‘Ia Hanya Sangat Jujur’ – Kade Ruotolo Sebut Saudara Kembarnya Tye Jadi Kunci Kesuksesan Terbesarnya

Kade Ruotolo embraces Tye Ruotolo at ONE on Prime Video 3

Walau Kade Ruotolo meraih berbagai pencapaian besar dalam karier tunggalnya, ia masih dikenal di seluruh dunia sebagai bagian dari duo luar biasa.

Petarung berusia 20 tahun dan saudara kembarnya, Tye Ruotolo, dikenal sebagai sepasang atlet kembar yang sangat berbakat di dunia Brazilian Jiu-Jitsu.

Dan, saat Kade bersiap untuk menjalani pertahanan gelar Juara Dunia ONE Lightweight Submission Grappling, ia mengetahui saudaranya itu memainkan peranan penting dalam lajunya mencapai puncak disiplin ini.

Faktanya, Kade menyebut bahwa Tye memang menjadi faktor terpenting dalam perjalanan seni bela diri itu, yang akan berlanjut saat ia melawan penantang kuat Tommy Langaker di laga pendukung utama gelaran ONE Fight Night 11: Eersel vs. Menshikov pada Sabtu pagi, 10 Juni waktu Asia.

Petarung fenomenal Amerika ini berkata pada ONEFC.com/id:

“Saya mengira takkan ada sesuatu pun yang dapat membantu saya lebih dari saudara saya, sebagai seorang atlet. Karena, ada banyak kali dimana saya berpikir saya takkan dapat mencapai beberapa hal tertentu tanpa dirinya.”

Dibesarkan di atas matras bersama dan meraih kesuksesan yang hampir tak dapat tertandingi selama memegang berbagai sabuk berwarna itu dalam BJJ, Ruotolo bersaudara ini masih anak-anak saat nama mereka pertama kali melejit.

Mereka kini menyadari tiap ekspektasi yang ditempatkan oleh banyak orang ke pundak mereka, dan Kade berkata hal ini takkan terjadi jika tidak ada rekan berlatih elite dimana dirinya dapat selalu menguji kemampuannya.

Di luar itu, hubungan unik mereka itu memang seperti memiliki seorang pelatih di sisi masing-masing, dalam keseharian mereka untuk memberikan saran – atau kasih sayang yang ‘keras’ yang mungkin tak dapat diberikan oleh orang lain – selama 24 jam dalam sehari, 365 hari dalam setahun.

Ia menjelaskan:

“Ada banyak hal [yang Tye lakukan untuk membantu saya], dari kehidupan sehari-hari, pertarungan satu jam penuh yang kami baru saja jalani di garasi sampai [seseorang] tap out.”

“Setiap pertempuran yang kami jalani benar-benar membangun kami menjadi atlet seperti hari ini. Kami bahkan takkan mampu mendekati posisi saat ini jika tanpa satu sama lain.”

“Saya tak mengira akan dapat memenangkan [Kejuaraan Dunia] ADCC jika ia tak ada di sana. Hanya ada beberapa kata yang dia ucapkan sebelumnya. Ada hal-hal yang saudaramu akan katakan dimana itu takkan dikatakan oleh orang lain.”

“Itu seperti, ‘Dude, kamu benar-benar jelek di ronde itu. Apa yang kau lakukan?’ Ia hanya sangat jujur, dan anda membutuhkan itu untuk berkembang.”

Kade Akui Kekacauan Mereda Di Persaingan Seumur Hidup Dengan Tye

Kade Ruotolo berkata bahwa ia belum pernah memiliki rekan berlatih sekeras saudara kembarnya, Tye Ruotolo, yang membantunya berkembang menjadi atlet yang tak dapat dipatahkan, baik secara mental mau pun fisik.

Selain berlatih di beberapa sasana terbaik dunia, keduanya akan selalu beradu di sasana rumah mereka selama berjam-jam. Seluruh aksi tersebut dapat saja berlangsung sangat panas, tetapi ini semua mengasah mereka menjadi kompetitor yang tak kenal menyerah.

Kade mengenang:

“Kami bertumbuh dengan sikap sangat keras kepada satu sama lain. Dan, saya kira itulah mengapa kami suka berbagai hal seperti combat jiu-jitsu, kami suka MMA. Kami menyukai hal-hal seperti itu. Kami tak pernah mundur dari pertarungan.”

“Saya kira, itu karena kami selalu saling beradu satu sama lain sepanjang hidup kami.”

Namun, Juara Dunia ONE Lightweight Submission Grappling ini memang melihat bahwa mereka berdua saat ini memang sedikit mereda, karena mereka telah berusia 20an dan tidak terlalu sering lagi beradu satu sama lain seperti dulu.

Dengan pencapaian terbesar di dunia grappling yang dipertaruhkan dalam karier profesional mereka, keduanya harus menyisakan energi untuk berkompetisi dan menyesuaikan intensitas mereka ke tingkat yang sedikit lebih rendah – setidaknya di sebagian besar waktu mereka.

Kade menambahkan:

“Terkadang itu menjadi sedikit terlalu gila, pastinya. Ya, kami mencoba untuk mengendalikannya sekarang. Tetapi saat kami bertumbuh besar, ada perkelahian yang meledak di setiap waktu. Maksud saya, ada hidung yang berdarah, luka kecil yang terbuka.”

“Baru-baru ini, kamu jauh lebih baik dalam hal itu. Saya kira kami mencoba untuk sedikit lebih dewasa dan menyadari bahwa kami tak boleh berkelahi seperti itu terlalu sering.”

Selengkapnya di Fitur

Rodtang Jitmuangnon Denis Puric ONE 167 137
Tawanchai PK Saenchai Jo Nattawut ONE 167 78
DUX 1183
Rodtang Jitmuangnon Edgar Tabares ONE Fight Night 10 36
Johan Ghazali Edgar Tabares ONE Fight Night 17 21 scaled
Rodtang Jitmuangnon Edgar Tabares ONE Fight Night 10 28
Johan Ghazali Edgar Tabares ONE Fight Night 17 21 scaled
Tawanchai PK Saenchai Superbon Singha Mawynn ONE Friday Fights 46 123 scaled
Victoria Souza Noelle Grandjean ONE Fight Night 20 34
MasaakiNoiri 1200X800 1
Katsuki Kitano Halil Kutukcu ONE Friday Fights 38 25
Jo Nattawut Luke Lessei ONE Fight Night 17 84 scaled