Fitur

Determinasi dan Dorongan Kuat Eddie Alvarez Untuk Meraih Kejayaan

Dalam tiap keadaan, Eddie “The Underground King” Alvarez adalah hasil dari lingkungannya.

Penantang veteran divisi lightweight – yang kembali tampil bersama ONE Championship melawan mantan Juara Dunia ONE Lightweight Eduard “Landslide” Folayang di gelaran ONE: DAWN OF HEROES – bertumbuh besar di sebuah lingkungan paling keras di Amerika Serikat.

Kensington, sebuah area di utara Philadelphia, memiliki tingkat kriminalitas 83 persen lebih tinggi dari rata-rata tingkat kriminalitas nasional di AS.

Eddie Alvarez's quest for redemption begins with a legendary lightweight showdown with Eduard Folayang on 2 August!

Eddie Alvarez's quest for redemption begins with a legendary lightweight showdown with Eduard Folayang on 2 August! ????: Manila | 2 August | 7PM | ONE: DAWN OF HEROES????: Get your tickets at ???? http://bit.ly/oneheroes19????: Check local listings for global TV broadcast????: Watch on the ONE Super App ???? http://bit.ly/ONESuperApp ????‍????: Prelims LIVE on Facebook | Prelims + 2 Main-Card bouts LIVE on Twitter

Posted by ONE Championship on Thursday, July 18, 2019

Menurut Alvarez, lingkungannya ini tidak seburuk saat keluarganya pertama kali berdiam disana, tetapi beberapa tahun kemudian, dinamika di area itu berubah secara dramatis.

“Bertumbuh dalam lingkungan di Philadephia Utara itu cukup baik, lalu ada perubahan besar ketika saya berusia sekitar 7 atau 8 tahun,” jelas Eddie.

“Area itu dikuasai oleh narkoba. Heroin memasuki lingkungan saya dan menghancurkan seluruh daerah ini menjadi sebuah area yang dikuasai narkoba dan kemiskinan.”

Selagi berbagai hal mengalami kemunduran di sekitar mereka, Eddie mengatakan bahwa kedua orang tuanya berusaha semampu mereka untuk anaknya dan mendaftarkannya masuk ke sebuah sekolah swasta di luar Kensington.

Ini berarti ia mendapatkan akses menuju pendidikan yang lebih baik dan menghindari banyak kesulitan, tetapi ia merasa asing diantara mereka yang berasal dari keluarga yang cukup kaya.

“Orang tua saya menyimpan dana yang cukup untuk membiayai saya di sekolah Katolik. Akan lebih mudah bagi saya untuk tidak memiliki segalanya jika saya tidak berada di sebuah sekolah bersama anak-anak yang memiliki segalanya,” ia mengatakan.

“Jika saya berada di sekolah negeri di lingkungan saya, saya kira hal itu tidak akan memberikan efek [negatif] bagi saya, tetapi jika anda tidak memiliki banyak hal dan berada di sekitar mereka yang memiliki banyak atau bahkan lebih, itu sedikit mempengaruhi anda sebagai seorang anak.”

Walaupun bukan tanggung jawabnya, Eddie menyadari bahwa ia berada di sebuah tempat yang dapat memberinya keuntungan jangka panjang, dan memiliki determinasi untuk memanfaatkan seluruh kesempatan yang diberikannya.

Ia terus memiliki keinginan untuk meraih kesuksesan karena mengetahui ini adalah satu-satunya cara ia tidak tertinggal dalam hidup.

Anak kecil dari Kensington ini telah mendengar cerita horor terkait nasib mereka yang bertumbuh di lingkungannya, dan hal terakhir yang ia inginkan adalah menjadi bagian dari statistik – anak muda lainnya yang terpengaruh narkoba atau terjerumus dalam tindakan kriminal karena tidak ada pilihan lain.

Despite suffering a heartbreaking setback in his ONE debut, Eddie Alvarez's goal remains unchanged — to become a ONE World Champion! He faces Eduard Folayang on 2 August with a spot in the ONE Lightweight World Grand Prix final on the line!

Despite suffering a heartbreaking setback in his ONE debut, Eddie Alvarez's goal remains unchanged — to become a ONE World Champion! He faces Eduard Folayang on 2 August with a spot in the ONE Lightweight World Grand Prix final on the line!????: Manila | 2 August | 5PM | ONE: DAWN OF HEROES????: Get your tickets at ???? http://bit.ly/oneheroes19????: Check local listings for global TV broadcast????: Watch on the ONE Super App ???? http://bit.ly/ONESuperApp ????‍????: Prelims LIVE on Facebook | Prelims + 2 Main-Card bouts LIVE on Twitter

Posted by ONE Championship on Friday, July 19, 2019

“Saya sudah memiliki dorongan besar sejak usia saya masih sangat muda,” kata Eddie.

