Fitur

Cara Lowen Tynanes Pulih Dari Cedera Serius Untuk Kembali Ke ONE

Setelah hampir tiga tahun sejak penampilan terakhirnya di ONE Championship, Lowen Tynanes akhirnya siap kembali ke dalam arena.

Penantang tak terkalahkan divisi lightweight ini tampil pada Jumat, 25 Januari dalam ajang ONE: HERO’S ASCENT, dimana ia akan membuka turnamen ONE Lightweight World Grand Prix.

Dalam laga perdananya setelah jauh dari arena ini, Tynanes akan menghadapi mantan Juara Dunia ONE Featherweight Honorio “The Rock” Banario, yang masuk ke perempat final ini dengan enam kemenangan dalam tujuh laga terakhirnya.

Dengan tujuan terbesar untuk menjadi Juara Dunia ONE Lightweight, Tynanes akan memulai perjalanannya Jumat ini dengan penampilan di laga pendukung utama melawan atlet Filipina yang mewakili Team Lakay itu.

Sebelum ia memasuki arena, mari kita lihat bagaimana Tynanes menjadi seorang seniman bela diri, dan apa yang ia lakukan selama tiga tahun belakangan ini.

Keluarga Yang Retak

Saat Tynanes masih balita di Hawaii, Amerika Serikat, orang tuanya berpisah.

Keluarga itu pun retak, dimana ia dan saudara-saudara kandungnya terpaksa hidup bersama ibu mereka. Yang menjadikan segala sesuatunya semakin buruk, sang ibu sedang berjuang keras mengatasi kesulitan pribadinya saat itu.

Tynanes sangat ingin untuk kembali ke pelukan ayahnya.

“Hal tersulit bagi saya saat bertumbuh besar adalah bahwa saat saya masih sangat muda, ayah dan ibu berpisah. Saya memiliki dua saudara lelaki – satu lebih tua dan satu lebih muda. Saya anak tengah, dan ibu saya seperti membawa kami pergi. [Tetapi] kami selalu ingin berada bersama ayah kami,” jelas Tynanes.

“Saya kira pada saat saya berada di taman kanak-kanak atau kelas satu. Saya tidak tahu usia tepatnya, namun saya masih sangat kecil, dan adik terkecil saya mungkin masih berusia dua tahun. Kami tak mengerti apa yang terjadi.”

Pada akhirnya, Tynanes dan kedua saudaranya itu kembali untuk tinggal bersama ayah mereka.

Seiring dengan pertumbuhannya menjadi pria dewasa, ia mengerti mengapa keluarganya terpisah. Berkat waktu dan kedewasaan dirinya, Tynanes juga dapat terhubung kembali dengan sang ibu.

“Saat kelas satu atau dua [sekolah dasar], ayah saya mendapatkan hak asuh sepenuhnya atas kami,” kata Tynanes.

“Ketika anda mempelajari tentang hubungan, anda dapat melihat apa yang manusia dewasa lakukan, namun saat itu, saya mengira ibu saya tak berada di posisi yang terbaik, maka bagi kami, itu cukup menyedihkan.”

“Yang benar-benar menyelamatkan kami adalah ayah dan Tuhan. Ibu kini menjadi sosok yang sangat berbeda. Ia menemukan Tuhan dan memiliki dua anak kecil. Saya mendapatkan adik lelaki lainnya dan adik perempuan.”

Lahir Untuk Menjadi Seniman Bela Diri

Tynanes pun tidak kebetulan menemukan seni bela diri campuran.

Ayahnya, Myles, adalah seorang seniman bela diri campuran profesional pada zamannya, dimana ia mewariskan pengetahuannya kepada anak-anaknya itu pada usia mereka yang masih cukup muda.

“Seni bela diri pertama yang kami pelajari adalah tinju,” jelas Tynanes. “Kami mendapatkan foto saya dan kakak saya mengenakan popok dan sarung tinju Mike Tyson berwarna merah. Saya memulai dengan tinju, lalu saat ayah mulai bertarung, ia mempelajari jiu-jitsu, maka kami juga mempelajari jiu-jitsu [saat berada] di sekolah dasar.”

“Di sekolah menengah [pertama], saya menjalani gulat. Seseorang mengatakan pada ayah saya, ‘Jika anakmu ingin bertarung, ia harus bergulat. Gulat adalah hal baru yang semua orang lakukan sekarang.’ Maka, ayah mendaftarkan kami untuk bergulat.”

Tynanes melanjutkan perjalanannya dalam gulat selama sekolah menengah atas sebelum ia memutuskan menjadi atlet profesional dalam karier bela diri campurannya sendiri.

Ia bahkan mampu meraih mimpinya saat ia berbagi kartu pertandingan yang sama dengan ayahnya, saat sang ayah menjalani laga terakhir dalam kariernya.

