Bela Diri Campuran

Bagaimana Air Mata Ibu Menginspirasi Kesuksesan Kwon Won Il

“Pretty Boy” Kwon Won Il adalah seorang atlet yang mampu memberi dampak besar dalam ONE Championship, jika dibandingkan dengan atlet debutan lain pada tahun 2019.

Seniman pencetak KO asal Korea Selatan ini, yang akan kembali berlaga di ONE: FIRE & FURY, memberi kesan positif melalui dua penyelesaian cepat yang membuatnya menjadi pesaing yang layak diperhitungkan dalam divisi featherweight.

Sabtu nanti, 15 Juni, atlet berusia 23 tahun asal Seoul ini akan menjalani penampilan ke enamnya di panggung dunia di Manila, Filipia, untuk menghadapi Shoko Sato. Jika Won Il mampu mengatasi tantangan atlet berbahaya asal Jepang ini, ia bisa membuka lebar jalan menuju Juara Dunia.

Namun “Pretty Boy” nampak tidak selalu ditakdirkan untuk berada dalam kilau ketenaran.

Menjelang laga bergengsinya di Mall Of Asia Arena, simak bagaimana ia menemukan minat dalam olahraga, dan menjadi salah satu bintang terampil di “The Home of Martial Arts.”

Air Mata Sang Ibu

Kwon Won Il celebrates his KO win against defeats Sunoto at ONE: CENTURY

Kwon Won Il terlahir di Daejeon, kota terbesar ke-lima di Korea Selatan dengan jarak tempuh 150 km arah selatan dari ibu kota Seoul.

Ketika memasuki  tim taekwondo di sekolah dasar, saat itulah ia memulai perjalanannya di martial arts. Ia menunjukkan bakat alami dan merajai berbagai kompetisi tingkat provinsi untuk selanjutnya berkompetisi di turnamen nasional antar pemuda.

Namun, Won Il bukanlah seorang murid teladan. Ia berhenti dari olahraga saat lulus dari sekolah dasar, dan ia mengakui ia kehilangan arah.

“Saya menjadi lelah dengan taekwondo dan saya berada pada titik di mana saya tidak bisa belajar atau berlatih,” tambahnya.

Parahnya, ia terlibat dalam perkelahian dengan murid-muird lainnya. Akhirnya, kepala sekolahnya pun merasa gerah dengan kenakalannya, dan memintanya untuk pindah ke sekolah lain.

Won Il mengatakan bahwa titik balik dari kehidupannya ialah saat ia menyaksikan ibunya menangis di depan kepala sekolah ketika keputusan pelik tersebut diumumkan.

“Itu merupakan kali pertama saya melihat ibu menundukkan kepalanya dan menangis,” katanya.

“Saat itulah saya merasa saya harus menghentikan tangisnya. Saat itulah saya mulai serius mencari jati diri.”

Rumah Baru, Semangat Baru

Won Il kemudian menemukan dirinya berada di sekolah baru yang terletak di Hwajeong, bagian utara dari ibu kota Seoul. Di kota baru, di antara teman-teman baru, sang remaja mulai terinspirasi oleh teman-temannya untuk membuat sesuatu bagi dirinya.

“Saya bertekad untuk melakukan sesuatu dengan hidup saya.” katanya.

“Saat itu saya sadar bahwa murid-murid di sekolah baru saya sangat sibuk. Kemudian setelah saya mengetahui bahwa mereka memiliki cita-cita dan tujuan. Hal itu memotivasi saya untuk mencari apa yang saya mau lakukan dengan hidup saya.”

“Pretty Boy” menemukan sasana seni bela diri campuran, Extreme Combat, yang menghidupkan kembali minatnya untuk berlatih.

Kesempatan untuk menggabungkan berbagai disiplin ilmu bela diri dalam satu olahraga yang berkembang dengan pesat dibandingkan dengan olahraga yang lain di dunia, membuatnya menjadi antusias, dan dia tidak pernah menoleh lagi ke belakang semenjak itu.

