Fitur

Muay Thai Membantu Stamp Fairtex Menghadapi Perundungnya

11 Feb 2019

Bagi Stamp Fairtex, daya magis seni bela diri Muay Thai menjadi energi positif dalam kehidupannya – mulai dari menjadikan dirinya Juara Dunia, hingga membantunya melewati masa sulit.

Sebelum atlet yang mulai berlatih saat berusia 5 tahun ini menjadi bintang bersama ONE Championship dan tampil dalam laga utama ajang ONE: CALL TO GREATNESS, pejuang asal Thailand ini mencoba berlatih bela diri untuk membantunya melewati salah satu periode paling sulit dalam hidupnya.

Saat ia masih kanak-kanak, Stamp menjadi korban perundungan, dimana berbagai ejekan serta penganiayaan terhadap dirinya mempengaruhi kepercayaan diri atlet bintang ini – dimana ia kerap merasa rendah diri.

“Waktu saya masih TK, saya sering kali diganggu,” kata Juara Dunia ONE Women’s Atomweight Kickboxing ini. “Saya dulu berbadan jauh lebih kecil dibandingkan anak-anak yang lain, jadi mereka mengejek dan mencubit saya.”

“Setiap hari, saya pulang ke rumah sambil menangis. Tetapi, hari berikutnya kejadian sama terus berulang.”

“Saya terlalu takut untuk melaporkannya kepada guru saya, karena saya khawatir hal itu akan memperburuk keadaan.”

Peristiwa ini melukai hati kedua orang tua Stamp, yang tak tahan melihat anaknya menderita. Mereka pun membujuk Stamp, yang saat itu masih berusia 5 tahun, untuk mempelajari bela diri agar ia memiliki keberanian melawan para perundungnya.

Keluarga Stamp memang sudah memiliki ikatan erat dengan komunitas Muay Thai di tempat tinggal mereka – dimana pamannya memiliki sebuah sasana sederhana bernama Kiat Boon Kern yang menjadi tempat berkumpul dan berlatih bagi anggota keluarganya.

Segera setelah Stamp mengenakan sarung tinju untuk berlatih pertama kalinya, ia mulai berkembang.

Ia menjadi semakin kuat – baik fisik maupun mental – dan sejak saat itu pun perundungan yang menderanya perlahan berhenti.

“Sejak saya mulai berlatih, saya merasa lebih kuat dan lebih percaya diri,” kenangnya.

“Saya rasa anak-anak lain mulai melihatnya juga karena mulai berhenti mengganggu saya. Saya mampu melawan para perundung. Setelah beberapa keributan kecil, mereka benar-benar berhenti.”

Stamp bukanlah satu-satunya anggota keluarga yang mengalami kesulitan yang sama. Adik laki-lakinya juga mengalami masalah yang sama, namun ia mencontoh apa yang Stamp lakukan dan “seni delapan tungkai” membantunya mengatasi berbagai masalah tersebut.

“Adik laki-laki saya juga mengalami perundungan di sekolahnya, sehingga orang tua kami [juga] mendorongnya berlatih dan bertanding,” ujar Stamp.

“Seiring adik saya semakin percaya diri, perundungan tersebut pun berakhir.”

Tentu saja, talenta dan rasa cinta Stamp pada Muay Thai telah membuka banyak kesempatan. Ia dengan cepat menanjak dalam ranah pertandingan kompetitif, dan mulai mendaftarkan diri di beberapa festival lokal bersama teman-temannya demi pengalaman bertanding.

Melalui kompetisi rutin, nama Stamp mulai mencuat, dan ia pun mulai berlaga demi meraih gelar regional.

Setelah lulus dari sasana keluarganya, Stamp melanjutkan latihannya di Fairtex Training Center, Pattaya, yang terletak di Teluk Thailand – tak jauh dari rumah Stamp di provinsi Rayong.

Strikingnya yang tajam, kekuatan yang luar biasa dan etos kerja yang sangat tinggi membantunya menjadi atlet wanita pertama di sasana tersebut yang mendapatkan sponsor. Ia pun kemudian bergabung bersama ONE Championship.

Keterampilan yang dimiliki Stamp membawanya meraih gelar Juara Dunia ONE Atomweight Kickboxing, saat ia menaklukkan Kai Ting Chuang dalam ajang ONE: KINGDOM OF HEROES tahun lalu.

Sebagai wanita Thailand pertama yang menjadi Juara Dunia ONE Super Series, atlet berusia 21 tahun ini telah menjadi pahlawan dan sumber inspirasi bagi penduduk di tanah kelahirannya, serta para penggemar seni bela diri di seluruh dunia.

“Muay Thai adalah olah raga yang akan mengubah hidup anda. Muay Thai akan membuat fisik dan metal anda semakin kuat,” tuturnya.

“Saya bangga pada diri sendiri atas apa yang telah saya raih. Jika saya tidak menjadi petarung, tak ada yang akan mengenal nama saya.”

Kini, Stamp tengah terfokus pada sebuah tantangan baru di Singapore Indoor Stadium, saat dirinya mencoba meraih gelar Juara Dunia dalam dua cabang olahraga berbeda di “The Home Of Martial Arts.”

Ia akan menghadapi Janet “JT” Todd demi merebut gelar Juara Dunia Perdana ONE Atomweight Muay Thai, dalam pertandingan utama ajang ONE: CALL TO GREATNESS, tanggal 22 Februari.

Dengan pertaruhan besar ini, segala masalah yang dihadapinya saat kecil terasa seperti angin lalu, namun ia tak akan pernah lupa bagaimana ia mampu menaklukkan masalah tersebut, saat perjuangannya membantu membentuk dirinya menjadi bintang kelas dunia seperti saat ini.

“Saya sudah tak lagi memikirkan tentang para perundung. Sebaliknya, saya terfokus pada tugas yang ada di depan saya – meraih gelar Juara Dunia kedua,” tambahnya optimis.

“Tetapi, semua itu adalah tantangan yang harus saya hadapi saat kecil. Bagaimanapun, hal itu yang membentuk saya seperti sekarang ini.”