‘Saya Lahir Untuk Melawan Orang-Orang’ – Perjalanan Liar Denis Puric Dari Bosnia Ke Panggung Muay Thai Global

Tagir Khalilov Denis Puric ONE162 1920X1280 30

Kehidupan Denis Puric itu memang seperti film-film Hollywood.  

Striker berusia 38 tahun ini – yang akan melawan Nguyen Tran Duy Nhat dalam aksi flyweight Muay Thai di ONE Fight Night 17: Kryklia vs. Roberts – telah melihat yang terbaik dan terburuk dari kemanusiaan.

Setelah dikeliliingi oleh bahaya dan ketidakpastian saat ia kecil, Puric menggunakan seluruh pengalaman itu untuk membentengi dirinya di dalam ring dan menjadi favorit penggemar karena gayanya yang tak kenal takut dan sangat menghibur.

Sebelum “The Bosnian Menace” kembali beraksi pada jam tayang utama A.S., Jumat, 8 Desember, atau Sabtu pagi, 9 Desember waktu Asia, mari kita telusuri latar belakangnya dan melihat bagaimana momen itu membawanya ke organisasi seni bela diri terbesar di dunia ini.

Terlahir Di Masa Perang

Puric terlahir dari sepasang orang tua asal Bosnia di Ljubljana, Slovenia, pada 1985, namun saat Perang Yugoslavia mulai memanas di kawasan itu pada tahun 1992, keluarga ini pindah ke negara asal mereka – yang akhirnya menjadi medan perang paling intens saat itu.

Di titik itu, mereka hampir tak bisa pergi. Ayah Puric menjadi tentara di medan perang, sementara istri dan anaknya tinggal di kamp pengungsian, tak mengetahui apakah sang kepala keluarga itu hidup atau mati.

“The Bosnian Menace” berbagi pada onefc.com/id:

“Saat tembakan pertama mulai terdengar, ayah saya berkemas dan pindah ke Bosnia karena ia punya banyak tanah dan rumah di sana.”

“Kami kembali ke Bosnia tanpa mengetahui bahwa peperangan sebenarnya akan terjadi di sana. Saat itu terjadi, mereka menutup perbatasan, maka kami terdampar di sana selama empat tahun.”

“Kami menghabiskan beberapa waktu di kamp pengungsian sementara ayah saya berada di garis depan, bertarung dalam perang itu.

“Ia tertembak di medan perang dan seperti menghilang dari kami. Ibu dan saya mengira ia meninggal dunia. Kami kembali ke kota kami, dan kami pergi ke kamp pengungsian lain karena peperangan itu kembali dimulai di kota kami. Yang kedua kalinya itu, kami menemukan ayah saya masih hidup.”

Segala sesuatunya sangat bergejolak, tapi keluarga ini akhirnya menemukan seseorang yang dapat menyelundupkan mereka kembali ke Slovenia, dimana tak ada lagi pertempuran yang terjadi. Tetap saja, kenangan akan Bosnia dan kamp pengungsian itu sudah terpatri dalam kenangan Puric muda.

Sementara ia tak sepenuhnya menyadari apa yang terjadi pada saat itu dan mencoba hidup sebagai anak yang normal, Puric kini menyadari betapa seramnya situasi tersebut:

“Saya teringat kami bermain sepak bola di lapangan suatu kali, dan ada kuda yang berlari. Dan saya kira kuda itu menginjak ranjau darat, dan itu meledak. Kami tidak tahu bahwa itu adalah ladang ranjau, tempat dimana kami bermain sepak bola.”

“Kami harus pindah tempat dan lebih banyak bermain di jalanan. Tetapi jalanan itu semuanya rusak terkena bom. Ada lubang granat di mana-mana. Tapi, kami adalah anak-anak. Kami tetap bisa bermain di tempat mana pun yang kami temukan.” 

Kehidupan Baru Di Kanada

Dengan peperangan yang masih bergejolak di kawasan itu, ayah Puric ingin membawa keluarganya sejauh mungkin.

Awalnya ditolak masuk ke Amerika Serikat, keluarga ini akhirnya diterima di perbatasan utara, Kanada, dimana mereka pun pindah untuk memulai kehidupan baru – walau dibutuhkan beberapa waktu untuk menemukan lokasi yang tepat.

Melihat kembali perubahan gaya hidup yang sangat besar itu, “The Bosnian Menace” berkata: 

“Kami ditolak oleh A.S. karena ayah saya bertempur di peperangan itu. Maka, kami mendaftar untuk status pengungsi untuk pergi ke Kanada. Kami pindah ke Kanada pada 28 Agustus 1997.”

“Saat saya pertama tiba di sana, saya berada di Regina, Saskatchewan, yang adalah kota kecil pada saat itu. Itu sangat dingin. Kami tiba di sana pada musim panas, tetapi setelah musim dingin tiba, suhunya menjadi -20 derajat.”

