Gaya Hidup

Kerendahan Hati Membawa Dua Atlet Indonesia Meraih Sukses

27 Juli 2019

Dua atlet andalan Indonesia, Eko Roni Saputra dan Stefer “The Lion” Rahardian telah menempuh perjalanan panjang sebelum dikenal sebagai dua atlet seni bela diri campuran terbaik yang pernah lahir di bumi pertiwi.

Keduanya datang dari keluarga sederhana yang harus berjuang keras untuk meraih posisi mereka saat ini.

Eko Roni Saputra, Juara Gulat Nasional yang saat ini berlatih bersama salah satu sasana terbaik di dunia, Evolve MMA, dahulu hidup di tengah kemiskinan dan mengalami saat-saat sulit – bahkan untuk mendapatkan air bersih dan listrik.

Lahir dari orang tua yang bekerja sebagai penual ikan di Samarinda, Kalimantan Timur, Eko Roni terbiasa hidup dengan perjuangan. Dari sekedar makan seadanya untuk bertahan hidup sampai berjalan puluhan kilometer untuk sekadar berlatih bela diri, nilai perjuangan bukanlah hal asing bagi dirinya.

Ketika orang tuanya terpaksa menutup usaha mereka, Eko Roni kecil harus terbiasa hidup sulit. Ayahnya mulai bekerja paruh waktu sebagai pelatih tinju, untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang semakin besar.

Berkat determinasi tinggi dan keinginan kuat mengubah nasib, Eko Roni lambat laun meraih sukses dalam hidup.

Setelah berlatih tinju bersama sang ayah selama beberapa tahun, ia mulai bertransisi menjadi pegulat pada usia remaja, setelah mendapatkan saran dari kedua orang tuanya.

Mulai dari kejuaraan daerah sampai tingkat internasional telah Eko jalani, termasuk meraih medali di SEA Games. Terakhir, ia mewakili Indonesia untuk tampil di Asian Games tahun lalu.

Selama rentang karir tersebut, Eko mencatatkan 116 kemenangan dan tidak terkalahkan dalam kompetisi domestik. Sepuluh kekalahan yang ia alami seluruhnya terjadi saat mengikuti kejuaraan internasional.

Raihan prestasi ini mengantarkan Eko bergabung dengan ONE Championship, organisasi bela diri terbesar di dunia.

“Saya juga tidak menyangka bisa berada di tim yang sangat besar di Evolve MMA, dan setelah bergabung dengan ONE saya saat ini dikenal banyak orang,” ujar Eko yang sejak akhir tahun lalu mulai menetap di Singapura bersama istri dan anaknya.

“Di Singapura, banyak orang minta foto bareng sama saya. Saya sekarang lebih dikenal orang, jauh berbeda dari kehidupan saya sebelumnya.”

Seiring popularitas yang diraihnya, kesempatan untuk meningkatkan perekonomian keluarga pun semakin terbuka. Sebagai seorang atlet dan pelatih, Eko kini berada dalam sebuah komunitas Juara Dunia.

Namun, apa yang ia raih sejauh ini tidak membuatnya berubah. Dirinya masih sering merasa sebagai anak kampung dari pinggiran sungai Mahakam.

“Bagaimanapun, saya masih sama seperti dulu. Saya selalu teringat bagaimana susahnya merintis karir sebagai atlet. Kehidupan dulu sulit dan saya banyak belajar dari keadaan tersebut,” kenangnya.

“Saya selalu berusaha untuk bersikap rendah hati karena saya tahu darimana saya berasal.”

Stefer Rahardian Dan Pencapaiannya

Stefer “The Lion” Rahardian juga memiliki kisah yang sama saat ia beranjak dewasa. Orang tuanya memutuskan berpisah saat ia masih kanak-kanak, dan ibunya harus bertahan hidup dan menghidupinya dengan bekerja di sebuah restoran di ibukota Indonesia, Jakarta.

Tak lama setelah peristiwa tersebut, kakak tercintanya meninggal dunia. Rangkaian pengalaman memilukan ini mulai mendewasakan Stefer, yang berada dalam masa pencarian jati diri saat itu. 

Stefer, yang memiliki tubuh lebih kecil jika dibandingkan teman sebayanya, kemudian mulai mempelajari Brazilian Jiu-jitsu demi melindungi dirinya saat ia mulai bekerja. Ia pun menyukai dunia bela diri dan mulai mengambil langkah serius untuk menjadi atlet profesional. 

Tetapi, perwakilan Bali MMA ini sempat mengalami kejadian yang menyakitkan, saat ia harus menepi selama beberapa bulan dan menjalani operasi karena cedera lutut yang dideritanya. Tetapi, Stefer berhasil bangkit dan menjuarai Turnamen ONE Jakarta Flyweight, masuk ke dalam jajaran atlet ONE, dan mencetak rekor tak terkalahkan saat bertanding di Jakarta selama hampir tiga setengah tahun. 

Pencapaiannya ini tidak membuatnya silau, dimana tidak banyak yang berubah dari diri Stefer, si anak Menteng dari pinggiran Jakarta.

“Saya datang bukan dari apa-apa dan enggak punya apa-apa sama sekali. Jadi Saya mengingat perjuangan yang lalu,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa ia menghadapi banyak tantangan baru — terkait gaya hidup yang berubah seiring kesuksesannya menjadi seorang bintang.

Stefer pun beberapa kali muncul di televisi, baik sebagai bintang iklan maupun sebagai komentator acara olahraga.

“Banyak tantangan baru, seperti ajakan untuk melalui gaya hidup yang glamor. Namun saya selalu ingat pesan ibu untuk tetap rendah hati dan mengingat darimana kita berasal. Jadi saya tidak mau merusak apa yang telah saya capai dengan hal yang negatif seperti obat terlarang,” ungkapnya.