Fitur

5 Pelajaran Penting Dari ONE: EDGE OF GREATNESS

Pada hari Jumat, 22 November, sekelompok atlet bela diri berbakat dunia mampu mencetak kemenangan dalam ajang ONE: EDGE OF GREATNESS di hadapan seluruh penggemar di dunia.

Berikut adalah beberapa pelajaran yang dapat diambil dari mereka yang menampilkan kemampuan terbaiknya di Singapore Indoor Stadium.

#1 Kejayaan Tanpa Cela Nong-O Gaiyanghadao

Dalam ronde pertama dari laga yang mengharuskannya mempertahankan gelar Juara Dunia ONE Bantamweight Muay Thai, Nong-O Gaiyanghadao nampak tenang, namun tidak spektakuler, saat ia dengan santai melawan Saemapetch Fairtex.

Namun, atlet legendaris “seni delapan tungkai” ini meledak pada ronde kedua dan menaklukkan penantang mudanya itu dengan rangkaian pukulan kuat untuk menjatuhkannya dua kali – yang hampir menyelesaikan pertandingan.

Tidak disangka bahwa Seamapetch mampub bertahan sampai ronde ketiga dan menyerang dengan kuat, tetapi pada saat Nong-O terlihat akan kalah, ia mengambil alih kendali kontes tersebut. Periode keempat membawa lebih banyak lagi serangan khas dari perwakilan Evolve ini, dan ia menyelesaikan tugasnya dengan sebuah right cross tepat sasaran yang luar biasa.

Atlet berusia 32 tahun ini menghadapi seorang penantang muda kelas dunia yang haus akan kemenangan dan cukup menyulitkannya setelah beberapa tahun lamanya, namun ia mampu meningkatkan tensi permainannya dan menampilkan performa terbaik dalam “The Home Of Martial Arts.”

#2 Hindari Ground And Pound Troy Worthen

Troy Worthen defeats Chen Lei at ONE EDGE OF GREATNESS in Singapore

Dua atlet telah merasakan dahsyatnya ground and pound dari “Pretty Boy” Troy Worthen di atas panggung dunia, dan keduanya takluk oleh kekuatan pria ini.

Saat pegulat asal Amerika Serikat itu mencetak sebuah takedown dan mulai melepaskan pukulannya di atas kanvas, ia memiliki kendali yang sangat kuat, dan nampaknya dibutuhkan atlet yang memiliki kemampuan scramble terbaiklah yang mampu menghindarinya.

Atlet bantamweight berikutnya yang menghadapi perwakilan Evolve berusia 26 tahun ini mungkin harus tetap bertukar serangan atas, atau mereka akan mendapatkan hasil sama seperti yang dirasakan oleh “Rock Man” Chen Lei pada Jumat malam lalu.

#3 Rahul Raju Bangkit Dan Berjaya

Rahul Raju defeats Furqan Cheema at ONE EDGE OF GREATNESS in Singapore

Rahul “The Kerala Krusher” Raju mengalami awalan yang buruk di atas panggung dunia, namun hal ini juga disebabkan kompetisi keras saat ia pertama kali tiba.

Juara SFC Welterweight ini kembali dari tiga kekalahannya dengan kemenangan submission pada ronde pertama atas Richard “Notorious” Corminal pada bulan Mei, serta di ONE: EDGE OF GREATNESS, ia meraih penyelesaian keduanya berturut-turut saat melawan Furqan “The Lion” Cheema.

Kita mengetahui bahwa atlet berusia 28 tahun ini sangat kuat, namun kini ia telah menunjukkan bahwa ia dapat tampil di bawah sorotan, mengeksekusi sebuah game plan, serta menyerang dengan efektif.

Perwakilan Juggernaut Fight Club ini hanya memiliki 10 laga dalam karir bela diri campurannya, dan nampaknya ia tidak berhenti berkembang. Jika ia melanjutkan evolusi ini sebagai seorang atlet bela diri, ia dapat menjadi lawan berat dalam divisi lightweight kedepannya.

#4 Jangan Biarkan “Little Rock” Bermain Di Bawah

Alex Silva defeats Peng Xue Wen at ONE EDGE OF GREATNESS

Peng Xue Wen mampu menyulitkan Alex “Little Rock” Silva dengan kemampuan strikingnya pada ronde pertama laga mereka, dan ia menyesal tak dapat menyelesaikan laga saat mendapatkan kesempatan tersebut.

Mantan Juara Dunia ONE Strawweight ini kembali dengan penampilan terbaiknya dan merubah strategi untuk menampilkan permainan Brazilian Jiu-Jitsu kelas dunia miliknya.

Walau ia tidak berhasil dengan percobaan takedown pertamanya, ia telah belajar dari sebuah pembukaan laga yang sulit dan bertahan dengan serangan grappling-nya untuk mengakhiri perlawan atlet Tiongkok tersebut.

Di atas kanvas, ini hanya masalah waktu sampai “Little Rock” meraih lengan lawan untuk memaksa sebuah tap-out. Itu memberinya kemenangan luar biasa dan mengingatkan dunia bahwa kemampuan BJJ miliknya hanya berarti ia masih menjadi atlet yang patut diperhitungkan dalam divisi yang dahulu dikuasainya itu.

#5 Teknik Grappling Shuya Kamikubo Dapat Raih Puncak

Shuya Kamikubo attacks Bruno Pucci at ONE EDGE OF GREATNESS

Bahkan seorang spesialis submission elit seperti Bruno “Puccibull” Pucci tak dapat menaklukkan serangan gulat Shuya “Stealth” Kamikubo yang tanpa henti.

Atlet bantamweight asal Jepang ini telah memiliki rekor sempurna 3-0 dalam organisasi bela diri terbesar di dunia ini sebelum ia tiba di “Kota Singa,” dan ia menambahkan kemenangan keempatnya dengan sebuah penampilan kuat melawan sang Juara Dunia BJJ no-gi dua kali tersebut.

Shuya mendapatkan takedown yang ia inginkan dan menghukum Bruno di permainan bawah – terutama dengan serangan siku dan lutut ke arah kepala. Dan, walau teknik submission atlet Brasil tersebut mampu mengancam Shuya, kendali permainan dari atlet berusia 25 tahun asal Kawasaki ini sangat cepat menangkal seluruh ancaman untuk melanjutkan dominasinya.

Tidak ada atlet divisi bantamweight lain yang dapat menandingi kemenangan beruntun “Stealth” di ONE, maka ia mungkin memiliki kesempatan untuk sebuah laga perebutan gelar Juara Dunia, atau sebuah laga untuk menjadi penantang teratas. Siapapun yang ia hadapi berikutnya, mereka harus memiliki pertahanan takedown yang luar biasa atau sebuah penjagaan yang sangat aktif untuk menghentikan pria ini.

Baca Juga: 5 Sorotan Terbaik Dari Gelaran ONE: EDGE OF GREATNESS