Bela Diri Campuran

Resep Jitu Tingkatkan Ground Game Dari Pelatih Tigershark Academy

Para pecinta seni bela diri campuran pastinya sudah tidak asing lagi dengan istilah ‘grappling’, teknik yang mengedepankan kuncian yang krusial bagi para atlet bintang di ONE Circle.

Bahkan, beberapa bintang dunia berhasil meraih pencapaian terbaik mereka bersama “The Home of Martial Arts,” saat mereka datang dari disiplin yang akrab dengan istilah ‘ground game’, atau permainan bawah ini.

Seperti grappler legendaris Shinya “Tobikan Judan” Aoki dan Garry “The Lion” Tonon, atau Juara Dunia ONE Women’s Atomweight “Unstoppable” Angela Lee.

Hal ini juga diamini David Krav – pelatih grappling di sasana Tigershark Fighting Academy.

Bersama kepala pelatih Zuli Silawanto, serta Awaludin, pelatih striking dan strength and conditioning. David berusaha meningkatkan permainan bawah para atlet Indonesia yang berprestasi, seperti Adrian “Papua Badboy” Mattheis, Putri  “Ami” Padmi, Adi “Zenwalk” Paryanto dan Vincent “Jack Hammer” Majid.

Performa Adrian saat menghadapi Stefer “The Lion” Rahardian dapat menjadi contoh improvisasi yang dilakukan – berkat menu khusus dari Tigershark Fighting Academy ini.

Dalam laga di ajang ONE:DAWN OF VALOR itu, “Papua Badboy” sukses bertahan dan beberapa kali keluar dari kuncian yang disarangkan oleh grappler berjulukan “The Lion” tersebut.

Dalam wawancara eksklusif ini, David mengungkap ramuan khusus untuk meningkatkan permainan bawah anak didiknya.

#1 Isolated Sparring Drill

Dalam tiap sesi latihannya, David selalu menggelar latihan tanding terisolasi, atau isolated sparring, yang terfokus pada kedua atlet yang saling mengincar kuncian dan berusaha melepaskan diri dalam sebuah posisi grappling tertentu.

“Sebagai contoh, jika memulai dari back position, sang atlet yang berada di posisi ini harus mencari submission melalui back control apa pun. Dia dapat mengincar choke [cekikan], [kuncian] armbar atau kneebar,” jelasnya. “Sebaliknya, untuk atlet yang sedang ada dalam posisi bertahan, ia harus mencoba keluar dari posisi tersebut.”

David juga menambahkan tiga aspek terpenting yang harus dimiliki untuk menjadi grappler yang baik, yang dideskripsikan dengan istilah “jagoan,” “musuh” dan “penonton.” Ketiganya diyakini sebagai rumus yang tepat, dan salah satu cara terbaik mendapatkan semua itu adalah melalui isolated sparring drill di tiap sesi latihan.

“Maksudnya, saat anda berperan sebagai ‘jagoan’, anda harus mengetahui cara mengeksekusi teknik tersebut,” tambahnya. “Namun ketika anda menjadi ‘musuh’, anda harus mengetahui rasanya di kunci, atau terkena submission.”

“Yang terakhir, saat menjadi ‘penonton’, anda harus mampu memprediksi bahwa ada teknik yang tidak dapat dilakukan, atau sebaliknya.”

#2 Pentingnya Repetisi

Meminjam kalimat dari sang legenda bela diri, Bruce Lee, “I fear not the man who practiced 10,000 kicks one, but I fear the man who has practiced one kick 10,000 times,” David ternyata juga mempercayai filosofi yang serupa.

Ia menerapkan pola latihan yang menuntut para atletnya melakukan satu gerakan dengan repetisi tinggi. Tidak main-main, ia bahkan dapat mematangkan satu gerakan dalam kurun waktu dua bulan. Selain itu, pemegang sabuk ungu Brazilian Jiu-Jitsu dan sabuk coklat Luta Livre ini juga mengatakan bahwa dirinya cenderung menajamkan keunggulan grappling dari masing-masing atletnya.

“Biasanya setiap dua bulan dengan teknik yang sama. Kita terus menerus melatih satu teknik dengan banyak repetisi. Saya sangat menitik beratkan [latihan mereka] di repetisi,” katanya.

“Sebagai contoh, ada atlet yang sangat baik dalam counter, atau serangan balik [dalam grappling], dan ada juga yang bagus ketika mengunci dari posisi back control, itulah yang saya fokuskan.”

#3 Analisa Dan Eksekusi

Sama seperti saat belajar di bangku sekolah atau universitas, peningkatan kemampuan bela diri membutuhkan analisa, pelajaran, serta pengamatan akan ilmu dari orang lain, yang juga rutin dilakukan oleh Tigershark Fighting Academy.

Kebiasaan menganalisa pertandingan para atlet bela diri lain ini ternyata sudah menjadi sebuah rutinitas yang selalu dilakukan.

“Kita sering duduk bersama, menyaksikan video pertandingan. Kita juga selalu menganalisa cara bertanding calon lawan menjelang laga yang ditentukan,” tutur David. “Dan juga, kita membuat analisa jalannya pertandingan, terutama terkait gerakan [untuk mengincar] submission dan [aspek] ground game.”

“Bersama Zuli Silawanto dan Awaludin, kita bertiga mengolah dan memberitahukan strategi bertanding pada setiap atlet, supaya mereka tidak keluar dari game plan saat bertanding.”

Tentunya, seluruh persiapan dan pendalaman pengetahuan ini kembali bergantung pada individu yang mengeksekusi teknik yang mereka asah, seperti terlihat pada berbagai laga yang berlangsung di atas panggung dunia. Akhirnya, baik kemenangan maupun kekalahan terbukti tidak mengurungkan semangat tiap atlet ini untuk berkembang dengan baik, sesuai dengan instruksi para pelatihnya.

Baca juga: Harapan Besar Bagi Adrian Mattheis Dari Sang Pelatih Di Tigershark