Fitur

Puja Tomar Mengejar Kejayaan Demi Almarhum Ayahnya

11 Jan 2019

Bintang seni bela diri dari India Puja “The Cyclone” Tomar (3-3) akan kembali tampil bersama ONE Championship pada hari Sabtu, 19 Januari, dalam pertandingan terbesar dalam karirnya.

Wanita yang empat kali menjadi juara wushu nasional ini telah menghadapi beberapa pesaing terbaik dalam “The Home Of Martial Arts,” dan tren tersebut tetap berlanjut saat dirinya menghadapi atlet andalan tuan rumah Priscilla Hertati Lumban Gaol dalam laga kartu utama ONE: ETERNAL GLORY di Jakarta, Indonesia.

Atlet berusia 25 tahun ini berkesempatan menunjukkan kemampuannya di panggung dunia, dimana ia harus berupaya keras untuk sampai pada posisi saat ini dari negara yang terbilang jarang memiliki atlet wanita dalam olahraga tarung.

Ini adalah cerita perjuangan Puja menggapai tempat di puncak karirnya.

Kota Kecil, Mimpi Besar

View this post on Instagram

Mom u r world best mom .I love u

A post shared by Puja Tomar (@tomar_puja) on

Puja lahir di kota kecil bernama Budhana di bagian utara India. Orangtuanya adalah petani di area perkebunan. Kisah sedih menghampiri sang atlet wushu dan kedua kakak perempuannya saat ayah mereka wafat ketika usianya baru beranjak di angka ke-7.

Sambil bersekolah, Puja muda juga harus membantu bertani di perkebunan keluarganya, dimana ia mendedikasikan sebagian besar waktunya mengelola ladang tersebut.

“Saya seorang anak yang aktif dan terbiasa membantu ibu saya bertani,” kata Puja.

“Saya tidak terlalu pintar, tapi saya memiliki banyak teman. Saya juga suka berolahraga jika memiliki waktu.”

Puja selalu memiliki mimpi yang jauh lebih besar dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya. Seperti kebanyakan seniman bela diri di bawah ONE, ia memiliki hasrat yang mendorongnya meraih mimpi besar.

“Saya selalu ingin mencapai sesuatu yang besar dalam hidup saya. Sejak kecil, saya hanya ingin menjadi seorang atlet yang terkenal,” tutur “The Cyclone”.

“Tidak banyak kesempatan untuk meraih masa depan yang gemilang [di Budhana], apalagi untuk perempuan, dimana memasuki dunia olahraga adalah sebuah tugas yang sulit.”

Panggilan Seni Bela Diri

Bela diri memberi Puja kesempatan untuk keluar dari kota kecilnya, dan ia pun mulai berlatih saat pertama kalinya melihat olahraga tarung tepat di depan rumahnya – saat sekelompok warga sedang berlatih.

“Ada beberapa orang yang terbiasa berlatih diluar rumah kami. Saya selalu berdiri dan memperhatikan mereka selama berjam-jam,” kenang Puja.

Ia tidak berlatih secara formal pada awalnya. Perwakilan The Crossfit Fitness Academy ini menonton para murid berlatih wushu dan tinju, dan ia ikut meniru apa yang disaksikannya.

Saat kesempatan belajar datang, Puja memulai berlatih wushu dengan semangat dan menunjukkan bakat dalam seni striking. Ia mulai bertanding dan menang, serta menyadari bahwa olahraga ini dapat memberi keluarganya pendapatan tambahan.

Namun Puja tidak dapat menggali potensinya lebih dalam dan mendorong karirnya lebih jauh jika ia tetap berada di kota kelahirannya, yang membuatnya meninggalkan keluarga ke Bhopal dan tinggal di asrama bersama atlet lainnya.

Pengorbanan ini memberinya empat gelar juara wushu sebelum seni bela diri campuran menarik perhatiannya – baik secara kompetitif maupun finansial.

“Saya suka [seni bela diri campuran] karena permainannya sangat lengkap,” tuturnya, tetapi keluarganya tidak berpendapat sama.

