Fitur

ONE Flyweight World Grand Prix – Kisah Epik Yang Berlanjut

29 Sep 2019

Semua mata akan tertuju pada arena sumo legendaris, Ryogoku Kokugikan, di Tokyo, Jepang pada tanggal 13 Oktober, saat tiga turnamen bersejarah akan berakhir dalam ajang bela diri terbesar di dunia.

Para fans asal Filipina dipastikan akan mengikuti aksi dalam ajang ONE: CENTURY PART I, saat perwakilan muda Team Lakay Danny “The King” Kingad mencoba mengejutkan dunia dengan mengalahkan ikon bela diri global Demetrious “Mighty Mouse” Johnson dalam laga Final ONE Flyweight World Grand Prix.

Pejuang asal Amerika Serikat ini difavoritkan sejak awal turnamen, tetapi perjalanannya menuju babak final ini membuktikan tidak ada sesuatu yang pasti dalam dunia bela diri campuran, dan bahwa sebuah kejutan akan mungkin terjadi di Tokyo, Jepang.

Sebelum World Grand Prix berakhir, yang akan menentukan penantang selanjutnya bagi Adriano “Mikinho” Moraes demi gelar Juara Dunia ONE Flyweight, mari kita melihat kembali bagaimana Danny dan Demetrious mampu mencapai titik ini.

Dimulainya Babak Perempat Final

Turnamen ini dimulai pada gelaran ONE: A NEW ERA di bulan Maret, dengan penampilan luar biasa dari Kairat “The Kazakh” Akhmetov, yang meraih kemenangan mutlak atas Reece “Lightning” McLaren.

Mantan Juara Dunia ONE Flyweight ini menunjukkan tingkatan kemampuan tinju yang berbeda dari sebelumnya, saat ia menjatuhkan rivalnya asal Australia tersebut dengan sebuah hook kiri pada ronde pertama dan mempertahankan keunggulan selama 10 menit sisa laga.

Reece pun tampil dengan baik, mempertahankan tekanan dan ingin melanjutkan rekor kemenangan beruntunnya, namun ia tak mampu mengungguli perwakilan Tiger Muay Thai lawannya itu.

Beberapa menit kemudian, Danny tampil dan mempertahankan kemenangan melalui laga liar melawan atlet tuan rumah Senzo Ikeda, dimana laga ini menjadi salah satu laga terbaik tahun 2019.

Keduanya segera bertukar serangan liar dan keras, ditambah dengan scramble dan teknik grappling yang menegangkan. Juara Dunia Pancrase itu mendaratkan beberapa pukulan keras, tetapi “The King” menampilkan strategi dan kelihaian berlaga luar biasa untuk membalikkan keadaan.

Senzo mampu membuat para penonton tuan rumah bersorak saat ia mendapatkan sebuah kuncian rear-naked choke pada detik-detik terakhir, tetapi itu tidak mampu merebut hati para juri setelah Danny mendominasi selama 15 menit yang dramatis.

Keadaan Tak Terduga

Di sisi lain turnamen ini, Demetrious memulai perjalanannya melawan Yuya “Little Piranha” Wakamatsu dan harus melewati ujian berat diluar dugaan para fans.

Atlet 24 tahun asal Jepang tersebut menampilkan kemampuan pertahanan grappling yang luar biasa untuk tetap berdiri pada stanza pembuka, serta menyerang dengan pukulan yang meninggalkan bekas pada muka “Mighty Mouse” saat ia kembali ke pojok ring.

Pria yang dijuluki atlet terbaik dunia itu kemudian menampilkan dominasi luar biasa para ronde kedua, dimana kontes ini berjalan ke atas kanvas dan mencetak kuncian guillotine choke yang tak mampu dilepas demi menaklukkan Juara Turnamen Pancrase Flyweight. Ini juga merupakan kemenangan perdana Demetrious, yang menjalani debutnya bersama ONE Championship.

Babak perempat final terakhir harus ditunda selama beberapa minggu, saat lawan Tatsumitsu “The Sweeper” Wada – atlet asal Brasil Ivanildo Delfino – menderita cedera.

