Fitur

Bobo Sacko Tempuh Jalur Yang Salah Sebelum Mengenal Muay Thai

4 Sep 2019

Bobo “The Panther” Sacko adalah salah satu rekrutan baru ONE Championship yang terbaik tahun ini, dimana ia tak sabar menguji kemampuannya melawan para atlet terbaik.

Perjalanannya akan dimulai pada hari Jumat, 6 September dalam ONE: IMMORTAL TRIUMPH saat ia berhadapan dengan “Left Meteorite” Kulabdam Sor. Jor. Piek Uthai di Ho Chi Minh, Vietnam dalam laga divisi bantamweight ONE Super Series.

Kontes ini akan menjadi lembaran baru dalam perjalanannya dalam disiplin Muay Thai, yang membawanya keluar dari masa muda penuh goncangan di Paris menuju kepopuleran di atas ring.

Menjelang debutnya di pangggung bela diri dunia, pria berusia 31 tahun ini mengungkapkan bagaimana ia melepaskan diri dari masalah hingga membangun karir sebagai seorang Juara Dunia.

Pembuat Masalah

Bobo lahir di sebuah area di ibukota Perancis yang hampir tak diketahui oleh wisatawan yang mengunjungi “Kota Cahaya” ini.

Ia menggambarkannya seperti sebuah “kampung kumuh,” dan menghabiskan banyak waktunya terlibat dengan berbagai masalah di jalanan yang menuntutnya untuk menunjukkan karakter yang keras untuk dihormati.

“Saya memiliki banyak teman yang sama seperti saya – bergejolak!” ungkapnya seraya tertawa.

“Saya tak pernah membiarkan siapapun berbuat macam-macam pada saya. Seperti itulah saya dibesarkan. Ya, saya adalah anak yang penuh gejolak, selalu berkelahi karena saya suka film aksi seperti Bruce Lee dan lainnya, dan saya selalu berkata pada diri sendiri, ‘Saya ingin melakukan apa yang saya lihat di layar.'”

“The Panther” mengakui ia tidak menikmati masa sekolah dan sering kehilangan fokus saat belajar, yang pada akhirnya mengecewakan orang tuanya.

Tetapi, ia mulai menyadari kesalahannya dan menempatkan keluarga sebagai prioritas utama saat ini.

“Karena keluarga kami cukup besar, kami tak punya banyak [uang] dan saya kerap mengambil keputusan salah yang sangat melukai orang tua saya,” ujarnya mengakui.

“Tetapi, kami sangat dekat, orang tua saya melakukan yang terbaik bagi saya, serta saudara lelaki dan perempuan saya – saya merupakan salah satu dari 10 bersaudara – dan mereka membesarkan kami dengan prinsip kepedulian, respek, dan saling berbagi.”

“Dua dari saudara saya tuna wicara dan tuna rungu, jadi saya berjuang bagi mereka juga. Segala yang saya lakukan adalah untuk keluarga – demi memberikan kembali apa yang telah orang tua saya korbankan hingga bisa membuat kami tumbuh dengan aman.”

Arah Baru

Bobo ingin meniru apa yang ditunjukan pahlawan seni bela diri dalam film. Terinspirasi salah satu saudaranya, ia menuju sasana dan dengan segera menunjukkan bakat terpendamnya dalam berkompetisi dan mengalihkan perhatian dari masalah di jalanan yang sempat menggerogotinya.

“Saya mulai berlatih Muay Thai ketika berusia 11 tahun,” ujarnya.

“Kakak saya melakukan [latihan] itu, dan itu memotivasi saya mencoba. Hal ini membantu saya mengerahkan energi untuk tujuan yang jelas. Juga, saya senang membuktikan pada teman-teman bahwa saya lebih baik dari mereka, jadi kami mulai berlatih Muay Thai bersama.”

“Kami mulai berlatih bahkan sebelum resmi mendaftar, dan [ketika kami melakukan sparring], saat itu lebih mirip tawuran dibanding Muay Thai. Tetapi, pelatih saya [Nicolas Subileau] melihat bakat saya, jadi ia melatih saya secara langsung untuk menunjukan apa yang bisa saya perbuat, dan kita terus bersama sejak saat itu.”

Ketika ia ditempa menjadi seorang seniman bela diri sejati alih-alih menjadi tukang tawuran, Bobo tak lagi menjadi anak yang ceroboh.

Dengan pelajaran dari ibu dan ayahnya yang tertanam dengan baik, ia mulai mengembangkan talenta terbaiknya dimana “seni delapan tungkai” memberinya arah yang dibutuhkannya.