“Ayah saya seperti, ‘Kita pindah!’ Maka kami pindah 600 kilometer jauhnya, yang bahkan lebih buruk. Itu di Winnipeg, Manitoba. Kami tinggal di sana sekitar satu setengah tahun dan pindah ke pinggiran Toronto ke kota yang bernama Hamilton pada musim panas 1999, dan kami tinggal di sana sejak itu.”

Menjadi pengungsi dan harus tinggal di berbagai rumah di kota yang berbeda, Puric menjadi ‘orang luar’. Tetapi, berbagai hal memang juga dapat menjadi cukup berbahaya di jalanan, dan satu-satunya cara untuk memastikan keamanan adalah berkelompok.

Ia menemukan ini dalam budaya geng lokal, yang memang cocok untuknya selain salah satu gairahnya yang lain:

“Kota dimana kita tinggal itu keras. Banyak geng dan hal-hal seperti itu. Untuk dapat bertahan, anda harus menjadi bagian dari sesuatu. Saya tidak punya saudara lelaki atau perempuan untuk mengurus saya. Saya harus menemukan cara untuk tetap aman selama bertumbuh besar.”

“Saya dulu melakukan breakdance. Maka, saya melihat mereka breakdancing, dan saya berpikir saya hanya ikut dan menunjukkan kemampuan saya. Mereka suka dengan apa yang mereka lihat, dan mereka seperti, ‘Hei, kamu mau jadi bagian kru kami?’”

“Satu hal membawa ke lain hal, dimana kami seperti berubah menjadi geng. Itu lebih seperti rasa persaudaraan bagi kami, tapi orang lain melihatnya berbeda. Tetapi itu bagus bagi saya, karena saya merasa aman. Ini adalah mereka yang menjadi saudara saya sampai hari ini.”

“Terkadang kami melakukan beberapa hal buruk, tetapi kami adalah anak-anak. Apa yang kami tahu? Kami harus belajar dari seluruh pengalaman itu dan tetap bergerak maju.” 

‘Kita Berlatih Muay Thai’

Puric memang sudah mulai berlatih seni bela diri di kamp pengungsi, dimana salah satu pria yang lebih tua mengajar karate. Saat keluarga ini pindah kembali ke Slovenia, ia melanjutkan latihannya di sekolah taekwondo lokal, karena ibunya ingin anaknya dapat melindungi diri sendiri.

Beruntung, “The Bosnian Menace” menjalani itu dengan serius, dan setelah pindah ke Kanada, ia pun mulai berkompetisi.

Ia meraih sabuk hitam dan memenangi kejuaraan nasional Kanada selama empat tahun berturut-turut, tapi ketika ia mendapatkan peringatan karena perilakunya di akhir masa remajanya, ia pun menemukan “seni delapan tungkai”:

“Pada 2002, saya masih berusia 17 tahun. Saya bertemu pelatih saya, yang masih menjadi pelatih saya hari ini, Kru Alin Halmagean, yang memperkenalkan saya pada Muay Thai.”

“Saya ikuti berkelahi di sekolah menengah atas dan terlibat permasalahan. Ada pekerja sosial yang membantu saya bangkit dan membenarkan berbagai hal dalam diri saya. Ia mendaftarkan saya untuk pergi ke sebuah sasana kebugaran.”

“Kru Alin adalah manajer kebugaran di sana. Ia mewawancarai saya dan menunjukkan saya berbagai tempat di sana. ‘Baik, kamu harus membersihkan toilet ini. Singkirkan beban angkat berat itu.’ Ini dan itu.”

“Ia membawa saya ke ruang tinju dengan samsak dan berbagai hal seperti itu, maka saya hanya mulai bermain-main dengan samsak. Pria itu melihat saya dan ia seperti, ‘Lupakan semua toilet itu. Kamu duduk di sini dan belajar tinju dengan pria ini. Kita berlatih Muay Thai.’”

Kesempatan itu menempatkan Puric pada jalur yang baru, dan ia tak pernah lagi melihat ke belakang. Pada akhirnya, realita dan intensitas sejati dari Muay Thai mampu memukau dirinya.

Ia menjelaskan:

“Saya suka atmosfer mereka, dan saya suka pria Eropa keras yang adalah [Alin]. Sejak itu, saya mulai berlatih Muay Thai. Dua minggu memasuki latihan Muay Thai saya, saya menjalani pertarungan pertama saya. Saya kalah!”

Mengubah Gairah Menjadi Karier

Awalnya, Muay Thai hanya menjadi kegemaran Puric. Namun, saat pelatihnya mengatakan ada uang yang dapat dihasilkannya dalam bidang baru ini, ia segera mengambil komitmen.

Pria yang berdiam di Hamilton tak mengetahui bahwa pertarungan dapat menjadi pekerjaan profesional, dan saat ia mempelajarinya, ia tak pernah mencari hal lain lagi:

“Saya pergi ke rumah Kru Alin dan melihat sebuah ajang, dan saya seperti, ‘Apakah kamu berkata saya dapat dibayar untuk bertarung?’ Ia seperti, “Ya, kamu tidak tahu?’”

“Saya berpikir, ‘Inilah yang saya cari.’ Bertarung adalah gairah saya, dan jika saya dapat menghasilkan uang, jelas, saya akan mempertahankan itu. Dan, 21 tahun kemudian, kami masih melakukannya!” 

