Fitur

ONE Lightweight World Grand Prix – Kisah Epik Yang Berlanjut

25 Sep 2019

Semua mata akan tertuju pada Ryogoku Kokugikan di Tokyo, Jepang, tanggal 13 Oktober nanti, saat tiga turnamen luar biasa akan berakhir dalam ajang bela diri terbesar sepanjang masa.

Yang pertama dalam ajang ONE: CENTURY PART I adalah laga antara ikon bela diri Amerika Serikat Eddie “The Underground King” Alvarez yang akan mencoba mengukir kisah kebangkitan kembali yang luar biasa dengan memenangkan babak Final Kejuaraan ONE Lightweight World Grand Prix.

Namun, ia tidak akan mengemban tugas yang mudah, karena ia akan menghadapi atlet yang memiliki penyelesaian paling berbahaya dalam divisi ini – Saygid “Dagi” Guseyn Arslanaliev.

Warga Istanbul, Turki ini mungkin memiliki pengalaman di bawah lawannya, tetapi ia mampu menampilkan beberapa hasil yang sangat mengejutkan.

Dua Penyelesaian Ronde Pertama Sebagai Pembuka Turnamen

Bulan Januari lalu, turnamen ONE Lightweight World Grand Prix dimulai pada ajang ONE: HERO’S ASCENT di Manila, Filipina, saat mantan Juara Dunia ONE Featherweight Honorio “The Rock” Banario bertemu dengan Lowen Tynanes.

Itu adalah penampilan pertama dari pria asal Amerika Serikat tersebut di dalam Circle setelah tiga tahun beristirahat, tetapi ia nampak seperti tidak pernah beranjak ketika dirinya mengejutkan para fans lokal dengan sebuah penyelesaian satu ronde atas pahlawan mereka dari Team Lakay untuk maju ke fase berikutnya dalam kompetisi ini.

Para fans harus menunggu sampai awal bulan untuk laga selanjutnya, tetapi ajang di Singapore Indoor Stadium itu memang patut dinantikan.

Laga pertama dari babak perempat final malam itu menjanjikan aksi luar biasa saat “Dagi” memulai perjuangannya melawan pejuang keturunan Selandia Baru-Malaysia Ev “E.T.” Ting.

Ada banyak berita di sekitar Saygid setelah penyelesaian ronde pertamanya melawan Timofey Nastyukhin bulan September lalu, tetapi Ev adalah atlet veteran yang luar biasa, dan ia diharapkan memberi perlawanan keras.

Tetapi, atlet berusia 24 tahun ini menemukan tempat bagi hook kiri-nya di rahang rivalnya ini pada beberapa detik pertama, dan melanjutkan dengan rangkaian ground and pound untuk meraih KO hanya dalam waktu 25 detik – kemenangan tercepat dalam karir yang dipenuhi oleh penyelesaian cepat. Ia nampak seperti orang yang memang wajib dikalahkan.

Sebuah Ketegangan Dan Kekecewaan

Saat para penggemar masih terkejut dengan penyelesaian cepat “Dagi,” Amir Khan dan Ariel “Tarzan” Sexton memasuki ring untuk laga terakhir dalam rangkaian World Grand Prix di ajang ONE: CALL TO GREATNESS.

Mereka memberikan laga terbaik dalam kompetisi tersebut sejauh ini, saat spesialis submission Ariel mengacuhkan kemampuan grappling-nya untuk berhadapan dengan spesialis Muay Thai tersebut.

Pahlawan tuan rumah ini hampir mencetak penyelesaian saat ia mengejutkan rivalnya asal Kosta Rika tersebut dengan pukulan kanan keras pada ronde kedua, tetapi “Tarzan” melakukan pekerjaan yang baik untuk tetap tenang dan bertahan. Pada ronde terakhir, ia akhirnya melepaskan permainan ground-nya untuk meraih kuncian rear-naked choke dan tampil dalam babak semifinal melawan Saygid.