“Dalam kenangan saya, taekwondo hanya sekedar hobi,” katanya.

“Tidak ada yang salah dengan taekwondo, tetapi saya merasa ruangnya terbatas untuk saya berkembang. Setelah saya merasakan mixed martial arts, saya ketagihan.

“Saya merasakan taekwondo [dalam MMA], tetapi hal itu juga terasa baru untuk saya. Saat saya pikir sudah tidak ada lagi gunung yang tersisa untuk dipanjat, saya menemukan sebuah puncak baru.”

Memenuhi Kebutuhan Sehari-hari

Ia pun mulai berlatih MMA, tetapi ada satu masalah baru. Uang.

“Hal itu merupakan bagian tersulit. Saya ingin terus berlatih, tetapi saya membutuhkan uang untuk membayar biayanya,” tambahnya.

“Jadi saya mulai menjadi pelayan, awalnya di stand jajanan, kemudian di restoran ayam goreng,” katanya.

Pada hari kerja, ia melayani pesanan di sebuah tempat makan bernama tteok-bokki (kue nasi goreng pedas) sebelum ia menghabiskan akhir pekannya bekerja di tempat makan lain.

Itu artinya, ia harus berlatih di malam hari, dan menjalani hari yang panjang dan melelahkan.

“Saya benar-benar kelelahan, secara fisik dan mental, pada saat saya sampai di sasana setelah bekerja,” katanya.

“Tetapi saya bertekad untuk terus latihan. Tak ada kompromi.”

Dedikasinya terbayar ketika ia terbang ke Jepang untuk melakoni debut MMA di usianya yang baru menginjak 19-tahun untuk menghadapi Hirotaka Miyakwa – seorang atlet dengan torehan 19 laga profesional. Kwon Won Il mengalahkannya dalam waktu 36 detik.

Langkah Selanjutnya

"Pretty Boy" Kwon Won Il stuns the home crowd with a BEAUTIFUL knockout of Filipino hero Eric Kelly at 0:19 of Round 1!

"Pretty Boy" Kwon Won Il stuns the home crowd with a BEAUTIFUL knockout of Filipino hero Eric Kelly at 0:19 of Round 1!Watch the full event on the ONE Super App ???? http://bit.ly/ONESuperApp | TV: Check local listings for global broadcast

Posted by ONE Championship on Friday, April 12, 2019

Walaupun Kwon Won Il telah menciptakan awalan yang sukses, ia mengalami kesulitan untuk berkompetisi. Meski sukses memenangkan tujuh laga, ia merasa frustrasi karena untuk meraih itu semua, ia harus membutuhkan waktu selama 4,5 tahun.

Untungnya, bakat miliknya tercium oleh ONE Championship, dan kini ia telah mencetak dua kemenangan KO di ronde pertama di tiga laga perdananya bersama organisasi seni bela diri terbesar di dunia ini.

Pukulan kanan dengan kecepatan luar biasa miliknya menetralisir Anthony “The Archangel” Engelen dalam 67 detik dalam laga promosi debutnya bulan Januari lalu.

Pada bulan April, Eric “The Natural” Kelly, bertahan hanya 19 detik di dalam arena ketika bersua “Pretty Boy”.

Saat ini, perwakilan Extreme Combat dan Top Gym BF tengah mempersiapkan diri untuk menyambut kemenangan ketiganya di panggung dunia demi berada lebih dekat dengan impiannya meraih kemenangan terbesar dalam kariri bela dirinya.

“Bagi saya, ONE Championship adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Saya ingin berkompetisi di panggung bessar, dan ada banyak yang hal yang ingin saya capai di sini,” tutur Kwon Won Il.

“Saya ingin kembali ke Korea suatu hari nanti dengan mengenakan sabuk Juara Dunia.”