Fitur

Rencana Besar Alex "Little Rock" Silva Untuk Jadi Yang Terbaik

28 Oktober 2017

Alex “Little Rock” Silva (5-1) sedang berada di dalam jalur yang tepat untuk menjadi bintang divisi strawweight ONE Championship.

Alex, pemegang sabuk hitam Brazilian Jiu-Jitsu tingkat dua yang juga seorang Juara Dunia BJJ Copa De Mundo, hanya berada beberapa langkah dari kesempatan menjadi penantang gelar Juara Dunia ONE Strawweight.

Namun, tidak semua hal berjalan mudah bagi Alex, yang juga menjadi pelatih di Evolve MMA, Singapura.

Dibesarkan sebagai anak bungsu di Ubatuba, Brasil, ia memiliki ibu yang penyayang dan ayah yang selalu menjadi perekat keluarga.

“Tumbuh sebagai seorang anak kecil di Brasil, anda harus berpikir secara mandiri dengan cepat,” ingat pria yang berusia 35-tahun mengenai masa kecilnya.

“Saya memiliki orang tua yang hebat, yang selalu menjaga saya. Mereka sempat memiliki sebuah toserba kecil dan bekerja sangat keras. Saya membantu mereka menjaga toko semasa saya kecil.”

Kehidupannya di rumah begitu tenang dan nyaman, tetapi berbeda jika dibandingkan dengan kehidupan di sekolah. Meski sebenarnya wajar bagi anak-anak, terutama lelaki, untuk bermain sedikit kasar di taman bermain sekolah, ia harus bertahan dari gangguan anak seusianya setiap hari.

Karena ukuran badannya yang lebih kecil, Alex kecil seringkali menjadi objek perundungan dari teman-teman sekolahnya yang berbadan jauh lebih besar. Tetapi, ia tidak pernah menghindar.

“Mereka selalu mencoba untuk merundung saya, tetapi saya selalu melawan balik. Orang tua saya harus datang ke sekolah karena saya terlibat perkelahian,” jelasnya.

“Itulah mengapa saya memulai belajar seni bela diri; untuk melindungi diri saya.”

Alex pertama kali mengenal seni bela diri melalui film dan mencoba terjun ke berbagai macam disiplin bela diri. Tetapi, setelah melihat seorang legenda hidup BJJ mengalahkan lawan yang jauh lebih besar, ia memutuskan untuk terfokus pada disiplin asal Brasil ini.

“Saya merasa tertarik dengan bela diri sejak masih kecil. Saya menyukai film bela diri, terutama Bruce Lee. Saya pernah berlatih kung fu dan capoeira, tetapi saat saya menyaksikan Royce Gracie, saya ingin belajar BJJ.”

“Little Rock” adalah seorang grappler alami. Dia meraih sabuk hitamnya pada tahun 2007 dan setelahnya mendapatkan sabuk hitam tingkat dua – lalu berlanjut memenangkan beberapa gelar seperti Kejuaraan Nasional Brasil dan Kejuaraan Dunia BJJ Copa Do Mundo.

Bagi Alex, “The Gentle Art” ini telah memberinya banyak keuntungan dan dirinya dapat melihat hal yang sama dari mereka yang juga berlatih.

“Saya mencintai BJJ, karena itu telah mengubah hidup banyak orang. [BJJ] mengubah hidup saya dan saya telah melihat [BJJ] mengubah hidup murid-murid saya,” jelasnya.

“Beberapa orang mungkin berpikir [BJJ] terlihat aneh awalnya, tetapi setelah mereka mencobanya, mereka akan ketagihan. BJJ sudah menjadi gaya hidup.”

“BJJ memberi saya banyak hal baik dalam hidup. BJJ memberikan kepercayaan diri, kesehatan dan kebanyakan teman yang saya punya tak lain karena BJJ. Sungguh luar biasa dapat membantu banyak orang menumbuhkan rasa percaya diri dan membuka jalan bagi mereka.”

Pada tahun 2011, Alex mulai  bertransisi dari atas kanvas ke dalam ring untuk memulai karir profesionalnya.

Walaupun kedua bidang kompetisi tersebut berbeda haluan, hal ini tidak menjadi masalah besar seperti yang kebanyakan orang pikir. Alex tidak hanya tumbuh besar mempelajari banyak disiplin bela diri selama masa kecilnya, tetapi ia juga belajar dari saat-saat perundungan yang dialaminya di taman bermain.

“Saya merasa bahwa saya telah menjalani bela diri sepanjang hidup saya. Saya harus berkelahi untuk melindungi diri saya di taman sekolah dan di jalanan,” katanya.

“Saya telah menjalani lebih dari 250 pertandingan BJJ, maka setelah sekian lama, saya kini menantikan tantangan berikutnya.”

Tantangan ini membawanya ke Asia, di mana Alex menjadi salah satu atlet divisi strawweight paling berbakat di dunia.

Semenjak melakoni debut profesionalnya, ia mengumpulkan rekor 5-1 yang mengesankan – dengan kemenangan terbaru yang dicetaknya pada bulan Februari dalam ajang ONE: THRONE OF TIGERS. Saat itu, ia mengalahkan penantang gelar Juara Dunia sebelumnya, Roy Doliguez, melalui kuncian armbar pada ronde ketiga.

“Hal ini terjadi sesuai prediksi saya,” kata atlet asal Brasil ini.

“Saya tahu dia pria yang kuat dan pernah berlaga memperebutkan sabuk juara sebelumnya. Saya tahu ia memiliki tangan yang kuat dan grappling-nya sangat bagus, karena ia belum pernah kalah melalui kuncian sampai akhirnya bertemu dengan saya.”

Langkah Alex selanjutnya akan menjadi lanjakan karir bagi dirinya untuk menjadi penantang gelar Juara Dunia ONE Strawweight.

Pada hari Jumat, 10 November, selepas mengoleksi empat kemenangan kuncian, ia akan bertemu dengan Hayato Suzuki di ONE: LEGENDS OF THE WORLD, yang akan disiarkan langsung dari Mall of Asia Arena di Manila, Filipina.

Hayato, Juara Grachan Flyweight yang tidak terkalahkan dengan rekor 17-0-2, adalah seorang pegulat elit yang mengalahkan penantang gelar Juara Dunia sebelumnya, Joshua Pacio, dalam debut promosinya bulan Agustus lalu.

Ia mampu membanting atlet bintang dari Team Lakay  itu dan menguncinya dengan rear-naked-choke pada ronde pertama.

Kedua atlet ini adalah grappler kelas dunia yang memburu kesempatan menantang gelar tertinggi divisi strawweight, yang dipegang oleh Yoshitaka “Nobita” Naito.

Alex menilai bahwa tiap pertandingan yang menghampirinya adalah sebuah kesempatan untuk mengumpulkan kemenangan.

“Bagi saya, tiap pertandingan itu penting. Tiap pertandingan adalah kesempatan untuk menantang gelar. Setiap kali saya melangkah ke dalam ring, ini adalah hal yang besar bagi saya. Setiap pertandingan saya penting dan saya selalu memberikan 100 persen,” jelas atlet kelahiran Brasil ini.

“Saya tahu pada akhirnya saya akan menjadi juara, tetapi sesungguhnya tujuan saya adalah untuk menjadi nomor satu di dunia di dalam divisi saya. Itulah yang saya fokuskan, tetapi jelas saja dengan itu, sabuk tak akan lari kemana.”