‘Holy Crap’ – Mikey Musumeci Bersemangat Jalani Kejuaraan Dunia Bersejarah Kontra Cleber Sousa

Masakazu Imanari Mikey Musumeci ONE156 1920X1280 26 768x512

Pada 1 Oktober ini, Juara Dunia Brazilian Jiu-Jitsu lima kali, Mikey Musumeci, akan mencoba mencetak sejarah baru dengan merebut gelar Juara Dunia ONE Flyweight Submission Grappling perdana.

Di bagian pertama dari ketiga laga Kejuaraan Dunia yang memuncaki ONE Fight Night 2, atlet fenomenal A.S. ini akan tampil melawan sesama pemegang sabuk hitam BJJ Cleber Sousa – pria terakhir yang memberinya kekalahan dalam divisi berat badan alaminya.

Itu jelas menjadi kesempatan luar biasa bagi Musumeci.

Merebut gelar Juara Dunia ONE Submission Grappling pertama di hadapan penonton pada jam tayang utama Amerika Utara dapat menjadikannya superstar global – sesuatu yang sempat dirasakannya saat mencetak submission atas legenda Jepang Masakazu Imanari di debut promosionalnya awal tahun ini.

Kemenangan atas Imanari itu adalah salah satu laga submission grappling yang paling banyak ditonton sepanjang masa, dan “Darth Rigatoni” segera menyadari bahwa kehidupannya berubah drastis setelah bergabung bersama organisasi bela diri terbesar di dunia ini.

Pria berusia 26 tahun ini berkata pada ONEFC.com/id:

“Jadi, saya lima kali memenangkan Kejuaraan Dunia (Worlds) sabuk hitam di IBJJF, [dan] sebuah laga di ONE mendapatkan 10 kali jumlah publisitasnya. Maka, itu seperti, ‘Holy crap.’

“Itu hanya menempatkan banyak hal dalam perspektifnya, seberapa besar ONE itu, anda tahu?”

Kini, Musumeci akan melawan seorang rival lama saat ia kembali beraksi.

Pada tahun 2017, ia melawan Sousa dalam sepasang laga jiu-jitsu dengan gi. Pria Brasil ini memenangkan yang pertama, sementara pria A.S. itu bangkit dan merebut kemenangan di laga kedua.

Tetap saja, “Darth Rigatoni” tak terbiasa mengalami kekalahan, dan kenangan itu masih sangat nyata dalam pikirannya:

“Dalam laga pertama saya dengan [Sousa,] saya kalah melalui keputusan wasit di Pan-Am, dan itu adalah laga yang sangat sulit bagi saya. Itu adalah laga yang penuh adu serangan. Saya tetap mengincar berbagai submission dan lain sebagainya.”

Musumeci merasa kecewa tak hanya dengan hasilnya, namun itu juga karena ia tak sependapat dengan keputusan itu. Pada saat yang sama, ia bukanlah seseorang yang berkubang dalam kekalahannya.

Sebaliknya, warga New Jersey ini menggunakan itu sebagai pembelajaran dan merebut gelar Kejuaraan Dunia IBJJF keduanya pada tahun yang sama.

Ia berkata:

“Kekalahan itu sangat membantu saya, dan saya bersyukur karenanya. Saya bersyukur atas Cleber.”

“Saya kembali berlaga dengannya satu bulan kemudian, dan saya memenangkan laga itu, dan saya mendekatinya dan berkata, ‘Hei, terima kasih untuk laga satu bulan yang lalu. Kamu mengalahkan saya, lalu saya mengalahkanmu sekarang, kita berdua saling membantu untuk berkembang.’”

“Itulah mengapa saya berkompetisi, menang atau kalah. Saya hanya berusaha untuk berkembang, dan ia membantu saya untuk meraih tingkatan berbeda dalam jiu-jitsu saya.”

Musumeci ‘Tak Sabar’ Melihat Apakah Sousa Dapat Bertahan

Setelah dua pertarungan keras melawan rivalnya asal Brasil itu, Mikey Musumeci mengetahui apa yang akan dihadapinya dalam laga ketiga mereka – seorang kompetitor yang berani dan tak tergoyahkan secara mental.

Dengan sweep dan pertahanan submission yang kokoh, Sousa memberi permasalahan besar bagi Musumeci yang selalu menyerang dan mengantisipasi sebuah ujian besar lainnya di ONE Fight Night 2.

Pria itu menjabarkan “Clandestino” seperti ini:

“Ia adalah pria yang kuat, seorang pria yang sangat kuat dan solid. Itu seperti, ia adalah salah satu pria yang sangat sulit untuk dikerjai. Tak peduli apa yang anda lakukan pada dirinya – ia hanya solid dan kuat.”

“Dan ia tak menyerah, ia mendesak maju, ia mendorong ritme, ia mencoba mematahkan mental anda.”

Tetapi, walau ia sangat menghormati Sousa, pria asal A.S. ini terfokus sepenuhnya dalam permainan miliknya yang terpusat pada submission itu.

Seperti biasa, “Darth Rigatoni” berencana untuk menyerang dan mengincar penyelesaian tanpa henti. Ia meyakini bahwa respon rivalnya dari Brasil itu pada serangannya akan menentukan hasil untuk laga Kejuaraan Dunia mereka.

Selalu analitis, Musumeci tak sabar untuk melihat apakah Sousa dapat mengatasi berbagai rangkaian serangannya.

Ia pun menambahkan:

“Cleber seharusnya dapat memberi saya beberapa reaksi yang sangat menarik pada gerakan yang saya lakukan, dan kita akan lihat jika saya memiliki jawaban untuk caranya mempertahankan diri dari gerakan saya itu.”

“Permainan saya sangat lugas. Saya selalu melakukan rangkaian tertentu, dan saya menyerang di setiap detik, dan bagi lawan saya, itu tergantung pada mereka. Dapatkah mereka bertahan dari apa yang saya lakukan? Jika mereka mampu, itu menghentikan posisi saya. Dan jika tidak, saya akan mendapatkan [posisi itu].”

“Maka, kita akan lihat bagaimana jawabannya akan apa yang saya kerjakan, dan saya tak sabar untuk melihat apakah ada sesuatu yang baru yang dapat mengekspos sesuatu yang salah dari apa yang saya lakukan.”

Selengkapnya di Berita

Panpayak Jitmuangnon connects with a head kick on Anuar Cisneros at The Inner Circle 23 on July 24
Panpayak Jitmuangnon connects with a head kick on Anuar Cisneros at The Inner Circle 23 on July 24
Superbon celebrates after defeating Masaaki Noiri at ONE 173.
Olivia Bahsous (L) vs Malia Weaver (R) is confirmed for The Inner Circle 35
Kiamran Nabati fires a shot at Nontachai's midsection during their main event clash at The Inner Circle 31.
Kiamran Nabati faces off with Nontachai Jitmuangnon ahead of The Inner Circle 31
Jonathan Haggerty celebrates his World Title win over Yuki Yoza at ONE SAMURAI 1.
Nadaka throws a solid right hand on Har Ling Om at ONE SAMURAI 3
Yod-IQ Or Pimolsri celebrates his World Title win at The Inner Circle 30.
Nadaka connects with a left kick on Har Ling Om at ONE SAMURAI 3
Rambolek vs Yod IQ at The Inner Circle 30
Seksan vs Muangthai at The Inner Circle 30 16