Fitur

5 Laga Terbaik “Unstoppable” Angela Lee

“Unstoppable” Angela Lee berhasil mencatatkan namanya dalam jajaran atlet elit ONE Championship melalui serangkaian penampilan spektakuler yang membuatnya menjadi salah satu perwakilan utama dari organisasi bela diri terbesar di dunia ini.

Memulai debutnya sebagai pendatang baru saat berusia 18 tahun, atlet asal Singapura ini meraih gelar Juara Dunia ONE Women’s Atomweight pada usia 19 tahun dan menciptakan berbagai momen terbaik bersama The Home of Martial Arts, berikut bagaimana ia dapat bertahan melewati beberapa laga luar biasa yang dihadapinya.

Menjelang kembalinya Angela ke dalam The Circle melawan Michelle Nicolini di ajang ONE: MASTERS OF DESTINY pada hari Jumat, 12 Juli di Kuala Lumpur, Malaysia, berikut adalah lima laga terbaik di sepanjang karirnya.

#5 The Twister

Performa Angela saat menghadapi Natalie Gonzales Hills di ajang ONE: PRIDE OF LIONS pada bulan November 2015 telah menjejakkan dirinya dalam dunia bela diri.

“Unstoppable” sedang dalam performa menanjak setelah memenangi dua laga sebelumnya, dimana ia mampu tampil dominan di duel bawah dengan penuh percaya diri seperti dalam dua pertandingan sebelumnya. Sekali lagi, ia menyelesaikan laga pada ronde pertama melalui kuncian twister, sebuah teknik yang sangat jarang membuahkan hasil dalam laga profesional manapun.

#4 Rebecca Heintzman

Tahun pertama dalam karir atlet asal Singapura ini terbilang sibuk, dengan lima kemenangan dalam selang waktu sembilan bulan yang diraihnya melalui penampilan mengesankan.

Rebecca Heinztman adalah lawan yang sangat tangguh dan ia mampu bertahan melewati ronde pertama. Namun, upaya Angela melalui serangan dan kuncian di atas matras seolah menunjukan bahwa kemenangan “Unstoppable” hanya tinggal menunggu waktu.

Pada akhirnya, kuncian erat yang dilancarkan Angela pada leher lawannya ini, 68 detik memasuki ronde kedua, mampu memastikan kemenangan atlet muda kebanggaan Singapura ini.

#3 Sebuah KO Menakjubkan

Kisah karirnya selama 12 bulan pertama dalam dunia seni bela diri campuran atau mixed martial arts (MMA) mencatat Angela sebagai seorang yang memiliki kemampuan fenomenal dalam grappling. Tetapi, ia pun mampu menunjukan potensi lain yang ada dalam dirinya. Ia mampu memenangi laga melalui serangkaian pukulan dalam ajang ONE: WARRIOR KINGDOM pada bulan Maret 2017.

Berhadapan dengan Jenny “Lady GoGo” Huang, yang juga memiliki spesialisasi duel bawah, perwakilan Evolve dan United MMA ini menampilkan performa sempurna dalam duel stand-up sebelum mengakhiri laga melalui serangkaian serangan bawah.

#2 Duel Bawah Yang Tak Terhentikan

Bahkan jika anda mengesampingkan fakta bahwa Juara Dunia ONE Atomweight ini sedang berjuang melawan paru-paru basah ketika mempertahankan sabuknya melawan Istela Nunes, penampilannya di ajang ONE: DINASTY OF HEROES tetaplah menakjubkan.

“Unstoppable” mampu menetralisir kemampuan striking kelas dunia yang dimiliki atlet asal Brasil ini, serta membawanya ke duel bawah sembari terus menerus mengincar serangan pamungkas. Meskipun Nunes mampu melepaskan diri dari upaya kuncian twister milik Angela, ia tak mampu melawan kuncian anaconda choke yang dilancarkan Angela tujuh menit selang pertandingan dimulai.

#1 Gelar Juara Dunia Yang Dinanti

Hal ini tentunya menjadi pencapaian luar biasa bagi Angela, untuk menjadi Juara Dunia termuda dalam seni bela diri campuran ketika berusia 19 tahun. Tetapi, fokus utamanya adalah bagaimana ia mengalahkan Mei “V.V.” Yamaguchi dalam gelaran ONE: ASCENT TO POWER yang mengukuhkan posisinya di puncak.

Berhadapan dengan atlet veteran yang memiliki jam terbang jauh diatasnya, “Unstoppable” menolak untuk merasa minder dan kerap melancarkan serangan sejak bel berbunyi. Pada satu kesempatan, dimana Mey hampir mencetak KO, Angela mampu bangkit dan melanjutkan rangkaian serangannya hingga meraih kemenangan melalui keputusan mutlak juri.

“Sudah saya katakan bahwa saya terlahir untuk ini – saat sekarang ini [menjadi Juara Dunia]. Saya bekerja sangat keras untuk mencapainya,” kata Angela pada Mitch Chilson seusai laga.

“Saya hanya berpikir bahwa saya harus dapat bertahan – Mei tampil habis-habisan dan saya pun harus memberinya hal yang sama. Itu adalah pertandingan yang menakjubkan, saling serang selama 25 menit.”