Bela Diri Campuran

Priscilla Hertati Lumban Gaol Nantikan Laga Impresif Melawan Rika Ishige

18 Apr 2020

Rentetan hasil ciamik Priscilla Hertati “Thathie” Lumban Gaol harus sejenak terhenti karena cedera jari yang menghampirinya. Setelah kondisinya membaik, atlet atomweight andalan Indonesia ini berharap bisa segera kembali berlaga saat pandemi COVID-19 telah usai.

Priscilla telah mengungkapkan niatnya untuk menguji kemampuan “Unstoppable” Angela Lee demi memberi prestasi tertinggi bagi tanah air, namun ia pun tak keberatan jika harus menapaki tangga yang lain sebelum bisa menjadi penantang gelar Juara Dunia ONE Women Atomweight.

Menurutnya, salah satu atlet yang bisa memberinya ujian berat serta mendorongnya untuk mengeluarkan kemampuan terbaik adalah Rika “Tiny Doll” Ishige.

“Kemarin, pas saya cedera itu, memang ONE menawari saya untuk melawan Rika. Karena itu penawaran dari pihak ONE Championship sendiri, dan di situ memang sempat ada email ke manajer saya, dan saya memberi tahu kondisi ke manajer kalau belum siap buat fight,” ujarnya.

Kini, setelah beberapa bulan berselang, Priscilla merasa lebih siap untuk kembali berlaga di atas Circle dan melihat laga melawan Ishige sebagai salah satu batu loncatan dalam meniti jalan menuju gelar Juara Dunia ONE Women Atomweight.

“Kita punya harapan, yaitu salah satu atlet Indonesia ada yang mempunyai gelar sabuk juara. Jika Diberi kesempatan untuk menjadi penantang gelar tentu jadi suatu kebanggaan. Bukan buat saya, tapi kita sebagai masyarakat Indonesia,” harap Priscilla.



Dalam laga seni bela diri campuran profesional, “Tiny Doll” telah menorehkan empat kemenangan sejak melakoni debut di panggung dunia ONE Championship pada bulan Maret 2017 lalu.

Yang istimewa, empat kemenangan tersebut diraih lewat penyelesaian, dengan tiga diantaranya terjadi pada ronde pertama.

Dianugerahi kemampuan lengkap dalam berduel stand up ataupun ground, Ishige bisa menjadi sebuah ujian tepat bagi Priscilla, yang tengah membangun momentum setelah meraih kemenangan beruntun dalam dua laga terakhirnya.

Selain aksi eksplosif di atas Circle, Ishige juga merupakan ikon populer di luar arena. Berkat penampilannya sebagai cosplayer serta aksi memikat saat berjalan memasuki arena, Ishige tampil menjadi idola di media sosial.

Popularitas Ishige otomatis akan menjadi magnet saat keduanya berhadapan untuk mengincar supremasi di divisi atomweight, dan hal itu menjadi sebuah motivasi tambahan bagi atlet kelahiran Dolok Sanggul, Sumatra Utara tersebut.

“Cantiknya itu loh. Pasti kalau kita tanding sama orang cantik, suporternya juga jadi bingung karena kecantikannya, kan?” canda Priscilla.

Mulai terjun ke dunia bela diri sebagai anggota Tim Nasional Wushu Indonesia, Priscilla memiliki keunggulan saat terlibat dalam pertarungan atas. Atlet berusia 31 tahun ini telah meraih medali dua kali dalam Kejuaraan Wushu Dunia, termasuk pada tahun 2013 lalu di Kuala Lumpur, Malaysia.

Rekor 15-5-0 dalam wushu menjadi modal kuat saat Priscilla melangkah menuju pentas global ONE Championship pada tahun 2017 lalu.

Meski sempat terseok-seok pada tahun pertamanya, Priscilla menunjukkan tajinya dengan meraih lima kemenangan dalam enam laga selama 2018, yang membuatnya menjadi salah satu atlet paling fenomenal pada tahun tersebut.

Namun, Ishige juga memiliki tingkat kematangan yang nyaris setara. Raihan masing-masing dua kemenangan lewat TKO serta kuncian membuktikan bahwa atlet asal Thailand ini memiliki amunisi lengkap. Pionir perkembangan bela diri campuran di negeri Gajah Putih ini pun dikenal lewat gaya Oneshin striking system.

“Setiap kali saya bertarung, saya enggak pernah menargetkan sesuatu. Misalnya lawan saya jago ground, saya tidak harus ikut alur di ground. Semuanya tetap dilatih oleh pelatih agar seimbang, karena dalam pertandingan, sewaktu-waktu kondisi bisa berubah,” ujar Priscilla.

“Memang kekurangan saya di ground, karena jiwa saya itu sudah lama bertarung stand-up hampir 11 tahunan. Saya agak terlambat masuk dunia ground, tapi saya biasa belajar antisipasi gerakan-gerakan. Belajar merasakan, misalnya, saat akan diserang kuncian tertentu.”

“Kita tahu, kita paham lawan mau mengincar tangan misalnya, karena banyak teknik-teknik kuncian bawah. Paling enggak, saya bisa merasakan kalau tangan saya mau dikunci atau [bagian tubuh] lain akan dikunci.”

Baca juga: Silat, Seni Bela Diri Indonesia Yang Berevolusi Di Asia Tenggara

Muat Lebih Banyak

Ikuti perkembangannya

Bawa ONE Championship kemana pun anda pergi! Daftarkan diri untuk mendapatkan akses ke berita terbaru, berbagai tawaran spesial dan kursi terbaik dalam gelaran langsung kami.
Dengan mengirimkan formulir ini, anda menyetujui pengumpulan, penggunaan dan pembukaan informasi anda berdasarkan Privacy Policy kami. Anda dapat membatalkan (unsubscribe) dari jenis komunikasi ini kapan saja.