Fitur

Siapa Saja Petarung Yang Tampil Di ONE Flyweight Muay Thai World Grand Prix?

Pada Januari 2018, striker Muay Thai legendaris Sam-A Gaiyanghadao menghadapi Juara Dunia WBC Muay Thai Joseph Lasiri di laga Muay Thai perdana dari ONE Championship – dan momen itu memberi kegemparan luar biasa dalam dunia olahraga tarung.

Karena sambutan positif itu, para petarung Muay Thai di seluruh dunia ingin menunjukkan kemampuan mereka di dalam organisasi ini. Mereka segera datang dengan cepat – dari para atlet featherweight sampai strawweight, pria dan wanita, serta veteran berpengalaman sampai remaja sensasional.

Namun, bahkan dengan seluruh bakat yang tersebar dalam organisasi ini, mungkin tak ada divisi yang dapat menandingi flyweight dalam konteks ketegangan dan para superstar-nya.

Beruntung, para penggemar olahraga tarung akan dapat melihat delapan striker terkejam di muka bumi yang akan tampil di ONE Flyweight Muay Thai World Grand Prix, yang dimulai dengan babak perempat final di ONE 157: Petchmorakot vs. Vienot pada Jumat, 20 Mei nanti.

Jelang turnamen prestisius lainnya dari ONE Championship di Singapore Indoor Stadium, mari kita lihat bagaimana tiap peserta itu tiba di kompetisi ini.

Kejayaan Rodtang, Penguasa Flyweight

ONe Flyweight Muay Thai World Champion Rodtang Jitmuangnon

Rodtang Jitmuangnon adalah petarung flyweight Muay Thai paling dominan dalam sejarah ONE, dan ia ingin memastikan status itu di dalam Grand Prix ini.

Sang penguasa divisi akan melawan Jacob Smith dalam babak perempat final, dan ia berharap akan dapat memasangkan sabuk perak turnamen ini dengan gelar Juara Dunia miliknya.

Atlet Thailand berusia 24 tahun ini mencetak debutnya di ONE pada 2018 melawan Sergio Wielzen, dan ia mengalahkan atlet Suriname itu melalui keputusan mutlak dan memenangkan tiga laga berikutnya.

“The Iron Man” lalu melengserkan Jonathan Haggerty untuk merebut gelar Juara Dunia ONE Flyweight Muay Thai dan tiga kali mempertahankannya sejak itu, termasuk via TKO ronde ketiga atas pria Inggris itu dalam laga ulang mereka.

Pria dengan catatan karier 267-42-10 itu beralih disiplin dan mengalahkan Tagir Khalilov via keputusan terbelah di bawah peraturan kickboxing. Lalu, ia kembali ke akarnya dan tampil mengalahkan “Mini T” Danial Williams via keputusan mutlak dalam laga stand-up paling menghibur di ONE untuk tahun 2021.

Rodtang bahkan sempat mencicipi disiplin bela diri campuran, saat ia menghadapi Juara Dunia MMA 12 kali Demetrious Johnson dalam sebuah laga-super peraturan khusus di ONE X, bulan Maret lalu.

Walau ia mengalami kekalahan perdananya di ONE, aksi dengan “Mighty Mouse” itu sangat berkesan dan menunjukkan ia akan menghadapi tantangan apa pun.

Maka, saat ONE Flyweight Muay Thai World Grand Prix diumumkan, pria yang berada di puncak divisi ini tak ingin duduk di pinggir arena. Walau ia diincar banyak orang, ia ingin berlaga melawan para atlet terbaik dalam divisinya dan menambahkan sebuah sabuk lainnya ke dalam koleksinya.

Dan, jika ia kalah dalam turnamen ini, Rodtang juga akan menghadapi sang Juara World Grand Prix dalam laga Kejuaraan Dunia di masa mendatang.

Jonathan Haggerty Incar Kebangkitan

Jonathan Haggerty enters the Circle at ONE: BAD BLOOD

Sejak Jonathan Haggerty kehilangan gelar Juara Dunia ONE Flyweight Muay Thai di tangan Rodtang, pria berusia 25 tahun itu memiliki misi untuk kembali merebut sabuk emas itu. Dan, ia melakukan pekerjaan yang spektakuler sejauh ini dengan memenangkan dua laga terakhirnya.

