Fitur

Bagaimana Seorang Mentor Membentuk Karir Dan Kehidupan Yuya Wakamatsu

31 Jul 2019

Yuya “Little Piranha” Wakamatsu mampu menggapai prestasi seperti saat ini berkat seorang figur pelatih dan mentor, yaitu Ryo “The Piranha” Chonan.

Berkat arahan Ryo, yang memberinya julukan “Little Piranha”, pria berusia 24 tahun yang akan melawan Geje “Gravity” Eustaquio dalam ajang ONE: DAWN OF HEROES pada hari Jumat, 2 Agustus ini, telah berubah dari remaja bermasalah menjadi salah satu atlet bela diri terbaik dunia.

Juara Turnamen Pancrase Flyweight ini bertemu dengan mentornya tak lama setelah kepindahannya ke Tokyo dari kampung halamannya, Kagoshima, di mana dia mengaku sering terlibat dalam perkelahian.

Setelah pria ini sampai di sana, ia pun mendapatkan kesempatan berlatih seni bela diri campuran sebagai saluran untuk mengasah kemampuannya dan menjauhkannya dari agresi berlebihan.

Yuya tertarik bergabung dengan Tribe Tokyo MMA yang berlokasi di daerah Nerima, karena kepala pelatih di sasana tersebut – Juara Dunia dua divisi DEEP yang dikenal seluruh dunia melalui penampilannya bersama organisasi PRIDE.

“Pertama kali Ryo-san bertarung dengan Hayato “Mach” Sakurai, dia menang TKO. Saya melihat pertandingan itu berulang kali! Saya tidak akan pernah melupakan kebesaran hati dan semangat yang ditunjukkannya,” ujar Yuya.

Kehidupan Yuya berubah drastis setelah ia bergabung dengan sasana tersebut dan menemukan sebuah tim profesional yang ia kagumi dan hormati – semuanya berlatih di bawah asuhan panutan terbesarnya yang akan membuatnya menjadi orang yang lebih baik dan seorang atlet kelas dunia.

Pada awalnya, Yuya tidak tertarik berkompetisi. Namun, ketika pelatihnya mulai menaruh perhatian pada kemajuannya, ia mulai mempertimbangkan menjadi seorang profesional.

“Pertama kali saya datang ke sasana, Ryo-san tidak berada disana. Saya bertemu dengan beliau saat saya kembali untuk kedua kalinya. Pada waktu itu, saya belum memiliki keinginan menjadi seorang profesional,” katanya.

“Saya terdorong saat Ryo-san mengatakan bahwa saya menjadi lebih kuat.”

Yuya menyadari bahwa ia memiliki kesempatan meraih mimpinya menjadi seorang bintang bela diri, dan hal tersebut menjadi nyata dengan pelatihan dari idolanya.

Ia menyadari bahwa tidak mudah mencapai titik tersebut, dimana Ryo juga mendorong keras anak-anak asuhannya. Namun, pelatihnya ini adil dengan siapapun yang memberikan seratus persen usahanya ketika di atas kanvas.

“Sederhananya, ia ada saat kami menang dan saat kami kalah. Dia melakukan segalanya untuk kami.” ujar “Little Piranha.”

“Dia memang keras terhadap orang yang melewatkan latihan, tetapi dirinya sangat peduli saat anda memberikan seluruhnya untuk berlatih. Beberapa orang berhenti karena mereka tidak bisa bertahan.

“Ryo-san tidak peduli dengan hal-hal kecil, namun ketika saya menemui masalah dalam latihan atau tiap akhir pertandingan, ia akan membicarakannya dengan saya secara personal. Dia akan memberitahu kami satu per satu tentang berbagai hal, seperti posisi kuda-kuda dan teknik yang lebih baik saat ia menonton kami [bertanding].”

Bimbingan Ryo tidak berhenti pada latihan fisik saja. Para Juara Dunia juga membutuhkan mentalitas yang tepat.

Yuya berkomentar tentang peran mentornya ini sebagai sempai – seorang senior, yang merupakan bagian penting dari kebudayaan Jepang – yang berhasil menumbuhkan semangat kuat diantara para individu yang berada di Tribe Tokyo MMA, yang menitikberatkan pada nilai seni bela diri itu sendiri.

“Hal yang paling besar adalah bagaimana ia mengajari saya tentang sikap [yang benar] terhadap latihan dan membangun semangat bertarung, yang merupakan hal terpenting bagi semua orang Jepang,” jelas atlet flyweight itu.

“Tentunya, ia mengajarkan saya berbagai teknik dan kemampuan dalam pertarungan, namun secara psikologis, ia membangun mentalitas saya.”

“Ia mengajarkan saya nilai dari semangat tim. Jika kami menghadapi masalah berat, [kami] harus berusaha bersama, bertanding dan meningkatkan semangat kami melalui kemenangan.”

Ryo juga membantu Yuya dalam kehidupan pribadinya. Ia menyarankan Yuya untuk mempelajari bahasa inggris dan menjadi seseorang yang dihormati di lingkungannya.

“The Piranha” juga telah membantu anak-anak asuhnya melewati masa sulit. Pada tahun 2016, teman satu tim mereka Iyori Akiba meninggal dalam kecelakaan sepeda motor.

Yuya – seperti teman satu timnya yang lain – sangat terpukul dengan insiden tersebut, namun sang pemimpin sanggup membantu mereka melewati tragedi tersebut dan membawa mereka bersama-sama menjadi kuat.

“Setelah Iyori meninggal, Ryo-san mengatakan bahwa kami tidak boleh melupakan bagaimana Iyori sangat mencintai bela diri saat kami berlatih dan bertanding,” katanya.

“Saya, Takashi Sato, Toru Ogawa, Kiyotaka Shimizu – kami adalah individu yang harus terus berjuang bagi dirinya.”

Dengan pesan ini, “Little Piranha” berubah menjadi salah satu murid terbaik Ryo.

Dirinya menampilkan aksi yang menakjubkan pada ajang domestik dengan persentase knockout sebesar 90 persen, yang membawanya bergabung bersama ONE Championship, seperti pertandingannya dengan mantan Juara Dunia ONE Flyweight di Mall Of Asia Arena, Manila, Filipina nanti.

Yuya memang ditakdirkan untuk melakukan hal luar biasa berkat bakat dan talenta fisik alami yang dimilikinya. Namun bintang asal Jepang ini bersikeras bahwa ia tidak akan mampu mencapai prestasinya jika bukan karena “The Piranha.”

“Tanpa beliau, saya hanya akan menjadi seorang atlet biasa. Saya tidak akan mendapatkan seluruh pengalaman yang saya jalani dan saya tidak akan berada di ONE,” ujarnya.