Berita

Stamp Fairtex Ungkap Rahasia Saat Kalahkan Alma Juniku

Stamp Fairtex menghadapi ujian terberatnya di ajang ONE: LEGENDARY QUEST, namun ia mengatasi tantangan dari Alma Juniku untuk memastikan singgasananya terjaga.

Pada hari Sabtu, 15 Juni, superstar Thailand ini dipaksa berlaga mencapai batasan dirinya di Shanghai, Tiongkok, oleh penantang berusia 18 tahun yang berkompetisi tanpa beban.

Atlet Australia itu sempat menakuti wanita berusia 21 tahun dari Pattaya ini saat ia mengincar gelar Juara Dunia ONE Atomweight Muay Thai, namun Stamp lolos dari ujian ini untuk tetap menjadi Juara Dunia dua disiplin satu-satunya di dalam “The Home Of Martial Arts.”

“Ia sangat muda dan memiliki masa depan yang cerah, saya rasa ia akan berkembang sangat pesat,” sebut Stamp.

“Ia sangat cepat dan juga memiliki kombinasi bagus. Secara keseluruhan, saya merasa saya dapat menutup serangannya cukup cepat.”

“Ia suka menggunakan hook kanannya, namun itu membuka sisi kirinya, maka saya mengambil kesempatan membalas. Walau ia melemparkan lebih banyak pukulan, saya merasa [pukulan] saya lebih efektif – saya mendaratkan lebih banyak serangan bersih.”

“Pada ronde pertama, saya membaca gayanya dan menggunakan lutut saya untuk membendung tendangannya. Saya rasa itu menyakitkan, karena ia tidak ingin menendang lagi.”

Perwakilan Fairtex Training Center ini memulai dengan kuat, tetapi dirinya mengakui bahwa laga ini tidak berjalan sesuai keinginannya.

Ia mengungkapkan bahwa ia bergumul dengan cedera saat latihan, yang membuatnya tidak tampil dengan kekuatan penuh.

“Saya tidak dapat berlatih dengan kemampuan penuh. Saya merasa saya hanya memiliki 60-70 persen saat memasuki laga ini,” jelasnya.

“Ada banyak hal yang mengganggu saya. Saya hanya tidak dapat berlatih dengan layak. Saya menderita sakit di pundak saya, dan tidak dapat melakukan clinch.”

“Lalu, saya memiliki luka lecet parah di telapak kaki saya. Saya membukanya untuk membiarkan air keluar dan tetap berlatih. Namun, itu menjadi sangat besar dan dalam, sampai saya tak dapat berlari atau menendang.”

“Itu terasa seperti banyak hal kecil yang mengganggu pelatihan saya dan mencegah saya berlatih dalam kondisi 100 persen.”

Terlepas dari kesulitannya, Stamp memiliki determinasi untuk berlaga di Baoshan Arena dan mencetak kesuksesan dalam mempertahankan gelar Juara Dunia miliknya untuk pertama kali.

Namun, karena dirinya tidak dapat melancarkan teknik dengan baik di sasana, ia mengakui bahwa penampilannya mulai terdampak setelah beberapa ronde awal yang kuat.

Saya menderita kram yang sangat buruk di kaki saya memasuki ronde ketiga. Itu terkadang terjadi dalam latihan saat saya sangat tegang. Saya tidak dapat menendang dengan baik setelah itu,” jelasnya.

“Ditambah lagi, saya menjadi lelah dalam laga ini. Itu mungkin karena saya tidak sepenuhnya berada dalam kondisi yang baik seperti biasanya. Mendadak, saya seperti sangat kelelahan di sana, serta harus berlaga mengandalkan semangat dan pengalaman saya.”

Atlet berusia 21 tahun ini memiliki determinasi untuk menjaga sabuknya tetap berada di Thailand, maka ia menggunakan seluruh IQ pertandingannya untuk menguasai diri dan permasalahannya, serta mencari cara mendapatkan kembali momentumnya setelah Juniku mencetak kesuksesan.

Pada akhir ronde keempat, Stamp terlihat seperti kehabisan energi, namun ia menunjukkan keberanian dan semangat yang luar biasa untuk mengacuhkan kelelahannya itu dan maju dengan kemampuan terbaiknya pada ronde terakhir untuk meraih kemenangan mutlak.

“Saya bangga dengan diri saya Laga ini benar-benar menampilkan semangat [dan kebesaran hati] saya. Saya benar-benar maju dan menunjukkan bahwa saya tidak gentar bertukar [serangan],” tambahnya.

“Saya tidak pernah benar-benar berlaga seperti ini sebelumnya, namun saya hanya harus menggigit pelindung mulut saya dan maju.”

“Itu adalah laga yang tipis, namun pada akhir lima ronde tersebut, saya yakin saya telah menang.”

Kini, setelah melewati ujian perdananya untuk mempertahankan gelar Juara Dunia, Stamp memiliki beberapa opsi di hadapannya.

Ia dapat mempertahankan salah satu dari dua sabuk emasnya itu, atau melanjutkan misinya untuk menjadi Juara Dunia tiga disiplin pertama dengan beralih ke seni bela diri campuran.

Apapun keputusannya, atlet asal Rayong yang menjadi bintang di atas panggung dunia ini memastikan bahwa penggemarnya tak akan menunggu lama untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.