Gaya Hidup

Bagaimana Dzhabar Askerov Mengorbankan Segalanya Demi Bela Diri

10 Mei 2019

Salah satu striker yang paling dinantikan di dunia akan melakoni debut ONE Championship dalam ajang bertajuk ONE: ENTER THE DRAGON pada hari Jumat, 17 Mei.

Dzhabar “Genghis Kan” Askerov tiba di “The Home Of Martial Arts” untuk terjun kedalam turnamen yang sangat dinantikan di ranah seni bela diri. Ia akan menghadapi Enriko “The Hurricane” Kehl pada laga perempat final ONE Featherweight Kickboxing World Grand Prix yang berhadiah satu juta dolar Amerika.

Atlet berusia 33-tahun ini memiliki rekor 107-35-2, termasuk 54 kemenangan yang diraihnya melalui KO, dimana ia juga telah bersiap untuk menunjukkan kekuatannya yang dapat memberi efek luar biasa bagi kancah bela diri dunia.

“Saya ingin berada di puncak promosi terbaik dan memperlihatkan teknik bertarung yang indah,” ungkap Dzhabar.

Menjelang laga debutnya, mari kita pelajari bagaimana atlet yang menjadi tujuh kali Juara Dunia dari Rusia – yang telah berlatih selama 27 tahun di tiga benua berbeda – mampu mengukuhkan posisinya di dalam organisasi seni bela diri terbesar di dunia.

Ditempa Di Dagestan

Dzhabar berasal dari Kurah di Dagestan di mana sang ayah, Magomed, bekerja sebagai penegak hukum. Sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, ia menikmati masa kecilnya.

“Saya memiliki kakak perempuan dan kakak laki-laki, jadi sebagai anak terakhir, saya sedikit dimanja,” ingatnya.

Dzhabar memiliki potensi dalam dunia grappling. Pada saat ia berusia satu tahun, keluarganya pindah ke kampung halaman ayahnya, Magaramket, yang terkenal dengan sekolah judonya. Di sana, Dzhabar memulai perjalanan olahraga yang menjadi bagian dari karir dan jalan hidupnya.

“Olahraga memiliki peran penting di Dagestan. [Dagestan] negara yang kuat yang menuntut fisik dan juga pikiran yang kuat,” katanya.

“Ayah saya ingin anak lelakinya berlatih dengan keras. Hal ini juga menjauhkan kami dari jalanan dan mempersiapkan kami untuk [bertahan] hidup.”

“Semua anak lelaki di kampung saya berlatih angkat besi atau judo. Kakak laki-laki saya berkembang dengan baik di judo, jadi dengan secara natural, saya mengikuti jejaknya. Rutinitas sehari-hari saya sangatlah mudah – sekolah, lalu berlatih judo.”

Tetapi, hidup tidak selalu mudah bagi Dzhabar yang pindah ke kota Derbent pada saat ia berusia sembilan tahun, saat ayahnya harus kehilangan pekerjaannya.

Beradaptasi dengan sekolah baru adalah hal yang sulit, karena hampir semua teman barunya mencoba untuk mengusik dirinya. Namun karena ia dibekali kemampuan bela diri saat ia bertumbuh besar, ia tidak memiliki kesulitan untuk menjaga diri.

“Mereka mencoba memandang rendah saya dan mengusik saya karena saya datang dari kampung. Saya membutuhkan dua minggu untuk membuat mereka mengerti bahwa mereka telah memilih target yang salah,” jelasnya.

Perjalanan Panjang Dan Sulit

Saat menetap di Derbent, “Genghis Khan” menambahkan gulat gaya bebas ke dalam rutinitasnya dan sangat menyukai kombinasi seni bergulat.

Walaupun keluarganya tidak diberkati dengan harta yang melimpah, ia dengan mudah berpartisipasi dan mengikuti berbagai kelas baru dalam jadwal latihannya.

“Yang saya butuhkan untuk latihan adalah sepasang celana pendek untuk gulat atau kimono kakak lelaki saya untuk judo,” jelasnya.

“Sekolah baru saya di Derbent menawarkan kelas gulat gratis, dan saya jatuh cinta dengan olahraga ini. Jadwal saya sudah termasuk sangat padat, tetapi tak lama kemudian saya juga menambahkan senam.”

Tidak hanya itu, ayah Dzhabar ingin anaknya menambahkan latihan striking ke daftar teknik yang harus dikuasainya dan mendorongnya untuk berlatih kickboxing.

Namun, Dzhabar kecil tidak terlalu antusias untuk belajar disiplin yang baru tersebut. Karena dirinya adalah yang termuda dan terkecil di dalam kelompok, ia seringkali terluka oleh mereka yang lebih besar. Juga, karena pengeluaran yang cukup ketat, ia tidak bisa selalu menjalani latihan dengan peralatan yang tepat.

