Fitur

Harrison Mengenang ‘Hal-Hal Mengejutkan’ Saat Latihan Perdana Di Thailand

Dalam kurun waktu dua dekade terakhir, kompetitor tangguh ONE Super Series divisi bantamweight Liam “Hitman” Harrison telah mengukuhkan namanya dalam deretan atlet Muay Thai teratas.

Namun jauh sebelum mampu menjatuhkan para lawannya di hadapan ribuan fan, atlet yang bernaung di Bad Company ini harus menempuh perjalanan pulang pergi dari tempat asalnya di Inggris menuju Thailand dengan harapan menjadi seorang bintang dalam “seni delapan tungkai.”

“Saat itu saya berusia 16 atau 17 tahun,” tutur 8x Juara Dunia Muay Thai ini.

“Kala itu saya baru selesai bertanding, dan kami memiliki seorang pelatih di gym yang bernama Jitti. Dia bilang ‘Kamu harus datang dan berlatih di gym saya di Thailand.’

“Kami telah melihat banyak petarung yang melakukan hal itu dan mendengar cerita mereka tentang berlaga di sana, serta semua pengalaman yang mereka jalani, jadi saya ajak salah satu orang yang ada di gym, “Ayo. Mari ke sana dan lihat bagaimana hasilnya.'”

Kala itu, informasi tentang berlatih di Thailand masih sangat minim, sehingga Harrison tak memiliki gambaran sama sekali. Setelah menjalani dua kali latihan dalam sehari dengan masing-masing durasi selama tiga jam, ia mulai mengerti bahwa berlatih Muay Thai di tempat kelahirannya sungguh berbeda dengan apa yang ia lalui di negaranya.

“Saya ke sana dan benar-benar mengejutkan – cuaca panas, bagaimana mereka [atlet Thailand] berlatih, dan dibanting oleh atlet Thailand yang ukurannya jauh lebih kecil dari saya. Semuanya mengejutkan,” tutur atlet berusia 34 tahun ini.

“Saya hanya berada di sana selama tiga minggu. Awalnya saya berniat untuk bertarung, tapi akhirnya saya tidak bertarung sama sekali.”



Meski “Hitman” tidak berkesempatan untuk berlaga di salah satu stadion bersejarah dalam sambangan pertamanya ke Thailand, pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam baginya.

“Sesaat setelah Anda melangkahkan kaki keluar dari pesawat, kelembaban dan cuaca panasnya [terasa berbeda]. Anda segera menyadai hal ini sangat berbeda. Ini gila,” tuturnya.

“Anda tak mungkin benar-benar siap. Tak peduli seberapa sering orang-orang mengingatkan tentang itu – berlatih dalam cuaca panas selama tiga jam, lalu berlari beberapa mil – hal itu akan terngiang, namun Anda tidak benar-benar menyadarinya sampai merasa seluruh tenaga Anda terkuras 10 menit setelah memasuki latihan.”

Setelah terbiasa dengan udara Thailand, Harrison mampu beradaptasi dengan cuaca dan pola latihannya. Setelah itu, ia baru bisa menyerap apa yang memang menjadi tujuannya sejak awal.

“Saya dikelilingi oleh para Juara stadium elit yang menjadi pelatih di gym, dan saya belajar sedikit-sedikit,” tuturnya.

“Pengetahuan yang saya dapatkan selama tiga minggu mungkin memerlukan waktu berbulan-bulan jika saya berlatih di rumah, dan saya tahu ini yang saya inginkan.”

Selain demi belajar Muay Thai, pria asal Inggris ini juga tak ingin melewatkan kesempatan untuk menikmati budaya Thailand selama berada di Negeri Gajah Putih.

“Saya melihat semuanya, jalan-jalan melihat pemandangan, dan mencoba-coba semuanya,” kenangnya. “Saat malam hari, kadang saya pergi keluar untuk minum. Saya tak pernah ke sana sebelumnya, jadi saya tak mau hanya dia di gym selama di negeri yang indah ini.”

Harrison kembali ke Inggris tak lama kemudian. Meskipun telah belajar banyak dan memapu mengaplikasikan apa yang telah ia pelajari di Jitti Gym dengan baik, ia tetap merindukan suasana latihan keras yang ada di Thailand.

“Ada banyak tip dan trik sederhana yang saya pelajari ketika latihan – cara melakukan sweep dan melemparkan lawan dalam posisi clinch. Namun saat kembali ke Inggris dan berada dalam grup, hal itu jadi susah [diterapkan]. Kita tidak memiliki tujuh pelatih full-time,” jelasnya.

“Di Thailand tak ada hal lain yang perlu dipikirkan selain latihan, hal itulah yang saya nikmati. Saya tak perlu menendang pad, dan balik memegangnya bergantian dengan rekan latihan. [Di Thailand] ada tujuh hingga delapan pelatih elit yang fokusnya memang melatih Anda.”

Selama 18 bulan setelahnya, kembali ke “Mekahnya Muay Thai” adalah hal yang ada dalam benaknya seiring dengan upayanya membangun reputasi di Eropa.

Harrison juga mengerti bahwa untuk menjadi yang terbaik, ia harus mengalahkan yang terbaik. Maka saat berusia 19 tahun, ia berpindah ke Thailand selama dua tahun – dan kali ini, anak muda dari Leeds tersebut benar-benar serius.

“Saat saya kembali ke sana, saya bilang ‘Perlakukan saya seperti halnya petarung yang lain,” kenangnya. “Selama enam bulan, saya tidur di atas matras di gym seperti halnya para atlet Thailand lainnya. Itulah cara hidup saya. Itu yang saya inginkan.”

British Muay Thai striker Liam Harrison with the winner medals, celebrating with the ring girls

Dedikasi untuk hidup, berlatih, dan bertanding seperti halnya atlet Thailand mulai membuahkan hasil, dan ia mulai menghadapi para kompetitor elit di sana.

“Akhirnya saya banyak bertanding di sana, bersama para juara stadion dan petarung elit. Semua tahu siapa saya, jadi rasanya sangat luar biasa,” tuturnya.

“Saya jadi berpikir, ‘Ok, inilah saatnya, ini adalah hal yang saya inginkan. Saya ingin membangun reputasi di sana, dan membawa pengalaman tersebut saat kembali ke Inggris dan membangun reputasi lebih besar lagi.

Jika Harrison mendapatkan laga seperti yang ia harapkan, dan lanjut melengserkan Juara Dunia ONE Bantamweight Muay Thai Nong-O Gaiyanghadao dari takhtanya, maka ia akan mengokohkan reputasinya lebih jauh lagi.

Baca juga: Rasakan Kekuatan Brandon Vera Dalam ‘The Truth Break It Challenge