Fitur

Sosok Ayah Dan Pelatih: Cara Ken Lee Mengubah Angela Dan Christian Menjadi Superstar

Di balik tiap petarung hebat terdapat pelatih yang luar biasa. Bagi Juara Dunia ONE Women’s Atomweight Angela Lee yang masih berusia 20 tahun, dan adik lelakinya yang dua tahun lebih muda, Christian Lee, sosok itu juga kebetulan adalah ayah mereka sendiri, Ken Lee.

Lee, warga Singapura yang berbasis di Hawaii selama 15 tahun terakhir ini, telah berlatih bela diri sejak masa kecilnya. Ia memiliki sabuk hitam dalam Brazilian jiu-jitsu, pankration dan taekwondo. Ia juga adalah pemegang sabuk hitam tingkat enam dan master dari hapdosool.

Sebagai tambahan, ia juga memiliki beberapa sasana di Vancouver, menjabat sebagai pelatih kepala dari Canada Sports Jiu-Jitsu Association, serta menjadi Presiden dari Canadian Pangration Federation.

Dengan berbagai pencapaian dan penghargaan itu, tidaklah mengejutkan bahwa bersama istrinya, Jewelz Lee — peraih medali perak asal Kanada yang juga memegang sabuk hitam dalam taekwondo dan hapdosool — ia memperkenalkan anak-anaknya pada seni bela diri sejak usia muda dan menjadikannya bisnis keluarga.

“Keluarga adalah segalanya bagi kami. Istri saya dan saya, untungnya, memiliki pandangan yang sama. Kami menempatkan keluarga kami di atas segalanya, dimana itu telah membantu dalam dunia bela diri karena kami berdua adalah seniman bela diri sejak lama,” kata Lee saat ditemui di ruang tunggu sasana Evolve MMA di Far East Square, Singapura.

Baik Angela dan Christian membagi waktu latihan mereka di United MMA milik Lee dan di Evolve.

“Itu hanya menjadi sebuah jalan hidup. Kami melakukannya bersama, ini tentang bagaimana kami menghabiskan waktu bersama-sama, dan sangatlah penting bagi kami untuk mendidik anak-anak kami dengan seni bela diri. Maka, dari usia yang sangat muda, mungkin tiga atau empat tahun, tiap anak-anak kami berlatih bela diri.”

Awalnya, pasangan ini memperkenalkan Angela dan Christian pada seni bela diri untuk mempertahankan diri. Sebagai bagian dari pelatihan mereka, ia mengajarkan berbagai teknik yang efektif dalam berbagai disiplin. Dalam teori dan praktek, ia memadukan berbagai gaya sebelum MMA benar-benar dianggap sebagai olahraga.

“Gaya individu seperti taekwondo atau boxing sangatlah terbatas dalam pertahanan diri secara keseluruhan, maka apa yang kami lakukan adalah memastikan bahwa mereka mempelajari berbagai jenis bela diri,” jelas Lee. “Pankration itu alamiah karena jika anda mempelajari seni bela diri untuk pertahanan diri, anda dapat menggunakannya dengan cara yang fungsional dengan seluruh area yang dipadukan.”

Segera, latihan pertahanan diri itu berkembang ke tingkatan kompetitif. Baik Angela dan Christian sangat bergairah dalam seni bela diri, dan mereka ingin menguji kemampuan mereka pada tingkat nasional dan internasional. Itu adalah sebuah proses yang bertahap, seingat Lee.

Pada tahun 2012, anak-anak dari Lee mendapatkan kesempatan itu dengan cara yang luar biasa. Setelah masuk kualifikasi di Las Vegas, Nevada, untuk Kejuaraan Dunia Athlima Pangration Federation, Angela dan Christian terbang ke Yunani untuk berlaga dalam babak final.

Di bawah bimbingan ayah mereka, Angela meraih emas dalam dua divisi untuk pankration dan MMA, sementara Christian meraih emas di pankration. Sekembalinya mereka di Hawaii, kedua Lee bersaudara itu memutuskan untuk membawa gairah bela diri mereka ke tingkatan berikutnya dan berlaga secara profesional. Ken setuju, dan pada bulan April 2013, ia membuka kembali sasana United MMA di Waipahu.

Namun, ia memastikan satu hal dengan jelas: itu adalah keputusan mereka untuk mengejar sebuah karier dalam bela diri campuran, bukan keputusannya.

“Ini adalah sesuatu yang mereka cintai dan ingin lakukan. Itu bukanlah sesuatu yang saya paksakan atas mereka. Saya mengatakan pada semua orang bahwa jika mereka mengatakan ini bukanlah sesuatu yang ingin mereka lakukan, maka itulah akhirnya. Anda harus mencintai apa yang anda lakukan,” kata Lee.