“Saya mengerti bahwa di tempat saya bertumbuh, kegagalan itu hal yang biasa dan ada kemungkinan besar bahwa saya akan gagal daripada berhasil. Ini adalah faktor terbesar yang memotivasi saya dalam hidup.”

“Saya mengetahui saya harus berusaha dua kali lebih keras – tiga kali lebih keras dari orang lain untuk berhasil, atau setidaknya keluar dari lingkungan itu.”

“Saya terdorong oleh itu, dan bukan pada usia 12 atau 13 tahun. Saya memiliki dorongan tersebut ketika masih berusia 7 atau 8 tahun. Saya adalah anak yang sangat termotivasi.”

Eddie menampilkan sikap tersebut saat mendapatkan kesempatan bergabung dengan tim olahraga di sekolah Katolik tersebut.

Sebelum ia menemukan bela diri, Eddie banyak terlibat dalam olahraga atletik ketika bergabung dengan tim lari di sekolahnya. Berkat bimbingan ayahnya, ia segera menunjukkan etos kerja yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan.

“Saya bergabung dengan tim lari, dimana sekolah saya berjarak tiga mil dari rumah, maka saya membawa tas saya dan ayah saya berkata bahwa saya tidak butuh tumpangan ke sekolah – karena saya bergabung dengan tim lari, saya harus berlatih untuk berlari,” jelasnya.

“Maka, saya membawa tas saya, dan ini pada saat saya berumur 8 tahun, saya terbiasa [berlari] tiga mil jauhnya ke sekolah. Saya biasanya berganti baju di gang dekat sekolah – berganti pakaian ke seragam sekolah Katolik saya – dan menyingkirkan baju saya yang berkeringat ke dalam tas.

“Saya teringat ketika masih sangat muda, sangat bertanggung jawab, serta melakukan hal yang bahkan orang dewasa tidak akan terdorong untuk lakukan pada usia yang masih sangat muda.”

Ketika ia bertumbuh dewasa, Eddie akhirnya terlibat dalam olahraga gulat dan mempelajari seni bela diri lainnya. Secara alami, ia terbiasa berjuang demi segala sesuatu yang ia miliki atau inginkan, dan ini berlaku ke lingkungan disekelilingnya juga.

Eddie datang dari lingkungan yang sama dimana film terkenal tentang tinju, Rocky dibuat, dan ia terinspirasi oleh film tersebut. Ia selalu merasa bahwa ia menjalani cerita yang sama saat ia sedang menapaki peringkat dunia.

For Eddie Alvarez, it was never about the fame and the fortune… it was about being a role model.

For Eddie Alvarez, it was never about the fame and the fortune… it was about being a role model. ????: Manila | 2 August | 7PM | ONE: DAWN OF HEROES????: Get your tickets at ???? http://bit.ly/oneheroes19????: Check local listings for global TV broadcast????: Watch on the ONE Super App ???? http://bit.ly/ONESuperApp ????‍????: Prelims LIVE on Facebook | Prelims + 2 Main-Card bouts LIVE on Twitter

Posted by ONE Championship on Wednesday, July 17, 2019

Rocky dibuat di lingkungan saya di Philadelphia Utara, semua pertarungan, itu yang kami lakukan,” kata Eddie.

“Saya bertumbuh dengan Rocky – bekerja keras dan meraih kejayaan pada akhirnya. Saya menyukai itu. Saya menyukai cerita itu. Saya menontonnya berulang-ulang.”

Saat ini, hampir dua dekade berselang, Eddie telah memberikan kehidupan yang lebih baik bagi istri dan anak-anaknya, tetapi ia tidak pernah melupakan darimana ia berasal.

Terlepas dari seberapa buruk lingkungannya saat itu, hal ini membantu dirinya menjadi seorang Juara Dunia dengan rekor luar biasa.

“Saya [berhasil] mencapai hal yang tidak mungkin,” kata Eddie.

“Saya memberikan kehidupan yang baik bagi saya dan keluarga saya. Mungkin [film] Rocky itu didasari cerita dari Eddie Alvarez.”

Manila | 2 Agustus | 19:00 WIB | TV: Periksa daftar tayangan lokal untuk siaran global | Tiket: http://bit.ly/oneheroes19