Gustavo “El Gladiator” Balart kemudian menggantikan Ivanildo dalam ajang ONE: ROOTS OF HONOR, dimana ia hampir saja menciptakan kejutan saat dirinya mampu mendominasi di awal laga.

Ia juga menampilkan kemampuan gulat Greco-Roman miliknya, tetapi Juara DEEP Flyweight ini menggunakan tinggi badan serta jangkauannya untuk menaklukkan agresi atlet asal Kuba tersebut, dan meraih kemenangan mutlak untuk berhadapan dengan “DJ.”

Laga Keras Dan Hasil Tipis

Kompetisi ini beralih dari dalam Circle ke atas ring dalam babak semifinal World Grand Prix, saat ONE kembali ke Manila dalam ajang ONE: DAWN OF HEROES di bulan Agustus.

Sebelum aksi dimulai, sebuah cedera tangan saat latihan memaksa Kairat mundur dari kompetisi, tetapi Reece tidak ragu untuk kembali dalam ajang ini demi menghadapi Danny – dimana atlet Australia ini hampir saja membungkam seluruh pendukung tuan rumah.

Atlet Filipina ini menemukan dirinya kesulitan saat melawan pemegang sabuk hitam Brazilian Jiu-Jitsu tersebut, dimana ia harus berjuang mengatasi beberapa percobaan kuncian rear-naked choke. Setelah ronde berikutnya dimulai, ia menyerang dengan ganas untuk menyamakan kedudukan, tetapi “Lightning” mampu kembali menyeretnya ke bawah dan menyarangkan kuncian.

Danny harus mengerahkan seluruh kemampuannya di dalam ronde terakhir – demi mencetak beberapa takedown – yang membawanya ke rangkaian serangan terbaiknya. Kemampuan ground and pound miliknya cukup untuk memberinya sebuah keputusan terbelah, atau split decision, yang tipis.

Kemenangan Danny menyisakan sebuah laga terakhir dalam babak semifinal, dan seperti yang terjadi sebelumnya, Demetrious sempat mengalami kesulitan saat melawan Tatsumitsu. Atlet Jepaning ini mendominasi lawannya yang berusia 33 tahun tersebut di atas kanvas pada ronde pertama. Ia mengambil punggung dan mengendalikan atlet asal Amerika Serikat tersebut.

Hal tersebut berarti para fans di Manila akan menyaksikan kebangkitan kembali yang dramatis dari Demetrious jika ingin melihat “Mighty Mouse” mencapai babak final, dan DJ menjawabnya dengan baik dengan mengalihkan pendekatannya ke serangan grappling keras yang memberinya posisi untuk menyarangkan berbagai kombinasi serangan keras atas “The Sweeper” di kanvas.

Ini dapat menjadi sebuah kemenangan tipis lainnya, tetapi ketiga juri memberikan kemenangan bagi Demetrious dan membuka jalannya ke Final Kejuaraan World Grand Prix melawan Danny, saat mereka kembali ke Tokyo di sebuah ajang terbesar dalam sejarah ONE.

Baca lagi: 5 Pelajaran Dari Rangkaian ONE Flyweight World Grand Prix Sejauh Ini

Tokyo | 13 Oktober | ONE: CENTURY | TV: Periksa daftar tayangan lokal untuk siaran global | Tiket: https://onechampionship.zaiko.io/e/onecentury

ONE: CENTURY adalah ajang Kejuaraan Dunia bela diri terbesar dalam sejarah dengan 28 Juara Dunia yang tampil dalam berbagai disiplin bela diri. Belum ada organisasi dalam sejarah yang pernah mempromosikan dua ajang Kejuaraan Dunia di hari yang sama.

“The Home Of Martial Arts” kembali membuka babak baru dengan menyajikan beberapa laga perebutan gelar Juara Dunia, tiga babak final Kejuaraan World Grand Prix, serta serangkaian Juara Dunia yang akan melawan Juara Dunia lainnya di lokasi ikonik Ryugoku Kokugikan, Tokyo, Jepang, tanggal 13 Oktober.