“Muay Thai membantu menyalurkan [bakat] saya – untuk mengetahui kemana arah yang saya inginkan,” tuturnya.

“Segala masalah yang saya hadapi telah menjadikan diri saya seperti yang sekarang. Kita adalah hasil dari pengalaman yang kita jalani, dan dari semua pengalaman buruk, selalu ada pelajaran penting untuk dipetik. Orang tua saya selalu mengatakan, ‘Dibalik semua masalah selalu ada hal baik.’ Itulah nilai yang mereka terapkan pada kami.”

“Tidak banyak memiliki [harta benda] artinya sebuah pelajaran tentang nilai berbagi, kesederhanaan dan selalu bersyukur atas apa yang kita miliki. Itu juga mengajari satu hal yang meyakinkan saya, bahwa kita semua bisa menjadi apa yang kita inginkan terlepas dari apapun kesulitan dan tantangannya. Yang paling penting adalah mencari cara agar berhasil dan berjuang menggapainya.”

Mengincar Kejayaan

Setelah 20 tahun berlalu dari saat awal “The Panther” melangkahkan kaki ke Teambilos Muay Thai Gym, ia pun memastikan upaya terbaik untuk mencapai tingkatan yang ia inginkan.

Kini, ia adalah seorang Juara Dunia WPMF dengan rekor 72-5-1 yang mengagumkan, dan meski sabuk juara itu adalah pencapaian terbesarnya sejauh ini, empat gelar juara nasional yang ia raih sebelumnya memiliki makna yang lebih dalam baginya.

“Hal paling membanggakan dalam [karir] olahraga saya adalah saat saya memenangi trofi profesional pertama saya [pada tahun 2008], dan menyerahkan sebuah piala nasional Perancis pada ibu saya,” tuturnya.

Tetapi, terlepas dari sebanyak apapun medali yang diraihnya, Bobo tak akan pernah merasa puas dengan pencapaian seni bela dirinya.

Tujuan utamanya adalah untuk menginspirasi generasi muda – baik melalui kesuksesan diatas ring, ataupun di luar itu.

“Saya belum menganggap diri saya sukses. Hal yang bisa membuat saya merasa sukses adalah jika saya bisa menjadi inspirasi bagi kaum muda,” jelasnya.

“Saya harus menjaga contoh positif ini, tidak gagal dan tidak membuat kesalahan.”

Menghadapi Yang Terbaik

Warga Perancis ini senang bisa menjadi bagian dari ONE dan berkesempatan menghadapi seorang lawan yang tangguh dalam laga debutnya.

Sebagai seorang Juara Dunia Muay Thai Lumpinee Stadium, Kulabdam adalah salah satu seniman terbaik di muka bumi, dimana tak ada cara lain bagi “The Panther” untuk membuktikan kapasitasnya sebagai atlet elit selain dengan mengalahkan “Left Meteorite.”

“Sejak saya mulai [mempelajar] Muay Thai, saya sadar bahwa saya saya ingin sukses dan menampilkan yang terbaik dari diri saya dengan menghadapi yang terbaik,” ujarnya.

“Itulah mengapa saya menyukai ONE. Atlet terbaik menghadapi yang terbaik, dan ini hanya dapat menjadi hal yang baik.”

Hal itu bukanlah satu-satunya hal yang menarik perhatian warga Paris yang karismatik ini.

Semua nilai yang terkandung dalam organisasi seni bela diri terbesar di dunia ini seperti mewakili dirinya, dimana ia pun berjanji untuk menampilkan semuat itu saat memasuki ring di Ho Chi Minh dan menampilkan aksi terbaiknya.

“Bagaimana ONE menampilkan para atletnya sungguh luar biasa – untuk menunjukan bahwa setiap laga adalah hasil dari pengalaman hidup, dengan semua pengorbanan dan kesulitan yang mereka alami,” tambahnya.

“Saya dapat mengungkapkannya dengan kata-kata serta kalimat terbaik, namun saya pikir tak ada yang lebih efektif selain menampilkannya di atas panggung ONE, bahwa dalam seni bela diri, nilai yang terpenting adalah penghormatan [atau respek] – pada lawan anda, pelatih anda, wasit, serta para penggemar.”

“Jika anda tidak menampilkan yang terbaik, ini berarti anda tidak menunjukan respek, jadi itulah kata-kata saya – saya akan selalu memberikan yang terbaik, menimbulkan respek dan selalu memberikan pertunjukan yang hebat.”

Ho Chi Minh | 6 September | 17:30 WIB | ONE: IMMORTAL TRIUMPH | TV: Periksa daftar tayangan lokal untuk siaran global | Tiket: http://bit.ly/oneimmortal19