Uncategorized

Alain Ngalani Melihat Kembali Laga Yang Menjadikannya Seorang Bintang

5 Agu 2018

Alain “The Panther” Ngalani adalah pria yang sangat langka.

Kickboxer bertubuh raksasa ini sangat yakin saat dirinya bertransisi dari seni bela diri striking ke dunia bela diri campuran yang lebih rumit.

Meski tidak memiliki kemampuan luar biasa dalam arena bela diri campuran, warga Hong Kong ini tampil tanpa takut dan melepaskan teknik luar biasa yang menjadi sorotan dalam debutnya di gelaran ONE: CHAMPIONS & WARRIORS bulan September 2013.

Who would you like to see Alain "The Panther" Ngalani face in ONE Super Series?

Who would you like to see Alain 'The Panther' Ngalani face in ONE Super Series?

Posted by ONE Championship on Monday, 30 April 2018

Setelah menghabiskan beberapa dekade untuk mengasah kemampuannya sebagai seorang kickboxer dan praktisi Muay Thai kelas dunia, dapat dimaklumi jika Alain membutuhkan beberapa waktu untuk menyesuaikan diri dengan arena bela diri campuran.

Namun, sebuah olahraga baru, promotor baru dan penonton yang memadati Istora Senayan, Jakarta, Indonesia, tidak menumpulkan keyakinan dirinya.

“Saya sangat bersemangat dan santai pada saat yang sama,” kata atlet berusia 43 tahun ini.

“Saya tidak mengenal siapapun di dalam ONE waktu itu dan tidak merasakan tekanan apapun. Saya hanya berbahagia dapat datang dan bersenang-senang. Karena saya sangat santai, saya merasa hal itu menempatkan saya pada posisi terbaik.”

Postur Alain memang menjadi salah satu aset terbesarnya, dimana ini memberinya kemampuan menempatkan serangannya atas atlet Mesir Mahmoud Hassan dengan sempurna.

“Ini berlangsung seperti rencana saya,” lanjutnya.

“Saya sangat tenang dan mampu berpikir secara jernih. Saya tidak akan terburu-buru, namun hanya menunggu kesempatan yang ada.”

Laga itu tidak berlangsung lama.

Sejak awal pertandingan ini, Alain — yang empat kali menjadi Juara Dunia Muay Thai & Kickboxing Heavyweight — menyapu kaki Mahmoud dengan tendangan rendah. Atlet Mesir ini mencoba untuk membalas dengan pukulan, namun tiap serangan memberikan perwakilan Impakt MMA ini untuk mencari kesempatan mengakhiri laga.

Saat ia mundur, Mahmoud mengikuti – tepat ke dalam jarak serang sebuah tendangan tumit memutar yang sangat cepat. Serangan ini menjatuhkan lawan Alain. Atlet yang kini berdiam di Hong Kong itu mengejar dengan ground and pound, sebelum memaksa wasit untuk mengakhiri laga hanya dalam waktu 31 detik pada ronde pertama.

“Tendangan tumit memutar itu adalah sebuah teknik yang saya lancarkan berkali-kali dalam karir bela diri saya. Saya mendapatkan beberapa kemenangan dengan itu. Itu adalah salah satu tendangan favorit saya,” jelas Alain.

“Ia adalah seorang petinju, maka saya harus menendangnya. Saat saya mendaratkan tendangan rendah, ia membalas dengan pukulan kuat. Ia menyarangkan pukulan, saya mundur dengan cepat, lalu hanya kembali bergerak saat ia menyerang maju.”

“Saya yakin ia tidak akan mencapai saya dengan serangannya, dan penempatan waktunya sempurna. Saya mengetahui saat ia maju, bahwa ia akan berada di posisi yang sempurna untuk [menerima serangan] itu.”

Mahmoud jelas tidak menyadari bahwa ia sedang memasuki sebuah jebakan, dimana bahkan para penggemar di Indonesia tidak dapat mengantisipasi kenyataan bahwa atlet dengan berat badan 120 kilogram ini akan mampu meledak dengan kecepatan dan presisi seperti itu.

Dalam sebuah penampilan yang luar biasa, Alain menegaskan bahwa dirinya adalah seorang striker yang paling atletis dalam divisi heavyweight.

“Saya masuk, dan mendaratkan tendangan saya dengan cepat, dan itu sangat indah. Itu patut diingat – penampilan pertama saya di ONE, dan kemenangan pertama saya.”

Ini adalah sebuah awal yang baik untuk penampilannya bersama organisasi bela diri terbesar di dunia. “The Panther” memiliki 10 penampilan promosional, dan mencetak beberapa KO terbaik dalam organisasi ini – termasuk tiga dari empat KO tercepat dalam sejarah divisi heavyweight. 

Ia juga menjadi satu-satunya atlet yang telah berlaga dalam pertandingan ONE Super Series dan bela diri campuran secara bersamaan, dan ini semua dimulai dari laga selama 31 detik di Jakarta, Indonesia.