Puric mulai menerima penghasilan dalam Muay Thai dan kickboxing, tetapi untuk mencapai potensi sepenuhnya, ia pun pindah ke Thailand pada 2010. 

Ia berlatih di berbagai tempat sampai dirinya diperkenalkan pada legenda striking Thailand Buakaw Banchamek, yang mengundangnya belajar di sasana miliknya.

Dirinya lalu berlatih bersama Superbon Singha Mawynn muda dan para kompetitor kelas dunia lainnya, dimana “The Bosnian Menace” tahu ia ada di tempat yang tepat.

Puric berkata:

“Sasana itu menjadi keluarga. Superbon, Petchtanong, Buakaw – beberapa ‘pembunuh’ yang ada di sana. Kami sangat dekat. Kami makan bersama, berlatih bersama, tidur bersama. Kami bangun, kami berlari – segala sesuatu yang kami lakukan itu selalu bersama-sama.”

“Itu membawa saya kembali pada masa itu, dimana saya hanya ingin menjadi bagian dari sekelompok orang yang menerima anda, dan anda bertumbuh bersama. Dan itulah yang terjadi, kawan.” 

‘Kita Sudah Melangkah Sangat Jauh, Kawan’

Puric kini berlatih, bertarung dan melatih di seluruh belahan dunia, dimana ia menjadi sosok yang cukup dikenal secara internasional. Ia berkompetisi dalam MMA, kickboxing dan Muay Thai, tak pernah menolak pertarungan sulit, apa pun keadaannya.

Dedikasi dan persistensi itu terbayar dengan sebuah kontrak tanding ONE Championship pada 2022, saat ia ingin mencetak dampak besar melawan para petarung terbaik di antar yang terbaik.

Itu adalah impian yang menjadi kenyataan bagi Puric setelah melihat Juara Dunia ONE Flyweight Muay Thai Rodtang “The Iron Man” Jitmuangnon menjadi salah satu striker terpopuler dan paling menarik di muka bumi.

Walau “The Bosnian Menace” kembali ke Kanada dan memiliki anak lelaki, ia tahu dirinya harus berada dekat dari aksi tersebut untuk meningkatkan kesempatannya meraih kesuksesan:

“Selama COVID, saya menonton ONE Championship, dan saya melihat pria bernama Rodtang ini menghancurkan semua orang, dan yang dapat saya pikirkan adalah, ‘Saya harus melawan orang ini.’” 

“Segera setelah Thailand membuka perbatasan mereka, saya berkata, ‘Saya akan terbang ke sana dan mencoba mendapatkan kontrak ONE Championship itu. Saya tak peduli siapa yang mereka taruh di hadapan saya, tapi tujuan utama saya adalah Rodtang.’”

“Dua bulan setelah itu, saya mendapatkan kontrak itu, dan di sinilah kita sekarang, masih mengejar laga itu.”

Baik jika Puric bisa atau tak dapat meraih kesempatan melawan Rodtang satu hari nanti, ia jelas akan merasa bangga dengan segala sesuatu yang dicapainya, serta seberapa jauh dirinya melangkah setelah masa kecil yang sangat bergejolak itu.

Jelas bahwa dirinya memang seorang petarung sejati, dan ia menunjukkan itu dengan komitmen dan semangat, bahwa segala sesuatu hal itu mungkin terjadi.

“The Bosnian Menace” berbagi tentang jalur luar biasa yang dijalaninya menuju panggung global:

“Itu sangat gila [bahwa saya beranjak dari kamp pengungsi sampai dapat bertarung di berbagai stadion]. Saya harap mereka masih menonton saya! Kita sudah melangkah sangat jauh, kawan.” 

“Kita telah bertarug sejak saya lahir! Baik jika itu adalah peperangan, sepak bola di kamp pengungsi, berdansa, atau bertarung – saya lahir untuk melawan orang-orang. Dan saya kira saya akan mati saat melawan seseorang juga. Itu adalah cara terbaik untuk pergi.”

Selengkapnya di Fitur

Amir Aliakbari Dustin Joynson ONE Fight Night 12 44
Arjan Bhullar Anatoly Malykhin ONE Friday Fights 22 28
Tye Ruotolo Reinier de Ridder ONE Fight Night 10 33
Danial Williams Lito Adiwang ONE Fight Night 19 19 scaled
Jonathan Haggerty Felipe Lobo ONE Fight Night 19 127 scaled
JonathanHaggerty FelipeLobo
Jo Nattawut Luke Lessei ONE Fight Night 17 31 scaled
Mohamed Younes Rabah Saemapetch Fairtex ONE Fight Night 17 16 scaled
Mohamed Younes Rabah Saemapetch Fairtex ONE Fight Night 17 16 scaled
Sitthichai Sitsongpeenong Eddie Abasolo ONE Friday Fights 22 46
Nong O Hama Jonathan Haggerty ONE Fight Night 9 4
Saemapetch Fairtex Felipe Lobo ONE Fight Night 9 30