Ada beberapa waktu luang sampai bulan Maret, ketika babak selanjutnya berlangsung dengan dua pencetak KO terkuat bertemu di ajang ONE: A NEW ERA di Tokyo, Jepang.

Eddie Alvarez maju dengan beban berat di pundaknya, berkat rekornya sebagai Juara Dunia bela diri campuran divisi lightweight empat kali, tetapi Timofey Nastyukhin tidak mempedulikan reputasinya ini serta mencetak salah satu kemenangan paling mengejutkan tahun ini dengan sebuah KO terbaik malam itu.

Ini membawanya menghadapi Lowen pada bulan Agustus, tetapi terjadi beberapa perubahan mendadak dalam turnamen ini.

Babak Semifinal Mengejutkan

Sayangnya, laga Ariel-Saygid harus lepas karena “Tarzan” mengalami cedera saat ia mematahkan tangannya. Untungnya, Amir dapat kembali ke dalam turnamen ini demi menantang atlet pencetak KO asal Dagestan tersebut di ajang ONE: ENTER THE DRAGON dan mencoba meraih hasil yang lebih baik dari Ev.

Walau atlet Singapura ini mampu bertahan sampai menit 2:56 ronde pertama, ia menghabiskan sebagian besar waktu tersebut terlempar di dalam ring seperti boneka sebelum ia harus menyerah setelah menerima rangkaian pukulan kuat. Ini menjadi penampilan luar biasa lainnya dari“Dagi.”

Laga lainnya pada babak kedua dari turnamen World Grand Prix ini juga diwarnai dengan pembatalan. Lowen terpaksa mundur karena ia berjuang melawan spondyloarthritis – satu jenis arthritis yang menyerang sendi dan tulang belakang. Timofey juga tidak mampu berlaga dalam ajang ONE: DAWN OF HEROES karena cedera lutut yang parah.

Untungnya, terdapat dua seniman bela diri kelas dunia yang dijadwalkan untuk kartu pertandingan yang sama di Manila, Filipina, yang sangat layak masuk kembali – mantan Juara Dunia dari Timur dan Barat, Eddie Alvarez dan Eduard “Landslide” Folayang.

Selama laga ini berlangsung, keduanya tampil menegangkan. Nampaknya “The Underground King” akan menyerah karena penyelesaian cepat lainnya saat ia terkena hook kiri, lalu sebuah tendangan rendah menjatuhkannya ke atas kanvas.

Namun, atlet AS ini menampilkan pengalaman veterannya untuk mencetak sebuah sweep yang mengejutkan, lalu mencetak submission atas Eduard dengan kuncian rear-naked choke dan melaju ke babak final.

Tiap langkah dalam turnamen ONE Lightweight World Grand Prix ini sangat menegangkan sejauh ini, dan hal tersebut memberikan sebuah laga final yang dapat melebihi segala sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya. Tanggal 13 Oktober, seorang legenda akan menghadapi salah satu bintang yang bersinar dalam seni bela diri, dimana hasilnya akan sangat mengejutkan.

Baca lagi: 4 Pelajaran Penting Jelang Final ONE Lightweight World Grand Prix

Tokyo | 13 Oktober | ONE: CENTURY | TV: Periksa daftar tayangan lokal untuk siaran global | Tiket: https://onechampionship.zaiko.io/e/onecentury

ONE: CENTURY adalah ajang Kejuaraan Dunia bela diri terbesar dalam sejarah dengan 28 Juara Dunia yang tampil dalam berbagai disiplin bela diri. Belum ada organisasi dalam sejarah yang pernah mempromosikan dua ajang Kejuaraan Dunia di hari yang sama.

“The Home Of Martial Arts” kembali membuka babak baru dengan menyajikan beberapa laga perebutan gelar Juara Dunia, tiga babak final Kejuaraan World Grand Prix, serta serangkaian Juara Dunia yang akan melawan Juara Dunia lainnya di lokasi ikonik Ryugoku Kokugikan, Tokyo, Jepang, tanggal 13 Oktober.