Fitur

Sosok Pelindung Dan Pembimbing Bagi Zhang Chenglong

“Muay Thai Boy” Zhang Chenglong telah mempersiapkan diri jelang laga terpenting dalam hidupnya.

Hari Jumat, 6 Desember, ia akan menantang spesialis striking asal Rusia Alaverdi “Babyface Killer” Ramazanov demi gelar Juara Dunia ONE Bantamweight Kickboxing perdana dalam ajang ONE: MARK OF GREATNESS di Kuala Lumpur, Malaysia.

Atlet asal Shenzen ini mampu mempertahankan sebuah rekor tak terkalahkan sejak bergabung bersama “The Home Of Martial Arts” awal tahun ini, dengan tiga kemenangan memukau, demi meraih kesempatan menjadi Juara Dunia ONE Super Series pertama dari Tiongkok.

Namun, Chenglong tak akan dapat berada di puncak disiplin ini tanpa sosok kakaknya, Zhang Chunyu, yang mengajar dan berbagi tempat tinggal bersama dirinya di Shengli Fight Club.

“Kakak saya melakukan segalanya untuk saya,” kata sang atlet berusia 21 tahun ini. “Ia bukan hanya kakak, tapi ia adalah panutan, teman satu tim dan juga pelatih yang baik. Ia mengurus hidup saya.”

Sanggupkah Zhang Chenglong meraih mimpinya menjadi Juara Dunia?

Sanggupkah Zhang Chenglong meraih mimpinya menjadi Juara Dunia?????: Kuala Lumpur | 6 Desember | ONE: MARK OF GREATNESS????: Dapatkan tiket anda di ???? http://bit.ly/onemarkgreatness19????: Pesan hotel anda ???? bit.ly/ONEhotelplanner????: Lihat daftar tayangan lokal untuk siaran global ????: Saksikan di ONE Super App ???? bit.ly/ONESuperApp????‍????: SIARAN LANGSUNG babak prelims di Facebook ONE Championship ????: Merchandise resmi ???? bit.ly/ONEShopID

Posted by ONE Championship Indonesia on Sunday, December 1, 2019

Ada sebuah momen dalam kehidupan Chenglong, dimana ia berusaha menutupi penderitaan yang ia alami dari keluarganya, serta yang lebih penting lagi, dari kakaknya.

Menderita karena perundungan bukanlah hal asing bagi “Muay Thai Boy” saat ia masih bersekolah, karena postur tubuhnya yang kecil. Ketidakmampuan dalam mengatasi kekerasan fisik yang ia alami memaksanya untuk berhenti sekolah.

“Saya mengalami perundungan di kampung saya sejak kecil,” akunya.

“Sewaktu baru mulai bersekolah dan masih kurus, saya tidak kuat melakukan apapun. Saat berkelahi, saya tidak dapat menang. Saya dirundung dan dipukuli. Saya tidak sanggup lagi, hingga akhirnya saya berhenti sekolah.”

“Saya tidak pernah menceritakan apapun pada keluarga saya. Saya tidak pernah mengatakan saya dipukuli di luar, atau betapa letihnya saya, serta apa yang terjadi hari itu. Saya hanya menyampaikan hal-hal yang baik.”



Untungnya, Chunyu – yang lima tahun lebih tua dan lebih tinggi – menyadari apa yang terjadi dan mulai membimbing Chenglong keluar dari nestapanya.

Chunyu pernah berlatih seni bela diri sanda dan juga aktif bertanding dalam disiplin kickboxing dan Muay Thai. Ia terlatih melindungi diri sendiri dan keluarganya. Karena badannya yang besar, tidak banyak yang berani menantangnya.

“Kakak saya selalu mengira saya kecil dan ceroboh, namun ia selalu mengajak saya kemanapun dirinya pergi,” kenang Chenglong.

“Saya selalu mengikutinya. Dia mampu berkelahi, jadi saat saya mengikutinya, orang lain tidak berani merundung saya. Jika saya pergi sendiri atau bersama beberapa teman saya, anak-anak yang lebih tua akan merundung saya. Tetapi jika bersama kakak, ialah yang melindungi saya.”

Pada akhirnya, Chenglong ingin mengikuti jejak kakaknya dalam seni bela diri. Namun, orang tuanya dan kakaknya ragu membiarkannya mengejar mimpinya itu.

Chunyu mengerti betul betapa sulitnya mendalami disiplin kickboxer dan Muay Thai, dan oleh karena itu, ia ragu memperkenalkan dunia ini ke adiknya.

“Pada awalnya, seluruh anggota keluarga dan saya sendiri tidak setuju [ Chenlong belajar seni bela diri],” kata Chunyu.

“Saat itu, saya telah bertanding selama beberapa tahun, dan walau saya memiliki rekor yang baik, saya menyadari betapa sulitnya masa-masa itu. Saya tidak ingin ia merasakan hal yang sama.”

“Namun, ia memiliki pendirian yang teguh. Ia mencoba segalanya demi meyakinkan kami, sampai menangis dan memohon-mohon. Pada akhirnya, kami harus memperbolehkannya, dan ia mampu mengejutkan kami semua. Ia mempunyai semangat yang tidak redup.”

Dedikasi Chenglong dalam mempertajam kemampuannya – dengan bimbingan kakaknya – memberinya rekor 49-12-1 dalam dunia kickboxing dan Muay Thai. Ia kini juga memiliki kesempatan menciptakan sejarah bersama “The Home Of Martial Arts” Jumat ini.

Membandingkan dua saudara yang menggeluti olahraga yang sama tentu adalah sesuatu hal yang lazim, dimana kedua kakak beradik ini mengalami hal serupa.

Walau Chunyu adalah seorang atlet terkemuka dan pernah menghadapi lawan yang tangguh seperti Buakaw Banchamek, banyak yang mengatakan bahwa “Muay Thai Boy” telah melampauinya – dimana hal ini pun disetujui oleh sang kakak.

“Banyak yang mengatakan adik saya telah menjadi lebih baik dari saya, dan saya jawab, ‘ Tidak perlu dijelaskan lagi, ombak yang datang lebih akhir pasti lebih kuat dan lebih tinggi,” urainya.

“Ketika ia menjadi kuat dan tidak ada orang di dunia ini yang mampu mengalahkannya, saya akan menjadi orang yang sangat berbahagia.”

Chinese martial artist Zhang Chenglong hits a high kick in June 2019

Chenglong akan berusaha membanggakan kakak dan negaranya saat menghadapi Alaverdi di ibukota Malaysia – demi gelar Juara Dunia ONE Bantamweight Kickboxing perdana itu.

Jika “Muay Thai Boy” mendapatkan sabuk emas, ia mengetahui itu semua tak terlepas dari andil dan bimbingan kakaknya.

“Jika saya merebut sabuk itu, sebagian akan menjadi miliknya,” tutur sang penantang gelar itu. “Dan saya mungkin akan mentraktirnya makan malam!”

Baca Juga: Bagaimana Alaverdi Ramazanov Mampu Mencetak KO Fantastis

Kuala Lumpur | 6 December | ONE: MARK OF GREATNESS | TV: Periksa daftar tayangan lokal untuk siaran global | Tiket: http://bit.ly/onemarkgreatness19 | Dapatkan merchandise resmi: bit.ly/ONECShop