Fitur

Bagaimana Sasana Tribe Tokyo Milik Ryo Chonan Menjadi Unggulan

Ryo Chonan memasuki masa pensiun dengan catatan 35 laga bela diri campuran profesional dan gelar Kejuaraan Dunia DEEP Welterweight dalam resume-nya.

Selama kariernya itu, ia meraih kemenangan saat menghadapi Anderson “The Spider” Silva dan Hayato “Mach” Sakurai sementara ia meraih julukan “Piranha” atas gayanya yang keras dan tak kenal menyerah.

Sama pentingnya, atlet berusia 43 tahun ini memberi dasar bagi apa yang sekarang dikenal sebagai salah satu sasana bela diri terbaik di dunia: Tribe Tokyo MMA, yang telah menghasilkan berbagai kompetitor kelas dunia sejak tempat ini dibuka pada bulan April 2013.

Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah sasana di distrik Nerima, Tokyo menjadi raksasa seperti saat ini, dengan berbagai Juara Dunia yang telah menjadi pahlawan internasional bersama dengan ONE Championship.

Asal Mula Nama Tribe Tokyo

ONE Warrior Series CEO Rich Franklin stops by Tribe Tokyo MMA

Chonan awalnya berlatih sebagai bagian dari tim bela diri kolektif bernama Team MAD, bersama mantan Juara Dunia DEEP Light Heavyweight Yoshiyuki Nakanishi, Juara Dunia DEEP Welterweight Yuya Shirai dan veteran Pride Yasuhito Namekawa.

Namun, seluruh atlet ini tidak memiliki sasana resmi milik sendiri dan berlatih di Dojo Yoshida dan sasana Alliance milik Tsuyoshi Kosaka.

Saat tiba waktunya untuk memberi nama bagi rumah baru mereka, Chonan memutuskan menyebut sasana itu “Tribe Tokyo,” yang datang dari kata berbahasa Jepang “kakuto-zoku,” yang berarti suku bela diri.

Chonan memilih nama tersebut sebagai cara merefleksikan pendekatan yang teratur serta nilai-nilai kekeluargaan dari sasana tersebut. Sebagai sebuah makna yang harus dikenal di seluruh dunia, ia ingin memberi nama ‘Tokyo’ bagi sasana ini – agar kota tersebut terlihat di seluruh dunia.

Kekuatan Dari Kesulitan Besar

Mimpi Chonan untuk membangun kehidupan banyak orang dan membesarkan para Juara Dunia berasal dari kesulitan pribadinya.

Ia menghadapi mantan atlet Olimpiade dan Juara Dunia bela diri campuran Dan Henderson di ajang Pride Bushido 9 pada tahun 2005, namun laga itu tidak berlangsung sesuai keinginannya. Setelah kekalahannya, “Piranha” dengan seluruh kejujuran dan kerendahan hati menghubungi sang legenda Amerika Serikat itu demi membangun koneksi global dan menanyakan sesuatu.

“Saya bertanya apakah saya dapat berlatih dengannya,” kenang Chonan. “Saya menyadari saya harus berkembang, maka saya memikirkan tentang berlatih di luar negeri, namun saya tidak dapat berbahasa Inggris. Saya hanya memiliki buku kamus.”

Hanya dengan buku tersebut, atlet Jepang ini terbang ke California pada tahun 2007 untuk berlatih bersama “Hendo” di Team Quest.

Melihat perbedaan dari fasilitas dan menu latihan di luar negeri untuk pertama kalinya, Chonan mendapatkan ide untuk membuka sasana bela diri miliknya sendiri. Itu akan menjadi lebih dari sekedar dojo – itu akan menjadi tempat untuk menginspirasi banyak orang melalui seni dan kebugaran tubuh yang dipelajari.

“Saat saya berlatih di Amerika, saya mulai memikirkan berbagai cara untuk menjalankan sebuah sasana,” sebutnya. “Belum ada yang seperti itu di Jepang.”



Resiko Yang Dijalani 

Harga tanah di Tokyo saat itu cukup tinggi, dimana menyewa sebuah ruangan di kota itu – dengan asumsi para penyewa lainnya mengizinkan sebuah sasana dibuka – sangatlah sulit dan mahal.

Untuk alasan tersebut, mayoritas sasana bela diri di sana tidak lebih besar dari sebuah kondominium pribadi yang kecil. Namun, Tribe Tokyo ternyata cukup besar dan modern.