“Segala sesuatu yang kurang dari itu akan menciptakan masalah dalam industri ini. Anda harus terjun sepenuhnya, dan mereka sangat berkomitmen dan bersemangat tentang itu, maka saya dan istri saya mendukung mereka dengan kemampuan terbaik kami.”

Di bawah bimbingan Lee, anak-anaknya berlanjut meraih kesuksesan besar. Angela telah memenangkan ketujuh laga MMA yang dijalaninya, serta merebut dan mempertahankan gelar Kejuaraan Dunia ONE Women’s Atomweight yang perdana.

Christian memenangkan lima laga awalnya hanya dalam satu tahun, mencetak penyelesaian atas seluruh lawannya pada ronde pertama, namun mengalami kekalahan pertamanya pada bulan Agustus lalu.

Jelas ada beberapa momen yang sulit bagi Lee untuk berdiri di pinggir arena. Contohnya, sangat sulit melihat Martin Nguyen membuat anaknya tak sadarkan diri dengan kuncian modifikasi dari guillotine choke di ajang ONE: HEROES OF THE WORLD.

Hal serupa dialaminya saat Mei Yamaguchi menjatuhkan putrinya dengan pukulan kanan yang kuat, hanya beberapa detik memasuki ronde ketiga laga Kejuaraan Dunia mereka di ONE: ASCENT TO POWER.

“Sebagai orang tua, anda akan merasakannya terlebih dahulu. Anda pastinya ingin ada di sana untuk melindungi anak-anak anda, namun juga saat saya melatih mereka, saya berada di sana sebagai pelatih mereka. Itu adalah bagian dari permainan, Kami mengerti itu,” tegas Lee.

“Kami mempersiapkan mereka sebaik mungkin. Mereka telah menerima beberapa serangan keras dan saya telah melihat itu sebelumnya di dalam latihan. Itu tidak pernah bagus. Anda tidak pernah menyukainya, namun itu adalah bagian dari olahraga yang mereka tekuni. Jika anda bermain American Football, anda juga dapat melihat serangan yang dapat melukai hati anda sebagai orang tua.”

“Karena saya adalah pelatih mereka, saya terkadang harus menahan diri, sebisa mungkin. Anda tak dapat benar-benar memisahkan diri anda. Anda dapat mencoba sebaik mungkin, tetapi kenyataannya adalah mereka itu anak-anak saya.”

Lee, sebagai ayah yang baik, berusaha sebaik mungkin di setiap waktu. Bahkan saat wawancara ini, sementara Angela dan Christian berlatih di dalam arena di Evolve MMA, Ia memperhatikan istri dan dua anak termuda mereka, yang bersantai di kursi lobi dengan iPad mereka, serta tersenyum.

“Itu berbalik pada nilai-nilai keluarga kami,” katanya dengan bangga, sambil melihat anak-anaknya. “Sejak mereka lahir, mereka menyadari bahwa kami adalah satu unit dan kami berfungsi sebagai satu unit, dan itu normal bagi mereka. Jika itu tidak berjalan, anda akan melihatnya. Mereka akan bertingkah seenaknya.”

“Mereka terbiasa dengan duduk di sini selama dua atau tiga jam. Dan saat kami selesai di sini, kami akan berkemas dan anak-anak akan berlatih jiu-jitsu malam ini, maka saya akan membawa mereka ke Evolve Orchard Central, dimana kakak-kakak mereka dapat melihat adik-adik mereka mengikuti kelas. Itulah cara mereka melakukannya.”

Pada akhirnya, Lee menjalani banyak hal, namun ia mampu mengaturnya dengan cukup mudah. Terlepas dari pekerjaan hariannya sebagai Pialang Utama di Asian Pacific Investments, ia juga menjalankan sasana yang beroperasi dengan penuh, dimana semua itu dilakukan seraya mengelola karier anak-anaknya, melatih mereka demi laga selanjutnya, serta menjadi kepala keluarga.

Tetap saja, bahkan dengan berbagai tanggung jawab itu, ia tidak kehilangan fokus pada apa yang terpenting dalam hidupnya.

“Semua peran itu terkadang menyebabkan kontradiksi. Terkadang, sebagai pelatih, anda mendorong mereka lebih keras dari apa yang dapat dilihat seorang ayah. Namun, pada akhirnya, saya utamanya adalah seorang ayah, maka itu akan berada jauh di atas segalanya.”

Ikuti perkembangannya

Bawa ONE Championship kemana pun anda pergi! Daftarkan diri untuk mendapatkan akses ke berita terbaru, berbagai tawaran spesial dan kursi terbaik dalam gelaran langsung kami.
Dengan mengirimkan formulir ini, anda menyetujui pengumpulan, penggunaan dan pembukaan informasi anda berdasarkan Privacy Policy kami. Anda dapat membatalkan (unsubscribe) dari jenis komunikasi ini kapan saja.