Fitur

Inspirasi Lito Adiwang Sebagai Atlet Pro Adalah Manny Pacquiao

Saat terkait laga yang sangat panas, hanya beberapa atlet yang mampu bertahan dari serangan atlet Team Lakay Lito “Thunder Kid” Adiwang, yang akan melawan “Wolf Of The Grasslands” Hexigetu di ONE: REVOLUTION pada Jumat, 24 September ini. 

Faktanya, dinamo divisi strawweight ini telah muncul sebagai salah satu petarung paling menarik di daftar atlet ONE Championship.

Namun, karena ia bertumbuh besar di Flipina dengan menyaksikan aksi dari Juara Dunia Tinju delapan divisi Manny Pacquiao, hal itu seharusnya tidak mengejutkan.

Saat bintang Adiwang terus bersinar di “The Home Of Martial Arts,” ia ingin menirukan apa yang telah “Pacman” lakukan dalam rangkaian karier legendaris selama 26 tahun itu.

“Saat terkait olahraga, inspirasi terbesar yang saya miliki adalah Senator Manny Pacquiao,” kata pria berusia 28 tahun ini. “Ia adalah sosok yang benar-benar mendorong saya untuk mengenakan sarung tangan [MMA]. Ada berbagai hal yang ia telah lakukan bagi negara ini, terutama dalam olahraga, itulah mengapa [panutan saya] sejatinya adalah dirinya.”

Sejauh ini, “Thunder Kid” telah mengikuti langkah idolanya itu – setidaknya dalam pendekatan mereka dalam arena kompetisi.

Seperti Pacquiao di dalam ring, Adiwang membawa energi tanpa henti ke dalam Circle dan konsisten mematahkan lawan dengan serangan dari berbagai sudut. Terlebih lagi, ia selalu meningkatkan ritme, yang berbuah beberapa penyelesaian mencengangkan.

Atlet Filipina ini menghentikan Senzo Ikeda dan Pongsiri “The Smiling Assassin” Mitsatit pada ronde pertama, serta mencetak KO atas Namiki Kawahara pada ronde kedua. Yang terbaik, ia menggunakan pukulan khas Pacquiao – sebuah hook kiri pendek ke rahang lawan – untuk merusak debut Kawahara di ONE pada Januari lalu.

“Saat saya lebih muda, saya menonton laga-laga awalnya. Saya sangat terkagum. Ia terus menang, dan melakukannya dengan cara yang semenarik mungkin,” kata Adiwang.

“Ia tampil bagi para penggemar, dan itu memberi saya semangat untuk berkata, ‘Satu hari nanti, saya ingin melakukan ini dan mengikuti jejaknya.’”

Rich Franklin’s ONE Warrior Series Contract Winner Lito Adiwang

Adiwang juga memiliki latar belakang yang mirip dengan Pacquiao.

Sayangnya, kemiskinan dan laga demi hadiah uang berjalan seiring di Filipina, dimana banyak atlet menggunakan disiplin tinju sebagai batu loncatan demi kehidupan yang lebih baik dan cara mendukung keluarga mereka.

Dapat dikatakan bahwa Pacquiao menjadi kisah sukses paling terkenal dalam kaitan ini. Olahraga tinju mengubahnya dari seorang remaja yang memiliki beberapa pekerjaan serabutan di jalanan Manila menjadi seorang superstar yang berlaga di pertandingan tinju terbesar dalam sejarah, melawan Floyd Mayweather Jr., pada tahun 2015 lalu.  

Dan walau Adiwang menemukan jalurnya dalam disiplin yang berbeda, yaitu bela diri campuran, kejayaan Pacquiao mengingatkan dirinya bahwa kerja keras dan determinasi akan selalu terbayarkan.

“Seperti saya, ia juga memulai dari nol, dan kini ia telah menjadi jutawan,” kata atlet strawweight ini. “Salah satu pelajaran dari itu adalah saat anda melakukan yang terbaik dan bertahan dengan gairah anda, anda akan meraih kesuksesan. Itu tak akan sia-sia. Semua itu akan mengikuti.”



Sementara Adiwang jelas terinspirasi oleh kisah hidup Pacquiao yang sangat luar biasa, ia lebih terkesan dengan cara petinju legendaris ini menyikapi ketenaran dan penghasilan barunya itu.

Dengan melihat perilaku “Pacman” di luar ring dan caranya mengatasi sorotan, “Thunder Kid” meyakini ia memiliki cara tentang bagaimana seorang atlet profesional harus melakukan pendekatan yang baru terhadap popularitas dan kesuksesan finansial.

“Saya harus menyoroti kerendahan hatinya. Ia telah mencapai segalanya dalam tinju. Ia mencapai puncak, tetapi ia tetap rendah hati,” kata Adiwang. 

“Inilah kesulitan bagi beberapa atlet dalam hidup mereka. Saat kita mendapatkan sesuatu yang belum pernah kita dapatkan sebelumnya, seperti uang, beberapa atlet terjerumus, terutama karena mereka tak tahu cara menggunakannya.”

“Namun Senator Manny itu berbeda. Kerendahan hatinya dan caranya mengatasi ketenaran, anda akan melihat bahwa ia tak sedikit pun berubah.”

Lito Adiwang enters the Mall Of Asia Arena

Seperti banyak warga Filipina lainnya, Adiwang sulit mempercayai kekalahan Pacquiao dalam laga terakhirnya melawan Yordenis Ugas bulan Agustus lalu. Dalam laga itu, nampak bahwa perjalanannya bertahun-tahun di dalam ring telah berdampak besar.

Berbagai perdebatan tentang apakah “Pacman” harus, pada usianya yang ke-42, menggantung sarung tinjunya telah muncul di seluruh dunia.

Namun, Adiwang tak berencana untuk terlibat dalam pembicaraan tersebut. Ia hanya ingin mendukung keputusan pahlawannya itu, baik untuk pensiun atau terus bertanding. Lagipula, “Thunder Kid” mengetahui bahwa Pacquiao layak memutuskan itu sendiri.

“Ia adalah idola saya, dan sangat menyakitkan untuk melihatnya kalah. Tetapi, sebagai penggemar sejati, saya menghormati apa pun keputusannya,” tegas produk Team Lakay ini. 

“Jika ia ingin pensiun, atau jika ia masih memiliki semangat itu – itu tergantung pada dirinya. Saya tak dapat mendikte apa yang ia ingin lakukan berikutnya. Saya hanya berdoa bagi dirinya dan mendukungnya.” 

Terlepas dari kelanjutan karier Pacquiao, “Thunder Kid” memiliki kesempatan untuk melanjutkan warisan idolanya itu dengan menerapkan pendekatannya di dalam ring dan profesionalitasnya di luar sana.

Lito Adiwang meets Hexigetu at ONE: REVOLUTION

Baca juga Lito Adiwang Bicara Tentang Hexigetu, Brooks Dan Team Lakay

Muat Lebih Banyak

Ikuti perkembangannya

Bawa ONE Championship kemana pun anda pergi! Daftarkan diri untuk mendapatkan akses ke berita terbaru, berbagai tawaran spesial dan kursi terbaik dalam gelaran langsung kami.
Dengan mengirimkan formulir ini, anda menyetujui pengumpulan, penggunaan dan pembukaan informasi anda berdasarkan Privacy Policy kami. Anda dapat membatalkan (unsubscribe) dari jenis komunikasi ini kapan saja.