“Terkadang kami berlatih dengan sarung tangan untuk musim dingin, yang sedikit lebih empuk, tetapi tidak membantu banyak. Saya tidak bisa membeli pelindung, jadi buku-buku jari saya selalu hancur,” katanya.

“Saya tidak menyukai itu pada awalnya, tetapi pada saat [ayah saya] menanyakan hal tersebut, saya berbohong dan mengatakan semuanya baik-baik saja. Saya terlalu hormat padanya dan seluruh usahanya, dan tidak ingin mengatakan yang sesungguhnya dan mengecewakannya.”

Magomed sangat ingin melihat anaknya meraih kesuksesan, sehingga ia melakukan apapun untuk membantunya berkembang. Ia menaruh samsak di garasi dan menempelkan beberapa karton tebal di dinding untuk menjadi bantalan, sehingga anaknya bisa berlatih dan menguatkan pergelangan tangan dan buku-buku jarinya.

Dedikasi Mutlak

How far can seven-time Muay Thai World Champion Dzhabar Askerov go in the ONE Featherweight Kickboxing World Grand Prix? ????

How far can seven-time Muay Thai World Champion Dzhabar Askerov go in the ONE Featherweight Kickboxing World Grand Prix? ????Singapore | 17 May | 5:00PM | Watch on the ONE Super App: http://bit.ly/ONESuperApp | TV: Check local listings for global broadcast | Tickets: http://bit.ly/onedragon19

Posted by ONE Championship on Saturday, May 11, 2019

Setelah tiga tahun, Dzhabar kembali pindah, kali ini ke ibukota Dagestan, Makhachkala.

Kota ini menawarkan lebih banyak peluang, dan berkat saran pelatihnya dari Derbent, ia memulai latihan bersama Zainalbek Zainalbekov – salah satu pelatih Muay Thai yang dihormati di Rusia. Sejak saat itu, ia berkomitmen penuh untuk mendedikasikan hidupnya di dalam arena.

“Olahraga telah menjadi hidup saya. Pada saat saya berusia 15 tahun, saya paham bahwa hal ini akan menjadi karir saya,” katanya.

Namun, ia mengalami kesulitan untuk berlatih, karena ia tidak mampu membeli tiket bis ke sasana. Jika beruntung, sang supir akan membolehkannya naik tanpa membayar.

Terkadang, ia hanya dapat melakukan sekali perjalanan dan harus berjalan kaki sepanjang 15 kilometer – terkadang menembus hujan atau salju – untuk sampai di rumah.

Pada saat itu, ia tidur sekitar tengah malam untuk beristirahat beberapa jam sebelum bangun untuk latihan berikutnya di pagi hari dan melakukan aktivitas di sekolah.

Ia pun mempertajam keterampilannya di Dagestan, sampai ia pindah ke Thailand pada tahun 2005 untuk memulai karirnya dalam “seni delapan tungkai” di antara para pesaing elit.

Ekspektasi Besar

Setelah menjalani lebih dari 100 pertandingan profesional dan belasan kejuaraan, atlet asal Rusia ini semakin dikenal sebagai salah satu kompetitor terbaik di dunia.

Saat ini, ia tinggal dan berlatih di Melbourne, Australia. “Genghis Khan” menantikan kepulangannya ke tempat kelahiran tersebut, dimana ia dapat menguji dirinya melawan para atlet terbaik dunia.

“Kembali ke Asia Tenggara dan berkompetisi sebagai kickboxer akan menjadi hal yang luar biasa. Saya merasa benar-benar terhubung dengan belahan dunia ini,” katanya.

“Saya rasa, dalam hal kickboxing, ONE Super Series World Grand Prix memiliki deretan petarung terbaik di dunia saat ini. Saat saya melihat ke bagan turnamen, saya merinding.”

“[Atlet yang ada di] bagan tersebut sangat kuat – saya tidak ingat sesuatu yang mirip dengan ini sejak laga K-1 antara tahun 2004-2008.”

Lawan pertama Dzhabar adalah pesaing lamanya, Enriko, dimana mereka berdua akan tampil dalam sebuah laga yang berpotensi menjadi pertandingan paling menghibur di Singapore Indoor Stadium, hari Jumat ini.

Ia telah dua kali mengalahkan Juara Dunia Max K-1 tersebut sebelumnya – satu oleh keputusan juri pada tahun 2013, dan satu lagi melalui KO pada tahun 2014 – tetapi raksasa Rusia ini tahu betul ia tak dapat meremehkan lawannya ini.

“Enriko adalah atlet yang kuat, secara fisik dan mental. Tidak ada keraguan bahwa ia pasti ingin membalikkan keadaan dan telah berlatih sangat keras demi pertandingan kami. Poin terkuatnya adalah kondisi fisiknya, tetapi saya dapat menang karena pengalaman saya.”

“Saya belum siap membahas strategi permainan saya sebelum bertanding, tetapi anda akan menyaksikannya pada 17 Mei.”