Fitur

Giorgio Petrosyan Melihat Kembali Saat Karirnya Hampir Berakhir

3 Juli 2019

Beberapa tahun lalu, Giorgio “The Doctor” Petrosyan hampir menggantung sarung tinjunya.

Mega bintang asal Armenia-Italia – yang akan menghadapi Petchmorakot Petchyindee Academy di pertandingan utama ajang ONE: MASTERS OF DESTINY di Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat, tanggal 12 Juli – sempat menjalani karir yang pasang surut dan berada pada titik terendah setelah kekalahan terakhirnya.

Meski kekalahan ini hanyalah yang kedua dari 105 pertandingan yang ia jalani sebagai atlet profesional, namun Giorgio mengaku sulit berdamai dengan kenyataan terebut.

Tetapi, selayaknya Juara Dunia yang sesungguhnya, ia belajar melupakan masa kelam itu, kembali ke ring dengan rasa lapar baru untuk kesuksesan, serta membangun catatan luar biasa dengan menjadi tak terkalahkan dan membawa dirinya sebagai kickboxer terbaik dunia dalam divisinya.

Can striking Giorgio Petrosyan add "Winner of the ONE Featherweight Kickboxing World Grand Prix" to his incredible list of accolades?

Can striking Giorgio Petrosyan add "Winner of the ONE Featherweight Kickboxing World Grand Prix" to his incredible list of accolades?: Kuala Lumpur | 12 July | 6PM | ONE: MASTERS OF DESTINY: Get your tickets at http://bit.ly/onemastersofdestiny19: Check local listings for global TV broadcast: Watch on the ONE Super App http://bit.ly/ONESuperApp : Prelims LIVE on Facebook | Prelims + 2 Main-Card bouts LIVE on Twitter

Posted by ONE Championship on Saturday, 29 June 2019

“Untuk seseorang yang terbiasa dengan kemenangan, tentu saja saya adalah tipe orang yang tidak menyukai kekalahan,” jelas Giorgio.

“Saat saya kalah dalam pertandingan itu [melawan Andy Ristie] pada tahun 2013, di Madison Square Garden, tidak hanya saya kalah, saya juga membuat tangan saya retak dan menghadapi banyak masalah.”

“Diri saya tidak mampu mengatasi itu semua.”

Pria yang dua kali menjadi Juara dunia MAX K-1 ini pernah mengalami kekalahan sebelumnya, tetapi ia sulit sekali menerima kekalahannya saat itu. Ia sangat terpukul dan sempat bertanya-tanya apakah dirinya masih layak berada di level tertinggi.

Hal ini pun ditambah dengan cedera yang ia alami, yang tak ayal membuat “The Doctor” mempertimbangkan untuk berhenti berkompetisi.

“Saya melewati masa itu dengan pemikiran untuk pensiun, karena saya tidak bisa tidur, fokus atau berlatih, dan minat bela diri saya telah berpaling,” ungkapnya.

“Waktu yang [biasanya] paling penting dan indah, yakni saat berlatih, berubah menjadi mimpi buruk. Saya melewati tahun yang buruk, saya tidak bisa fokus atau berlatih. Saya ingin mempersiapkan diri untuk sebuah pertandingan, tetapi saya tidak bisa – pikiran saya tidak berada di tempat yang semestinya.”

“Tetap saja, saya ingin terus berlatih dan menjadi seperti yang lainnya, karena semua [atlet] dapat mengalami kekalahan. Saya akan melihat orang lain dan bertanya, ‘Kenapa mereka kalah, menang, kalah, menang tetapi mereka masih sangat semangat, sementara saya hanya kalah satu pertandingan dan sangat terpukul, sampai tidak bisa berdamai dengan itu?'”

Giorgio pun absen di sepanjang tahun 2014, dan menyadari bahwa dirinya harus membuat perubahan drastis jika ingin kembali pada puncak kompetisi yang didominasinya dalam beberapa tahun terakhir.

Demi membangkitkan kembali semangatnya, ia pindah ke Milan, berlatih dengan pelatih baru, serta membuka sasana sendiri. Ia keluar dari zona nyamannya di kota yang baru, tetapi hal ini menjadi sebuah perubahan yang membuka jalan bagi dirinya untuk kembali.

“Yang terpenting dan paling utama, saya harus keluar dari terowongan yang mengerikan ini dengan berpindah ke tempat baru, dan saya tiba di Milan dimana saya dan saudara laki-laki saya mendirikan sebuah sasana,” jelasnya.

“Saya bertemu dengan pelatih baru saya, Ermes Di Francesca, yang memberi saya motivasi dan awal yang baru. Saya juga bertemu beberapa teman baru yang cukup banyak membantu saya dan keluarga saya juga. Setelah itu, saya membuat perubahan besar dan mendapatkan kehidupan baru.”

Giorgio kembali ke ring pada Januari 2015 dengan menunjukkan kelasnya sebagai atlet unggulan dan tetap menampilkan performa apik. Ia menghadapi beberapa kickboxers terbaik di dunia, membongkar pertahanan mereka, serta meraih empat gelar Juara Dunia baru selama proses tersebut.

Banyak yang meragukan – bahkan ia sendiri meragukan dirinya – tetapi kesuksesan atlet berusia 33 tahun ini mampu membungkam semuanya.

Angka kemenangannya kian menumpuk, rasa percaya dirinya kian tumbuh dan pada tahun 2018, ia menandatangani kontrak untuk berkompetisi melawan para striker terbaik di dunia bersama ONE Championship. 

“Semua mengatakan ‘Giorgio keluar, dia telah habis karena tangannya patah, dia kalah KO, dia kehilangan gelarnya, dia secara psikologis dan psikis telah habis,'” ingatnya.

“Tetapi setelah satu tahun istirahat dan [menjalani] beberapa operasi penting, saya kembali dan lebih kuat dari sebelumnya, 100 persen di pikiran saya dan badan saya juga.”

“Saya benar-benar bangkit dari keterpurukan seperti burung phoenix. Saya belajar bahwa anda dapat bangkit dan menjadi lebih kuat jika pikiran anda kuat.”

Saat ia mempersiapkan diri untuk bertarung yang kedua kalinya menghadapi Petchmorakot di babak perempat final ONE Featherweight Kickboxing World Grand Prix, kesulitan yang ia lalui semenjak kekalahannya hanya menunjukkan bahwa akan selalu ada jalan.

“The Doctor” berpikir ia telah kalah dalam pertandingan pertama mereka, saat sebuah split decision diberikan untuk kemenangan rivalnya. Namun, hasil tersebut kemudian dibatalkan karena penggunaan teknik ilegal dalam pertandingan pertama mereka.

Sekarang, Giorgio kembali memiliki kesempatan untuk melakukan apa yang ia sukai, memperbaiki kesalahannya dan melaju ke puncak turnamen kickboxing terbesar di dunia.

Ketika ia mengalami keterpurukan, ia mampu bangkit dan kembali menjadi lebih kuat. Kali ini, ia tidak memiliki keraguan bahwa ia akan mengangkat tangannya di Kuala Lumpur dan  melanjutkan perjalananya meraih emas World Grand Prix.