“Saya meminjam uang dari seorang teman yang sukses berbisnis, yang dahulu berlatih judo. Kami berbicara tentang para petarung yang berjuang keras dan tidak memiliki tempat berlatih, serta membutuhkan dukungan lebih,” kata Chonan.

“Saya tidak mampu mendapatkan tempat sebesar itu dengan uang saya sendiri. [Teman saya] juga berinvestasi untuk memperlengkai sasana dengan peralatan yang baik.”

Karena latar belakangnya dalam dunia konstruksi, Chonan secara pribadi bekerja bersama para buruh yang merenovasi seluruh ruang bawah tanah dan membangun Tribe Tokyo.

Memasuki Ranah Permainan Ground

Sementara banyak bisnis mengalami awal yang berat, Tribe Tokyo mendapatkan kurang lebih 150 anggota pada bulan kedua sasana ini beroperasi. Penempatan waktu, lokasi dan model bisnis yang tepat membawa akademi tersebut menjadi sangat populer di kota metropolitan ini.

“Banyak orang tinggal di area tersebut, dan saat kami berdiri, tidak ada sasana bela diri lainnya di sekitar kami,” sebut Chonan.

“Saya rasa banyak sasana akhirnya meniru cara kami, namun pada saat itu, tidak ada tempat dimana anda dapat berlatih bela diri dan berlatih beban. Kebanyakan tempat pada dasarnya adalah dojo. Saya rasa akan lebih sulit bagi dojo-dojo untuk menarik anggota baru. Serta, atlet-atlet saya sukses dan memberi publisitas yang baik.”

Saat ini, ONE Championship dengan bangga menerima seniman bela diri Jepang terbaik dalam jajaran atletnya, termasuk sepasang atlet peringkat atas dari Tribe Tokyo – yaitu penantang peringkat keempat dalam divisi strawweight wanita Ayaka “Zombie” Miura dan atlet peringkat keempat dalam divisi flyweight Yuya “Little Piranha” Wakamatsu.

Sebagai tambahan, Chonan juga telah memoles permainan Shoko Sato, yang membantunya menjadi atlet peringkat kedua dalam divisi bantamweight. Mantan Juara Dunia ONE Lightweight Shinya “Tobikan Judan” Aoki pun juga berlatih dan melatih di sasana ini.

Membangun Lebih Banyak Juara Dunia

Japan's Yuya Wakamatsu jumps as he is introduced at ONE: DAWN OF HEROES in Manila

Sesi latihan profesional di Tribe Tokyo ini dikenal sangat keras dan terstruktur dengan baik, melalui perpaduan antara teknik pengajaran tradisional dan modern yang diaplikasikan Chonan.

Kombinasi unik dari berbagai gaya yang berasal dari Jepang dan luar negeri ini kerap membantu atlet berbakat yang datang dari seluruh dunia.

“Adalah tujuan saya untuk melatih dan membangun atlet profesional yang dapat meraih tingkatan lebih tinggi dari diri saya sendiri,” sebut Chonan.

“Pelatihan profesional kami yang solid menarik atlet-atlet dari sasana lain. Seluruh atlet dan anggota di sasana saya sangat dekat – mereka berteman dengan baik. Beberapa bahkan menjalani bisnis bersama-sama. Kami telah menciptakan tempat yang bagus untuk pertukaran sosial.”

Sampai hari ini, Chonan masih menangani sendiri pekerjaan hariannya mengurus Tribe Tokyo dan membangun kesuksesannya dalam tingkatan internasional. Tubuh dan pikirannya terdorong sampai batasan sebagai atlet bela diri campuran profesional, dan ia pun berlanjut mengorbankan waktunya untuk membangun generasi terbaik dari para atlet baru.

Keanggotaan, pelatihan, perawatan dan manajemen atlet di Tribe Tokyo seluruhnya tidak lepas dari pantauan “Piranha.” Terlepas dari usaha keras yang dilakukannya, ia sangat senang dapat menciptakan perubahan tersendiri dalam komunitas lokalnya, sementara ia membangun karier para pejuang di atas panggung dunia.

“Seni bela diri menyelamatkan hidup saya, maka itu menjadi sangat penting bagi saya,” kata sang legenda Jepang ini. “Saya ingin meneruskan itu ke semua orang, bahkan jika hanya sedikit, saat mereka datang berlatih bersama kami.”

Sikap itu adalah alasan terbesar atas lahirnya semboyan dari Tribe Tokyo, yaitu “Akhiri latihan dengan senyuman,” atau, “Finish training with a smile.”

Baca juga: Kisah Lain Di Balik Team Lakay