Bintang Inggris itu mengalahkan penantang peringkat keempat flyweight Muay Thai Mongkolpetch Petchyindee dan atlet peringkat keempat flyweight kickboxing Taiki Naito dengan kemenangan mutlak yang tegas, dimana itu tetap memastikan dirinya sebagai ancaman dalam laga Kejuaraan Dunia.

Dengan catatan karier 18-4, Haggerty kini memegang posisi penantang teratas di bawah Rodtang dan membuktikan ia dapat mengalahkan berbagai nama besar dalam disiplin ini.

Faktanya, ia memenangkan sabuk emas divisinya dengan penampilan mengejutkan atas Sam-A pada 2019 – penampilan yang diragukan oleh banyak orang.

Mantan penguasa flyweight Muay Thai king ini cukup lama berada di jajaran puncak divisinya, maka sangatlah tepat jika ia dilibatkan dalam Grand Prix ini. Namun, “The General” akan kembali menghadapi salah satu tantangan terberatnya di perempat final, petarung kuat Brasil Walter Goncalves.

Perjalanan Naito Menuju Puncak

Pictures from the fight between Taiki Naito and Petchdam at ONE: REVOLUTION

Taiki Naito sukses berganti disiplin di ranah striking, dengan catatan rekor impresif 34-9 dalam Muay Thai dan kickboxing.

Setelah bergabung bersama ONE pada 2019, “Silent Sniper” memenangkan tiga laga perdananya dalam organisasi in melawan Alexi Serepisos, Rui Botelho dan Savvas Michael di bawah peraturan Muay Thai.

Kekalahan tunggalnya terjadi di tangan Haggerty, namun Naito segera bangkit dengan kemenangan dalam disiplin kickboxing atas Wang Wenfeng.

Striker Jepang ini lalu meraih pencapaian terbesarnya sampai saat ini dengan kemenangan atas mantan Juara Dunia ONE Flyweight Kickboxing Petchdam Petchyindee di bawah peraturan Muay Thai.

Dengan hasil besar itu dalam catatan rekornya, pria berusia 26 tahun dari Bell Wood Fight Team ini meraih kesempatan beraksi di dalam turnamen keras itu, dimana ia akan menghadapi atlet flyweight di bawah ini.

Aksi Berbahaya Superlek

Ilias Ennahachi fights Superlek Kiatmoo9 at ONE: FISTS OF FURY

“The Kicking Machine” Superlek Kiatmoo9 secara konstan membuktikan julukannya, karena tendangan kirinya telah membawa dirinya meraih catatan rekor luar biasa, 127-29-4. Lima dari keseluruhan laga itu terjadi di ONE, di bawah peraturan kickboxing dan Muay Thai.

Pria berusia 26 tahun ini memulai perjalanannya bersama organisasi ini dengan tiga kemenangan beruntun dalam Muay Thai atas Lao Chetra, Botelho dan Panpayak Jitmuangnon.

Ia lalu beralih ke kickboxing, dimana ia mengalahkan Fahdi Khaled dan berjuang sampai akhir melawan Juara Dunia ONE Flyweight Kickboxing Ilias Ennahachi. Walau Superlek tak dapat meraih sabuk emas kickboxing, Juara Dunia Muay Thai empat kali ini kini kembali ke disiplin yang dulu didominasinya.

Jika ia mengalahkan Naito dalam babak perempat final, penantang peringkat kedua flyweight Muay Thai dan kickboxing ini akan mengambil langkah besar menuju tujuan utamanya – sabuk Juara Dunia ONE.

Kegigihan Dan Determinasi Goncalves

Exclusive photos from Japanese star Momotaro and Brazilian striker Walter Goncalves’ Muay Thai fight at ONE: COLLISION COURSE II on 25 December

Walter Goncalves memang hanya memiliki catatan rekor 0-2 bersama ONE, namun itu dikarenakan ia melawan sepasang striker yang sangat berbahaya. Kini, pemukul keras asal Brasil itu ingin membuktikan dirinya dapat bertarung melawan atlet flyweight terbaik dalam organisasi ini.

