sebuah sasana di suatu daerah.

Namun, banyaknya sasana bela diri campuran yang dibuka di Indonesia, apa sajakah syarat dan keperluan yang dibutuhkan untuk menjadikan sasana tersebut memiliki kualitas yang baik? Terlebih lagi, apa saja yang diperlukan untuk membuka dan promosikan sebuah sasana bela diri campuran di negara ini?

Salah satu syarat terpenting dalam membuka sebuah sasana MMA adalah memiliki semangat dalam bela diri, dimana seseorang yang memulai usaha ini juga wajib memiliki jaringan yang kuat. Jika terdapat hambatan, semangat tersebut yang akan membantu sang pemilik sasana untuk mengatasinya.

Rudy “The Golden Boy” Agustian, atlet divisi flyweight di dalam organisasi bela diri terbesar di dunia ONE Championship dan pendiri Golden Camp, mengatakan bahwa beberapa nilai-nilai seni bela diri dapat diterapkan saat memulai sebuah usaha, termasuk mengelola sasana.

Faktor lain yang perlu dipikirkan adalah kenyamanan, keselamatan dan keamanan semua peserta. Sebuah sasana harus memiliki ruang yang luas untuk menjaga keselamatan saat berlatih, serta perlengkapan dasar seperti matras untuk mencegah cedera saat berlatih teknik gulat dan takedown, misalnya.

Selain itu, sasana ini juga harus menyediakan peralatan untuk berlatih teknik striking, yaitu samsak dan punching pad untuk melatih pukulan dan tendangan, serta head gears dan sarung tangan untuk melindungi kepala dan tangan peserta.

Tetapi, diatas semuanya, dibutuhkan seorang pelatih yang berkualitas dan memiliki pengalaman luas.

Negara tempat lahirnya seni bela diri tradisional silat ini memiliki banyak pelatih berpengalaman, seperti atlet veteran dan pionir bela diri campuran Yohan “The Ice Man” Mulia Legowo yang memiliki pengalaman tanding yang sangat luas.

Ia pun membuka sasana untuk mencari atlet berbakat dan mengembangkan generasi baru atlet bela diri campuran di Indonesia. “The Ice Man” adalah pendiri Han Fight Academy di Solo, Jawa Tengah.

Seorang atlet senior lainnya, Abro “The Black Komodo” Fernandes, membuka sasana miliknya di Timor Leste demi membimbing para pemuda pemudi lokal masuk ke dalam dunia bela diri campuran.

Selain para atlet yang menjadi pelatih di sasana mereka sendiri, banyak pula yang menjadi pelatih lepas yang melatih klien mereka dalam sesi privat, dimana hal ini berkaitan erat dengan promosi dan jaringan yang kuat.

Promosi yang dilakukan oleh para pemilik sasana ini biasanya melalui kesaksian peserta yang pernah bergabung, atau masih bergabung dalam sasana tersebut. Hal ini nampaknya menjadi cara paling efektif karena reputasi dan kualitas sasana tersebut memang diakui oleh banyak orang.

Cara ini juga ampuh untuk menjaga kualitas pelatihan sebuah sasana, dimana para pelatih wajib mempertahankan standar pelatihan secara berkesinambungan.

Selain itu, karena pangsa pasar mereka kebanyakan terdiri dari generasi muda dari dunia kerja profesional, banyak sasana yang menggunakan jaringan media sosial di dunia maya untuk mempromosikan program-program mereka.

Dengan semakin banyaknya atlet Indonesia yang terjun ke dalam dunia bela diri campuran, dengan sendirinya banyak orang yang akan tertarik untuk mencoba berlatih, atau bahkan menjadi atlet profesional demi penghasilan yang baik.

Hal ini juga berlaku bagi para pelatih profesional luar negeri, yang mungkin akan tertarik melatih atlet Indonesia untuk mampu bersaing di tingkat dunia dan mencari penghasilan di salah satu negara yang memiliki warisan seni bela diri terbesar di Asia Tenggara ini.