‘Tidak Saat Saya Masih Juara’ – Regian Eersel Redam Ambisi Nabil Anane Rebut Banyak Gelar
Juara Dunia ONE 10 kali, Regian “The Immortal” Eersel, tetap menjadi batas antara mimpi dan realitas di divisi lightweight.
Mantan Juara Dunia ONE Lightweight Kickboxing yang lama berkuasa sekaligus raja lightweight Muay Thai saat ini itu telah menjelma menjadi tolok ukur di kelas tersebut. Siapa pun yang ingin mencapai puncak divisi harus melewati dirinya.
Termasuk Juara Dunia ONE Bantamweight Muay Thai tak terbantahkan, Nabil Anane.
Di tengah persiapannya mempertahankan gelar melawan Rambolek Chor Ajalaboon di ONE Friday Fights 147 pada 20 Maret, bintang Aljazair-Thailand itu secara terbuka menyatakan ambisinya menjadi Juara Dunia ONE tiga divisi di dua disiplin berbeda — membidik total enam sabuk dari bantamweight hingga lightweight.
Menanggapi hal tersebut, Eersel berkata:
“Pertama-tama, dia menyebut nama saya di media dan bilang ingin melawan saya. Saya kira mungkin dalam beberapa bulan, bukan dua atau tiga tahun. Tapi kemudian di wawancara lain dia bilang butuh dua atau tiga tahun. Saya di sini, jadi saya tunggu saja.”
Meski baru berusia 21 tahun, perjalanan Anane terus menanjak.
Setelah kalah di debutnya di flyweight, ia bangkit dengan dua kemenangan sebelum naik ke bantamweight. Di sana, ia tak terkalahkan dalam enam penampilan Muay Thai dan kickboxing, merebut gelar interim Muay Thai sebelum akhirnya dipromosikan menjadi juara tak terbantahkan.
Terbaru, ia naik ke featherweight kickboxing dan tampil dominan atas mantan Juara K-1 Hiromi Wajima di ONE 173: Superbon vs. Noiri.
Namun Eersel tak sepenuhnya terkesan dengan wacana tersebut.
“The Immortal” menegaskan:
“Dia pasti punya potensi, tapi tidak saat saya masih juara. Saya harus pergi dulu. Setelah itu, ya, dia pasti punya potensi jadi Juara Dunia tiga divisi.”
Potensi duel antara keduanya menarik perhatian fan global ONE Championship, mengingat dominasi yang telah mereka tunjukkan di masing-masing teritori. Secara kolektif, Eersel dan Anane mencatatkan 22 kemenangan tanpa kekalahan dari total 24 penampilan gabungan mereka di ONE.
Banyak pengamat juga membandingkan keunggulan fisik keduanya, dengan tinggi Eersel 189 sentimeter hanya 6 sentimeter lebih pendek dari Anane.
Namun menurut Eersel, postur tinggi menjulang mereka bukanlah segalanya:
“Tinggi dan jangkauan bukan senjata paling berbahaya. Pertama, kamu harus tahu bagaimana menggunakan jangkauan dan bagaimana bergerak sebagai petarung tinggi. Kamu harus tahu bertarung jarak jauh dan jarak dekat.
“Banyak petarung tinggi yang tidak bisa bertarung di jarak dekat. Mereka mendekat dan tidak tahu harus berbuat apa. Saya rasa Nabil dan saya termasuk sedikit petarung tinggi yang bisa bertarung di jarak dekat.”
Eersel Tanggapi Potensi Naiknya Nico Carrillo Ke Lightweight
Sambil menunggu penantang berikutnya di lightweight, Eersel juga mencermati para Juara Dunia ONE di divisi lain yang berpotensi menjajal kelasnya.
Salah satu nama yang mencuat adalah Nico “King of the North” Carrillo, yang baru saja tampil dominan mengalahkan Shadow Mavinn untuk merebut Gelar Dunia ONE Interim Featherweight Muay Thai di ONE Fight Night 40.
Sebelum menyabet sabuk interim, Carrillo membabat habis divisi bantamweight dengan empat finis. Ia sempat kalah dalam perebutan gelar interim Muay Thai melawan Nabil Anane sebelum naik kelas.
Di featherweight, ia kembali menemukan momentum dengan menghentikan Juara Dunia Muay Thai dan Kickboxing tujuh kali, Sitthichai Sitsongpeenong, serta menghabisi teknisi Amerika, Luke Lessei.
Meski demikian, Carrillo menepis kemungkinan naik satu kelas lagi saat ditanya dalam sesi media pasca-pertandingan.
Untuk saat ini, fokus petarung Skotlandia itu adalah menyatukan sabuk featherweight melawan Juara Dunia ONE Featherweight Muay Thai Tawanchai PK Saenchai, yang tengah menepi akibat cedera kaki.
Eersel sendiri mengakui potensi Carrillo, namun tak mau terburu-buru membuka pintu:
“Ya, saya suka itu. Dia petarung bagus. Dia sudah naik satu kelas, jadi tidak mengejutkan kalau dia bilang tidak. Naik dua kelas mungkin terlalu berat untuknya – tapi ya, kita lihat saja nanti.”