Pria berusia 23 tahun ini mencetak debut di ONE melawan Rodtang pada ajang bersejarah ONE: CENTURY PART II. Dan secara mengejutkan, Goncalves menyeret sang Juara Dunia melewati lima ronde penuh aksi keras sebelum ia kalah dengan keputusan terbelah yang sangat tipis.

Ia kemudian kembali bertarung melawan Juara WBC Muay Thai Momotaro, namun atlet Jepang itu menghentikannya pada ronde kedua.

Dengan catatan karier 65-7, perwakilan Blackthai CT itu memiliki banyak pengalaman, dan penggemar pun belum melihat kemampuan terbaiknya di atas panggung dunia. Melawan Haggerty, Goncalves akan mendapatkan kesempatan mengubah hal itu.

Perkembangan Kemampuan Michael

Perjalanan Savvas Michael bersama ONE memang sarat dengan tantangan besar, namun Grand Prix ini takkan lengkap tanpa sang Juara Dunia WBC dan WMC Muay Thai itu.

Siapa yang dapat melupakan debut pria berusia 23 tahun ini, saat ia mengungguli serangan veteran yang lebih berpengalaman, Singtongnoi Por Telakun?

Michael memang gagal mengulang kesuksesan itu di kedua penampilan berikutnya di dalam Circle, namun pria yang mencatatkan rekor 41-4 ini dapat saja mengubahnya.

Pada 20 Mei, warga Siprus itu akan menyambut atlet berikutnya di bawah ini bersama ONE, namun itu takkan menjadi tugas yang mudah.

Aksi Langka Naseri Di Muay Thai

Amir Naseri dianggap sebagai kuda hitam dalam Grand Prix ini, tetapi itu hanya karena ia belum tampil bertanding bersama organisasi ini. Faktanya, jika kita melihat resumenya itu, ia dapat menjadi ancaman besar bagi tiap pria di turnamen itu.

Pria keturunan Malaysia-Iran berusia 30 tahun ini sebelumnya merebut gelar Juara Omnoi Stadium, yang menjadikannya pria non-Thailand kedua yang memenangkan sabuk Omnoi prestisius itu.

Perwakilan Tiger Muay Thai ini juga menenangkan Kejuaraan “2019 King’s Cup” di Thailand dan bertahan sampai akhir laga melawan Saenchai.

Sebuah kemenangan dalam babak perempat final atas Michael akan membuat Naseri diperhatikan oleh para penggemar di seluruh dunia, dan itu juga akan memberi pesan tegas bagi seluruh atlet flyweight dalam turnamen ini.

Debutan Inggris Smith Dapatkan Kesempatan Lawan Rodtang

Juara Muay Thai Inggris Jacob Smith seharusnya mencetak debut ONE melawan Rodtang tahun lalu, walau protokol COVID-19 terpaksa menghapus laga itu.

Kini, pria Inggris dengan catatan rekor 10-1-1 ini akan mendapatkan kesempatan melawan sang penguasa divisi dalam babak perempat final Grand Prix. Jika atlet berusia 29 tahun itu mengalahkan sang megabintang Thailand, ia akan membawa namanya melejit dan menjadi favorit dalam turnamen ini.

Namun, seperti yang telah dialami oleh sembilan striker di ONE Championship, akan sangat sulit untuk dapat mengalahkan “The Iron Man.”

Ikuti perkembangannya

Bawa ONE Championship kemana pun anda pergi! Daftarkan diri untuk mendapatkan akses ke berita terbaru, berbagai tawaran spesial dan kursi terbaik dalam gelaran langsung kami.
Dengan mengirimkan formulir ini, anda menyetujui pengumpulan, penggunaan dan pembukaan informasi anda berdasarkan Privacy Policy kami. Anda dapat membatalkan (unsubscribe) dari jenis komunikasi ini kapan saja.