“Mereka berpikir olah raga ini berbahaya dan dapat mencederai saya, dan [mereka kira] tidak ada masa depan dalam olah raga ini.”

Tetapi, kesuksesannya mulai mengubah pikiran mereka. “The Cyclone” mendapatkan awal yang memukau di karirnya saat menang KO atas dua lawannya dalam total waktu hanya selama 45 detik.

Dia juga bertemu bintang ONE, Rajinder Singh Meena, yang menceritakannya tentang karirnya dalam organisasi bela diri terbesar di dunia itu, dan akhirnya kemenangan KO ketiganya membawa dirinya masuk ke dalam “The Home Of Martial Arts” – serta penerimaan dari keluarganya.

“Setelah melihat ONE Championship, mentalitas keluarga saya mulai berubah,” kata Puja.

Mencapai Mimpi Sang Ayah

Ketika ayah dari Puja wafat, ia tidak hanya kehilangan orang tua, tetapi kehilangan seseorang yang memahami dan mendukung cita-citanya.

“Ayah saya adalah motivasi terbesar untuk saya, karena dia dulu adalah seorang atlet,” jelasnya.

” Saat dirinya wafat adalah waktu yang paling sulit dalam hidup saya. Saya merasa kesepian dan bertanya bagaimana caranya menggapai tujuan saya, dan mimpi ayah saya.”

Saat ia bertumbuh besar dan kegemarannya dalam olah raga bela diri bertumbuh, keluarga besarnya meragukan usahanya tersebut.

“Mereka pernah bilang, ‘Dia perempuan, ia akan cidera. Siapa yang akan menikahinya?’ Omongan seperti itu.”

Namun, keluarga intinya selalu mendukung ambisinya, dan “The Cyclone” tidak berhenti mengejar mimpinya.

Dengan membawa pemikiran tentang ayahnya, Puja memakai semua hal negatif menjadi penyemangat untuk meraih kesuksesan.

“Ibu dan kakak saya adalah tiang dari semangat saya,” katanya.

“Saya memilih tidak menghiraukan apa yang orang-orang katakan. Itu hanya membuat saya berlatih lebih keras demi menunjukkan saya dapat melakukan seni bela diri dan tidak perlu bergantung dengan lelaki.”

“Itu memberi kekuatan yang luar biasa – tekad saya menjadi lebih kuat. Saya ingin membuktikan kepada dunia bahwa saya dapat menggapai impian saya, dan impian ayah saya.”

Meraih Kesempatan Di Atas Panggung Dunia

Motivasi dan etos kerja yang dimiliki Puja akhirnya membawanya naik peringkat dalam dunia wushu. Ia mendapatkan rekor 67-5 dan memenangkan empat kejuaraan nasional.

Transisinya ke seni bela diri campuran termasuk mudah, dimana ia sangat bersemangat saat tampil perdana dalam laga bela diri campuran profesional bersama promotor terbesar di India, Super Fight League, tahun 2013.

Ketiga kemenangan KO yang di dapatkannya di negaranya kemudian memberikan Puja kesempatan masuk dalam panggung bela diri dunia pada tahun 2017, dan sebuah kesempatan untuk berlatih bersama para atlet terbaik di dunia.

“Saya merasa sukses ketika akhirnya mendapatkan kontrak bersama ONE Championship,” kata Puja.

“Saya sangat berterima kasih diberikan waktu berlatih selama dua minggu di sasana terbaik di dunia, Evolve, dimana saya belajar banyak.”

Saat dirinya kembali ke India, ia dibantu oleh Rajinder dan sesama atlet ONE, Himanshu Kaushik demi membesarkan olahraga bela diri di negerinya.

Kemajuan tanpa henti dari “The Cyclone” dan kemenangan pertamanya melawan Priscilla akan menjadi langkah yang tepat. Dengan kemauan tinggi untuk meraih kemenangan, ia berharap banyak wanita yang akan mengikuti langkahnya.

“Saya percaya dapat membesarkan nama negara saya di panggung dunia, dan menunjukkan bahwa atlet bela diri campuran wanita dari India tidak dapat diremehkan,” katanya.