“Itu terjadi di Jepang, dan saya adalah petarung pertama malam itu, dimana ia adalah yang terakhir. Saya lebih gugup melihat dirinya daripada menjalani laga saya sendiri,” kata Tynanes.

“Saya sangat bersemangat, maju untuk mendominasi, dan berakhir sebagai pemenang. Keluar bersama ayah saya, saya mengalami apa yang kami sebut sebagai ‘kulit ayam’ [chicken skin] – saya kira banyak orang daratan utama menyebutnya ‘merinding’. Saya mulai menangis saat berjalan bersama ayah saya.”

“Saat ia berlaga, saya sangat gugup sampai saya terus berteriak, ‘Angkat tanganmu!’ Ayah saya akhirnya mencetak KO atas pria itu, dan saya memasuki ring sambil menangis. Saya berkata, ‘Ayah, tolong berhenti bertarung. Saya akan bertarung sekarang supaya ayah tak perlu [bertanding]’.”

Kembali Hidup

Dianggap sebagai salah satu prospek divisi lightweight terbaik dunia, Tynanes mungkin mendekati sebuah perebutan gelar dengan kemenangan atas Koji “The Commander” Ando pada tahun 2016 saat bencana melanda.

Atlet asal Hawaii itu menderita cedera punggung parah yang tak hanya membuatnya harus berada di sisi ring, namun juga hampir mengakhiri kariernya.

“Saya menderita cedera punggung parah yang berulang,” kata Tynanes.

“Sebenarnya, saya mengeringkan [bagian penghubung] tulang punggung saya, bagian i4 dan i5, dimana itu sebagian besar adalah sciatica yang menusuk ke arah pantat saya sampai ke kaki.”

Tynanes mengalami sesuatu yang mirip saat ia masih lebih muda. Ketika itu, latihan dan persiapan yang sesuai membantunya mengatasi cedera tersebut. Sayangnya, cedera ini terus melandanya sampai pada titik dimana ia tak dapat berkompetisi.

Dibutuhkan waktu dan perjuangan yang lama untuk pulih, namun kini ia telah kembali pada kondisi siap berkompetisi. Selama itu, ia juga menemukan kebahagiaan di luar arena.

“Itulah yang membuat saya tertahan selama beberapa tahun. Ada banyak keausan yang terjadi,” jelas Tynanes.

“Saya mengambil beberapa langkah mundur dan mengevaluasi kembali hidup saya, serta menemukan apa yang terpenting.”

“Seni bela diri campuran adalah cinta pertama saya dan itu selalu menjadi gairah nomor satu bagi saya. Saya benar-benar dapat melihat berbagai hal dari sudut yang berbeda. Saya kembali bersekolah, saya mengerjakan segala sesuatu bagi diri saya, hubungan saya dengan ibu saya, keluarga saya, serta sering bepergian.”

“Saya membantu adik saya melewati sekolah menengah atas – ia dua kali menjadi juara negara bagian dalam gulat. Saya melakukan banyak sekali yoga demi memperkuat bagian inti tubuh saya dan melonggarkan otot punggung saya, lalu melakukan banyak sekali [usaha] pemulihan.”

Tujuan Yang Tak Pernah Berubah

Dalam perjalanan sebelumnya di divisi lightweight ONE, Tynanes telah mencetak catatan rekor sempurna 5-0 dengan total 9-0 di dalam kariernya.

Waktu istirahat itu memang menjadi sebuah kemunduran, namun ia kini bersemangat untuk membayar kembali waktu yang terbuang.

Inilah mengapa Tynanes sangat termotivasi saat ia menerima panggilan untuk bergabung dalam ONE Lightweight World Grand Prix. Jika ia dapat meraih kemenangan atas para kompetitor elit dalam turnamen itu, ia akan berada pada jalur yang tepat untuk memenuhi ambisi utamanya.

“Gelar Juara Dunia selalu menjadi tujuannya,” kata Tynanes.

“Jika anda tak menginginkan gelar Juara Dunia, maka anda berada di olahraga yang salah. Saya ada di sini untuk menantang yang terbaik, bertemu yang terbaik dan pastinya berkuasa di puncak.”

Misinya dimulai pada Jumat, 25 Januari, dalam laganya melawan Banario di ajang ONE: HERO’S ASCENT.

Ikuti perkembangannya

Bawa ONE Championship kemana pun anda pergi! Daftarkan diri untuk mendapatkan akses ke berita terbaru, berbagai tawaran spesial dan kursi terbaik dalam gelaran langsung kami.
Dengan mengirimkan formulir ini, anda menyetujui pengumpulan, penggunaan dan pembukaan informasi anda berdasarkan Privacy Policy kami. Anda dapat membatalkan (unsubscribe) dari jenis komunikasi ini kapan saja.