Fitur

Makna Tas Noken Yang Jadi Identitas ‘Papua Badboy’

19 Jan 2021

Dalam setiap penampilannya saat memasuki Circle ONE Championship, “Papua Badboy” selalu mengenakan tas yang menjadi identitas budayanya.

Dibesarkan di Sorong, Papua Barat, sosok Adrian “Papua Badboy” Mattheis memang menjadi personifikasi akan budaya Timur Indonesia yang sangat bersahaja, dan pria muda ini pun dengan bangga membawa budaya maupun ciri khasnya dalam setiap penampilannya di panggung dunia untuk seni bela diri tersebut.

Salah satu yang tak pernah lepas dari sosok Adrian adalah sebuah tas rajut yang selalu tergantung di lehernya. Nama tas itu adalah “noken,” yang menjadi salah satu identitas Bumi Cendrawasih.

Pada tanggal 4 Desember lalu, Indonesia merayakan “Hari Noken” yang sekaligus menjadi pengingat akan diakuinya tas noken sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada tanggal 7 April 2014 lalu.

Berbicara tentang momen spesial itu, Adrian sebagai salah satu putra Papua juga merasa bangga akan warisan budayanya itu.

“Sebenarnya hal-hal itu yang kita ingin bawa ke dunia internasional,” ujar Adrian dengan logat Timurnya yang khas. “Inilah kita, di Papua sana kita memiliki noken itu, [yang] sudah diakui oleh UNESCO. Sudah sejak lama, Adrian bangga,”



Secara filosofis, tas noken memiliki arti yang begitu sarat makna bagi berbagai suku di Papua. Seperti tertulis dalam buku “Jamiru Perjalanan Spiritual Orang Irarutu” oleh Ed Umar Werfete, tas noken melambangkan perdamaian dan kesuburan bagi masyarakat di tanah Papua.

Tas noken sendiri umumnya dibuat oleh para ibu di Papua dari bahan kulit kayu, daun, hingga tumbuhan semak. Fungsinya juga begitu kaya, yakni membawa hasil bumi, bayi hingga ternak babi.

Secara pribadi, Adrian telah mengenal tas noken sejak masih tinggal di Ternate dari ayahnya yang bekerja di Teluk Bintuni. Ia mengenal tas noken sejak kecil.

“Saya dari Ternate sudah mengenal itu, dulu bapak biasa suka memakainya, begitu,” kenang Adrian.

Bagi pemuda yang besar di Papua ini, diakuinya noken oleh UNESCO menjadi pengingat bahwa Indonesia memang memiliki berbagai suku dan kebudayaan yang sangat kaya. Dan sebagai warga Indonesia, kita dituntut untuk bangga akan warisan budaya di tiap daerah asal kita.

“‘Hari Noken’ itu maksudnya [juga menjadi pengingat bagi] teman-teman dari daerah lain, bahwa kita punya suku yang patut kita banggakan,” ujar Adrian bersemangat.

“Ini mengenai kita, teman-teman se-Indonesia, bahwa kita juga harus menghargai [warisan budaya nenek moyang]. Bahwa setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda.”

Adrian sendiri merupakan satu dari sekian banyak atlet Indonesia yang dengan penuh kebanggaan membawa identitas suku dan negaranya ke atas panggung dunia. Tak hanya tas noken, kepala “Papua Badboy” juga selalu dihiasi oleh topi khas Papua, dengan keindahan bulu burung Cendrawasih-nya.

Kebudayaan Papua itu kian berkesan dengan tarian Adrian tiap kali ia berjalan menuju Circle, yang memang telah menjadi identitas yang lekat dalam diri perwakilan Tigershark Fighting Academy ini.

“Ya, bagaimana saya memiliki kearifan lokal seperti itu. Kita memiliki karakter,” pungkasnya.

Hal ini pun juga diakui oleh salah satu Komentator ONE Championship, Mitch “The Dragon” Chilson, yang hampir selalu memuji penampilan masuk “Papua Badboy” ke atas panggung sebagai apa yang disebutnya membahagiakan dan membawa aura positif sebelum memulai sebuah laga.

Baca juga: 5 Alasan Untuk Menantikan ONE: UNBREAKABLE